Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.

Epidemiolog: Kasus Covid-19 di Indonesia Masih Gelombang Pertama

Minggu, 13 Juni 2021 | 14:49 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengatakan peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia pasca Lebaran ini masih dalam gelombang pertama yang kemungkinan akan menjadi puncak kasus untuk menandai gelombang pertama. 

“Gelombang pertama sudah lebih dari setahun dan ini  akan mengalami puncak dengan banyak kasusnya dengan potensi  puncak dicapai akhir  Juni  dan sampai awal Juli,” kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Minggu (13/6/2021).

Ia menyebutkan, penyebab puncak ini bukan arus balik pasca Lebaran tetapi akumulasi dari kasus-kasus yang terjadi  di Indonesia. Terlihat dari penularan di masyarakat yang belum  berhenti dengan sendirinya.

Dikatakan Dicky, penyakit Covid-19 ini berkembang dengan pola eksponensial. Sayangnya, intervensi  testing, tracing yang berlanjut isolasi  dan karantina belum dilakukan dengan memadai.

“Itulah  sebabnya kenapa dalam setahun terakhir kita dikategorikan dalam negara dengan level penularan  pada komunitas. Yang artinya memang penularan  itu terjadi masyarakat  dan  mayoritas penularan dan infeksinya dan sumber infeksi atau klasternya tidak bisa kita deteksi,” ucapnya.

Menurut Dicky, sulitnya mendeteksi kasus di masyarakat menyebabkan gelombang pertama berlangsung sangat  lama.  Peningkatan kasus terjadi saat ada Pemilu, libur panjang tahun baru, dan menjelang Lebaran tahun  ini yang diprediksi mencapai 50.000-100.000 kasus  untuk menetapkan puncak.  Sayangnya hal tersebut sulit diprediksi karena testing terbatas  dan mayoritas  testing  yang dilakukan kepada yang  bergejala  yang  datang ke fasilitas kesehatan.

“Itu  akhirnya menjelaskan  kenapa kita ketika terjadi puncak  belum tentu kita  melihat kasus itu  mencapai 100.000 misalnya  atau lebih 50.000 karena testing  kita sangat rendah. Namun potensi  ini bisa saja karena terpaksa  maksudnya  puncak terjadi karena bukan tergantung pada testing tetap kasus tidak terdeteksi akan menyebabkan  potensi kasus yang besar yang akan membebani layanan kesehatan,” ucapnya.

Menurut Dicky, kondisi di Indonesia sangat mirip dengan India yang pola penyebaran senyap dan tidak terlihat karena tidak terdeteksi kasus. Selain itu, masyarakat masih cenderung melakukan pengobatan mandiri ketika sakit.

Sementara sistem testing di negara berkembang pada umumnya dilakukan ketika masyarakat datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan saat sudah bergejala. Sedangkan yang tidak bergejala tidak terdeteksi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN