Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi mahasiswa. Sumber: signazon,com

Ilustrasi mahasiswa. Sumber: signazon,com

Ditjen Dikti Siapkan Kuota Gratis untuk Mahasiswa Tidak Mampu

Senin, 10 Agustus 2020 | 15:41 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id -Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud menyediakan kuota internet gratis bagi mahasiswa yang tidak mampu selama menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk tahun ajaran 2020/2021.

Dirjen Dikti, Paristiyanti Nurwardani mengatakan, kuota gratis ini belum dapat menjangkau seluruh mahasiswa yang saat berjumlah delapan juta orang. Untuk itu, pemerintah akan fokus membantu mahasiswa berprestasi dan kurang mampu berdasarkan amanah Undang-Undang Pendidikan Tinggi.

Paris menyebutkan, pemerintah menyediakan kuota internet gratis untuk dua juta mahasiswa atau 25 persen mahasiswa dari total 8.043.480 mahasiswa terdaftar. Dengan begitu, prioritas penerima akan fokus pada mahasiswa yang saat pemegang Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), KIP-K Plus, serta mahasiswa dengan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) di grade dua dan tiga.

“25 persen mahasiswa diupayakan dapat kuota internet saat tahun ajaran 2020/2021 dengan kriteria, mahasiswa berprestasi dan kurang mampu. Misalnya, mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah,red) KIP-K Plus dan mahasiswa yang akan menyelesaikan studi yakni semester 9, 11, 13 dan 15, serta mahasiswa yang orangtuanya terdapat Covid-19 sesuai prioritas,” kata Paris dalam keterangan yang diterima SP, Minggu (9/8/2020).

Berdasarkan data Kemendikbud, untuk 2020, total penerima beasiswa KIP K Plus sebanyak 419.605 mahasiswa, KIP-K ada 200.000 mahasiswa baru. serta KIP Kuliah Ongoing atau Bidikmisi sebanyak 267.312 mahasiswa.

Paris menuturkan, untuk mengakomodasi 25 persen mahasiswa ini, Ditjen Dikti membeli kuota dalam jumlah banyak. Setiap mahasiswa dapat mengambil kuota sesuai jatahnya. Dalam hal ini, untuk perguruan tinggi pada umumnya masing-masing mahasiswa mendapat kuota 20 giga byte (GB) per bulan. Namun, khusus untuk perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN BH) masing-masing mahasiswa membutuhkan 50 GB per bulan.

“Jadi Ditjen Dikti akan membeli bulk (jumlah besar, red) paket kuota, kemudian masing-masing mahasiswa itu akan mengambil kuota dari sana sesuai dengan keperluan dan maksimal sesuai dengan ditetapkan,” kata Paris

Ada pun skema penyalurannya ini, Ditjen Dikti akan bekerja sama dengan tiga provider yang paling banyak dipakai mahasiswa. Dengan demikian, masing-masing mahasiswa tidak perlu mengganti nomor baru, nanti mengambil sesuai dengan jatahnya.

Paris menuturkan, sebenarnya Kemendikbud ingin memperjuangkan bantuan kuota internet untuk seluruh mahasiswa. Bahkan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim akan membicarakan dengan Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat.

Sembari menunggu keputusan, Kemendikbud saat ini sedang bernegosiasi dengan sejumlah pihak agar seluruh mahasiswa Indonesia dapat mendapat keringanan untuk kuota internet bagi seluruh mahasiswa.

“Ini sedang diupayakan kuota internet untuk seluruh mahasiswa. Tapi kan , kita juga tahu keuangan negara seperti apa. Tapi saya melihat Mas Menteri (Nadiem Makarim,red) sangat semangat untuk menyelamatkan delapan juta mahasiswa ini, agar bisa melakukan pendidikan jarak jauh,” kata Paris.

Paris menuturkan, saat ini Ditjen Dikti sedang bernegosiasi dengan sejumlah provider untuk menurunkan harga per giga byte (GB). Saat ini PT Telkom telah setuju untuk menurunkan harga dengan rata- rata Rp 1.000 per satu GB. Namun, apabila harga ini masih dirasakan terlalu mahal oleh mahasiswa, pihak Ditjen Dikti akan kembali berkomunikasi.

Adapun tujuannya, agar semua pihak bergotong royong membantu mahasiswa pada situasi pandemi ini. Menurut Paris, kesepakatan dengan PT Telkom ini dapat memberi angin segar, ia meyakini provider lain akan melakukan hal sama jika tidak ingin ditinggalkan oleh mahasiswa.

Sementara untuk mahasiswa yang berada di remote area berdasarkan definisi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T), pihaknya memperoleh data ada 6,3 persen perguruan tinggi (PT) yang berada di daerah tersebut. Artinya ada 284 perguruan tinggi yang harus dibantu agar mahasiswa tetap belajar. Pasalnya, total mahasiswa berada di 284 PT tersebut ada 124.000 mahasiswa.

Paris menuturkan, pemerintah akan membangun jaringan melalui base transceiver station (BTS) mobile serta pengadaan komputer tablet. Namun, untuk tahap pertama akan lebih memprioritaskan wilayah Papua.

“Karena sekarang ini wilayah Papua membutuhkan pertolongan kita semua, dan itu diminta oleh Pak Presiden untuk memperhatikan Papua. Mungkin Papua akan mendapatkan BTS dan komputer tablet lebih banyak daripada yang lain. Karena wilayahnya juga sangat luas,” ujarnya.

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

Sumber : Suara Pembaruan

BAGIKAN