Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSN), Komjen Pol. Dharma Pongrekun saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan bagi Generasi Muda, di Gereja Bethel Indonesia, Pekanbaru, Riau, Sabtu (26/10/2019).

Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSN), Komjen Pol. Dharma Pongrekun saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan bagi Generasi Muda, di Gereja Bethel Indonesia, Pekanbaru, Riau, Sabtu (26/10/2019).

BSSN: Jaga Pancasila, UUD 1945, dan Kebinekaan di Era Keterbukaan dan Sistem Global

Gora Kunjana, Minggu, 27 Oktober 2019 | 13:34 WIB

PEKANBARU, investor.id – Di era keterbukaan dan sistem global, Negara harus hadir untuk mengantisipasi dan siap bahu-membahu bersama seluruh rakyat Indonesia menghadapi segala dampak negatif dari sistem globalisasi.

Langkah dalam menghadapi ancaman dari sistem globalisasi suatu negara adalah dengan memperkuat ketahanan nasional dengan kembali kepada Pancasila, UUD 1945 dan menjaga keutuhan bangsa atau Kebinekaan.

Demikian dikemukakan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol. Dharma Pongrekun saat menjadi pembicara dalam Seminar Kebangsaan bagi Generasi Muda, di Gereja Bethel Indonesia, Pekanbaru, Riau, Sabtu (26/10/2019).

Tujuan digelarnya seminar kebangsaan ini adalah untuk membangun semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2019. Kegiatan ini dihadiri oleh Kapolda Riau Irjen. Pol. Agung Stya Imam Mahdi dengan diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai elemen masyarakat, akademisi, mahasiswa dan perwakilan organisasi masyarakat.

Pada seminar kali ini Wakil Kepala BSSN menyampaikan paparan mengenai ‘’Tantangan Generasi Muda Menghadapi Era Keterbukaan dan Goncangan ‘Global”.

Dalam paparannya Dharma Pongrekun menjelaskan bagaimana pengaruh kemajuan dari teknologi yang memasuki era keterbukaan dan arus globalisasi telah membawa bangsa, ke dalam sistem dunia yang lebih besar dan tidak terbatas.

Menurut dia, globalisasi menjadi alat untuk mengkoneksi secara global seluruh aspek meliputi ekonomi, sosial, budaya dan politik yang membuat setiap orang mampu mengakses informasi baik dalam bentuk gambar, tulisan, maupun video secara bebas dan tanpa batas.

Dharma menjelaskan, globalisasi memiliki tiga program besar, yaitu money, power dan control. Program money, sudah sukses dengan bersatunya sistem ekonomi seluruh dunia. Program power, masuknya sistem global ke dalam sistem dan struktur pemerintahan di seluruh dunia, yang ketiga, program control, hampir seluruh manusia di dunia dikendalikan pola kehidupannya melalui kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Dharma memaparkan, rekayasa kehidupan (life engineering) tersebut, dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) sejak dunia diciptakan. Di era modern, lanjut dia, rekayasa kehidupan dilakukan melalui fase-fase revolusi industri, yang akhirnya bermuara pada bertemunya teknologi informasi dan teknologi komunikasi melalui internet sekitar 20-30 tahun lalu. Sejak itulah globalisasi menjadi gelombang yang sangat dahsyat yang sepertinya tidak bisa dihindari. Saat ini seluruh aspek kehidupan manusia terhubung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi,

“Sekarang ini sarana TIK yang begitu masif dipakai manusia sehari-hari adalah smartphone. Alat ini memang didesain menyajikan kecepatan dan kemudahan sehingga diterima manusia secara luas. Secara natural, manusia memang menyukai hal yang praktis sehingga alat ini diterima secara masif. Namun, di dalam alat disisipi aplikasi-aplikasi yang memiliki kemewahan, pornografi dan candu,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan, di balik segala kemudahan teknologi informasi yang ada, kemajuan teknologi juga memiliki risiko dan ancaman. Teknologi tersebut juga digunakan oleh berbagai Negara untuk memenangkan persaingan global.

Di titik itulah, perang sebagai bentuk puncak persaingan antar negara turut berevolusi. Peperangan kini tidak hanya terkait dengan kontak fisik dengan senjata konvensional, peperangan kini telah berkembang menjadi perang siber atau informasi yang berbasis pada pengunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Serangan siber kini telah berkembang sampai pada tahap mampu melumpuhkan sebagian atau seluruh siber nasional karena sifatnya yang mengancam jiwa manusia, kestabilan ekonomi, politik, sosial budaya dan kedaulatan Negara sehingga dapat membuat Indonesia mengalami krisis siber.

“Di sinilah negara harus hadir untuk mengantisipasi dan siap bahu-membahu bersama seluruh rakyat Indonesia menghadapi segala dampak negatif dari sistem globalisasi. Langkah dalam menghadapi ancaman dari sistem globalisasi suatu negara adalah dengan memperkuat ketahanan nasional dengan kembali kepada Pancasila, UUD 1945 dan Kebinekaan yang harus di jaga keutuhannya,” tandasnya.

Menutup paparannya, Wakil Kepala BSSN mengajak semua generasi muda agar kembali kepada jati diri sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang maha kuasa.

“Hanya dengan mendekatkan diri kepada tuhan dapat menetralisir segala dampak negatif dari sistem globalisasi dan menyelamatkan diri kita sendiri dan tanah air kita dari proses kehancuran kehidupan secara global,” pungkasnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA