Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.

Epidemiolog: Banyak Kasus Covid-19 Tak Terdeteksi Terjadi di Rumah

Jumat, 14 Mei 2021 | 23:24 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id   - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman menyatakan, banyak kasus Covid-19 yang tidak terdeteksi di Indonesia terjadi di rumah-rumah. Untuk itu, dia mendesak pemerintah mengubah strategi pelacakan kasus dengan model active case finding yaitu program penjangkauan kasus-kasus aktif.

“Mereka sakit di rumah, meninggal di rumah, ya sudah begitu saja yang terjadi selama ini. Jadi tidak tercatat sebagai penambahan kasus harian Covid-19,” kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (14/5/2021).

Dicky mengatakan mayoritas penduduk tidak pergi ke fasilitas kesehatan (faskes) saat sakit termasuk ketika mengalami gejala Covid-19. Mereka memilih diam di rumah dan melakukan perawatan sendiri. Menurutnya, hal senada juga terjadi di India yang awalnya merasa aman, tapi akhirnya angka kasus bisa mendadak melonjak tinggi.

Dicky menyebut situasinya semakin sulit ditebak karena jumlah tes harian Covid-19 di Indonesia masih tergolong sangat rendah.

“Jadi 80% masyarakat bisa dikatakan mengobati sendiri, ini yang harus dijangkau. Kalau tidak, angka penularan bisa meledak tanpa terdeteksi,” katanya.

Menurutnya, kasus Covid-19 di Indonesia seperti fenomena gunung es. Artinya, peningkatan kasus Covid-19 pasca Lebaran bukan hanya disebabkan satu peristiwa saja, melainkan akumulasi dari berbagai peristiwa.

“Ini semua akumulasi, bukan hanya setelah mudik, tapi juga Pilkada dan liburan panjang sebelumnya,” ujarnya.

Dicky menyebut Australia bisa menikmati pembukaan aktivitas masyarakat karena buah keberhasilan, upaya panjang, dan konsistensi.

Sebaliknya, dia menilai Indonesia belum menerapkan strategi memadai termasuk dalam pengetatan mudik yang terjadi banyak kebocoran sehingga semakin memperburuk pandemi.

Dicky menambahkan Indonesia rata-rata mengalami peningkatan kasus Covid-19 setiap bulan sekitar 10-20%. Jika libur panjang, angka kasus aktif bisa naik 90% dengan kenaikan angka kematian 60-70%.

“Apalagi saat ini dengan adanya varian baru, dampaknya pasti sangat besar. Bicara dalam konteks Indonesia, yang terjadi baru puncak gunung es karena banyaknya orang di rumah yang tidak datang ke fasilitas kesehatan. Ini yang berbahaya,” lanjutnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN