Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko

BRIN Kembangkan Insinerator Kelola Limbah Medis

Rabu, 28 Juli 2021 | 20:53 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan, BRIN telah mengembangkan insenator berskala kecil untuk mengelola limbah medis di masyarakat.

“Penambahan jumlah dan volume limbah medis yang semakin meningkat belum diimbangi kapasitas pengolahan limbah memadai. BRIN berupaya memanfaatkan teknologi pengolah limbah dan teknologi daur ulang untuk memenuhi peningkatan kebutuhan pengolahan limbah,” kata Laksana saat memberikan keterangan pers secara virtual usai  rapat terbatas Kabinet Indonesia Maju tentang pengelolaan limbah berbahan bahaya dan beracun (B3) medis Covid-19 yang dipimpin  Presiden Joko Widodo melalui konferensi video, pada Rabu (28/7/2021). 

Ia mengatakan, BRIN telah mengembangkan teknologi yang sudah proven untuk membantu menanggulangi pengelolaan  limbah medis  dalam skala  lebih kecil dan mobile.

Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat menjangkau daerah-daerah yang berpenduduk relatif sedikit dengan skala limbah yang juga tidak banyak. Selain itu, teknologi itu juga diyakini lebih hemat dibandingkan membuat insinerator terpusat dalam skala besar.

“Kalau kita harus membangun insinerator besar itu tentu akan jauh lebih mahal dan juga menimbulkan masalah terkait dengan pengumpulan, karena pengumpulan dari limbah ke insinerator yang terpusat juga menimbulkan biaya tersendiri,” kata Laksana.

Selain itu, lanjutnya, BRIN juga telah mengusulkan penggunaan teknologi daur ulang limbah medis yang berpotensi memunculkan nilai tambah secara ekonomi. Cara ini diyakini akan meningkatkan kepatuhan fasilitas kesehatan yang menghasilkan limbah karena ada insentif finansial dari bisnis daur ulang sehingga berpotensi mengurangi biaya pengelolaan limbah secara keseluruhan.

"Kami menyampaikan contoh itu adalah alat penghancur jarum suntik yang bisa menghasilkan residu berupa stainless steel murni, dan juga daur ulang untuk APD (alat pelindung diri) dan masker yang bahannya adalah polypropylene, sehingga kita bisa peroleh propylene murni (PP), jenis plastik propylene murni yang nilai ekonominya juga cukup tinggi," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Laksana  juga mengungkapkan bahwa saat ini sarana pengelolaan limbah medis tidak sebanding dengan penambahan volume limbah medis yang semakin meningkat. Misalnya, saat ini baru 4,1% dari seluruh rumah sakit di Indonesia yang memiliki fasilitas insinerator yang berizin.

"Kemudian juga di seluruh Indonesia baru ada 20 pelaku usaha pengelolaan limbah dan yang terpenting adalah—seperti yang disampaikan Ibu Menteri LHK—hampir semuanya masih terpusat di Pulau Jawa. Jadi distribusinya belum merata," jelasnya.

Ia  berharap inovasi teknologi ini dapat meningkatkan motivasi untuk mengumpulkan dan mengolah limbah, meningkatkan kepatuhan, dan menciptakan potensi bisnis baru bagi para pelaku usaha skala kecil.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN