Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani merawat tanaman  di lahan pertanian sayur di Pamulang, Tangerang Selatan, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petani merawat tanaman di lahan pertanian sayur di Pamulang, Tangerang Selatan, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ekonom Senior Apresiasi Pertumbuhan Sektor Pertanian di Masa Pandemi

Kamis, 29 Juli 2021 | 16:51 WIB

JAKARTA, investor.id - Ekonom senior yang juga sekaligus mantan Menko Ekuin dan Menko Kemaritiman Rizal Ramli mengapresiasi pertumbuhan sektor pertanian di tengah pandemi Covid 19.

Menurutnya, sektor pertanian terbukti mampu membuka peluang kerja bagi jutaan orang yang terdampak PHK.

"Saya mendengar ada 3 juta petani baru yang masuk saat pandemi ini. Saya kira ini luar biasa dan saya percaya sektor pertanian selalu bertahan dari gejolak disaat industri lain rontok, hotel payah dan yang lain juga payah. Akhirnya banyak profesional pulang kampung dan mereka jadi petani," ujar Rizal Ramli, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Kamis (29/).

Rizal mengatakan, kehadiran petani baru merupakan angin segar sekaligus potensi besar bagi Indonesia untuk menciptakan berbagai peluang usaha. Apalagi, petani muda dikenal inovatif, kreatif dan punya pengalaman yang cukup panjang.

"Mudah-mudah mereka bisa survive karena mereka adalah orang orang berpengalaman," katanya.

Meski demikian, Rizal meminta pemerintah segera membuat strategi besar dalam menjwab berbagai tantangan jaman demi mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat pangan.

"Intinya Indonesia harus jadi mangkok pangan Asia. Kenapa? Kita patut bersyukur karena kita memiliki matahari paling lama sepanjang tahun. Kita juga bersyukur rakyat kita ingin bekerja. Nah dalam kaitan ini Indonesia harus bisa jadi mangkok pangan Asia," katanya.

Sementara itu, Mantan Menteri era Orde Baru Emil Salim menambahkan bahwa peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi penting dalam membangun sektor pertanian masa depan. NTP merupakan ukuran berapa biaya masuk dan berapa biaya yang dikeluarkan dari hasil kegiatan olah tanam.

"Fokus Kementan harus meningkatkan kesejahteraan petani melalui NTP di atas 100. Saya melihat NTP perkebunan sudah diatas 130, sehingga menarik untuk berinvestasi. Maka tugas Kemtan adalah menghilangkan hambatan yang menyebabkan tingginya biaya bagi petani di lapangan," katanya.

Emil menjelaskan, pemerintah merupakan instrumen kuat yang masih dipercaya rakyat dalam membela petani. Karena itu, pembelaan itu wajib dubuktikan dengan ketersediaan pupuk dan mendorong pengembangan pupuk organik.

"Siapa yang mau bela petani, kalau bukan Kemtan. Maka itu, jika pupuk terlambat, bisakah kita membuat pupuk sendiri dari kandang. Saya bilang para produsen pangan harus menjdi bintang, terlebih diaaat pandemi Covid-19," katanya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), NTP pada bulan Juni 2021 mencapai 103,58 atau naik sebesar 0,19 persen (MtoM). Sebelumnya kurva NTP pada bulan Okteber 2020 juga naik di atas 100, di mana NTP Oktober mencapai 102,25, kemudian pada bulan berikutnya, yakni November mencapai 102,86, Desember 103,25, Januari 103,26, Februari 103,10, Maret 103,29, April 102,93 dan bulan Mei tahun ini mencapai 103,29 atau naik sebesar 0,44 persen.

Wamentan Harvick Hasnul Qolbi mengatakan bahwa sektor pertanian selama ini terus melakukan perbaikan menuju pertanian yang maju, mandiri dan modern. Perbaikan itu meliputi sisi hulu maupun hilir. Di antaranya membuka peluang usaha serta akses data bagi petani Indonesia dalam memenihi kebutuhan pupuk.

"Kita sudah melakukan berbagai upaya dimana pertanian selalu menjadi tulang punggung. Misalnya pengadaan pupuk subsidi selalu menjadi kendala serius. Namun alhamdulilah sekarang mulai menunjukan perkembangannya," katanya.

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN