Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman.

Epidemiolog Usulkan 7 Strategi Penanganan Lonjakan Kasus Covid-19

Jumat, 14 Mei 2021 | 23:59 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id  - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mendesak pemerintah menyiapkan skenario terburuk untuk mengantisipasi potensi ledakan kasus Covid-19 pascalibur Lebaran. Dicky mengusulkan 7 strategi untuk menangani penambahan kasus Covid-19 yang sebenarnya bukan hanya dipicu oleh mudik Lebaran, tetapi akumulasi dari kondisi dan kebijakan terdahulu.

“Potensi ledakan, penambahan kasus sudah bisa dipastikan. Itu hukum biologi karena kita belum level terkendali. Intervensi kita masih jauh dari memadai,” kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (14/5/2021).

Dicky mengatakan penularan Covid-19 di Indonesia sejak April 2020 berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berada dalam tahap terburuk yaitu community transmission (penularan masyarakat). Artinya, kondisi penularan Covid-19 di Indonesia belum mengalami perubahan apapun meskipun pandemi sudah berlangsung lebih dari satu tahun.

“Kita gagal mendeteksi sebagian besar kasus infeksi atau sumber infeksi, klaster-klaster terjadi tanpa bisa kita ketahui, apalagi kita selesaikan atau kendalikan,” ujar Dicky.

Dicky mengatakan 7 skenario kunci untuk penguatan respons Covid-19 pasca mudik Lebaran 2021 yaitu pertama, respons cepat, kuat, dan terukur, bersiap dengan skenario terburuk jauh lebih baik dibandingkan pasif dan percaya diri berlebihan. Kedua, strategi komunikasi risiko dibangun dan dijaga kualitasnya untuk membangun perspesi risiko yang sama semua pihak.

Ketiga, penguatan surveillence, fasilitas kesehatan (faskes), komunitas, dan genome sequence. Keempat, penguatan sistem rujukan, layanan faskes, ketersediaan alat kesehatan, dan sumber daya manusia. Kelima, akselerasi vaksinasi terhadap kelompok lanjut usia dan komorbid.

Keenam, literasi kenormalan baru yang mendukung 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas). Ketujuh, penyiapan opsi pembatasan sosial berskala besar (atau PPKM Mikro) untuk Jawa, Bali, dan luar Jawa terpilih.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN