Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Hipertensi Bisa Picu Disfungsi Ereksi

Gora Kunjana, Senin, 30 Mei 2016 | 01:58 WIB

Tidak hanya menyebabkan kematian, hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke, demensia, gagal ginjal, dan jantung. Bahkan hipertensi telah terbukti juga memicu disfungsi ereksi (DE). DE merupakan masalah yang menakutkan bagi pria dewasa, terutama karena dapat menyebabkan ketidakharmonisan hubungan dengan pasangan dan dalam jangka panjang akan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

 

Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) Dr dr Yuda Turana SpS mengatakan, di tingkat nasional, dari keseluruhan jumlah pasien hipertensi yang sebanyak 25,8% (Data Riskerdas 2013), lebih dari 60% pasien tidak sadar mereka menderita hipertensi dan lebih dari 80% di antaranya tidak melakukan kontrol terhadap tekanan darah mereka.

 

Seperti diketahui, penyakit hipertensi jarang sekali merupakan penyakit tunggal. Lebih dari 80% penyakit ini komorbid dengan penyakit lain, seperti hiperlipidemia dan diabetes. Sebagian besar penderita hipertensi datang ke fasilitas kesehatan sudah dengan komplikasinya sehingga menyebabkan beban ekonomi bagi penderita dan keluarganya.

 

“Hipertensi merupakan penyakit yang dapat dicegah oleh karena itu dibutuhkan kepedulian dan dukungan masyarakat terhadap penyakit ini. Peringatan World Hypertension Day 2016 dengan tema ‘know your blood pressure’, mencoba mengingatkan kita kembali untuk mendeteksi dini hipertensi sebelum komplikasinya datang,” ungkap dia, di Jakarta, belum lama ini.

 

Ahli ginjal hipertensi dr Tunggul D Situmorang SpPD-KGH mengungkapkan, hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan arteriosclerosis yaitu penebalan dan pengerasan dinding pembuluh darah termasuk pembuluh darah yang berperan pada proses ereksi.

 

Sebelum terjadinya arteriosclerotis secara nyata sebenarnya sudah terjadi proses gangguan/kerusakan endotel pembuluh darah tersebut yang disebut endothelial dysfunction. Proses ini menyebabkan perubahan fungsi dan perubahan struktur pembuluh darah (vasculophathy) dan hal inilah yang menyebabkan gangguan DE.

 

Dr unggul menjelaskan, mekanisme terjadinya DE sangat kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk usia, perokok, kelebihan berat badan dan kadar lemak yang tinggi (kadar kolesterol/triglyceride yang tinggi). Namun di lain pihak, sebagian golongan OAH antara lain diuretic dan beta blocker "dicurigai" ikut serta menimbulkan gangguan fungsi seksual walaupun belum ada bukti yang sangat jelas.

 

“Untuk menghindarinya maka dipilih OAH golongan lain, yakni ACE inhibitor, Calsium Channel Blocker (CCB) atau Aldosterone Receptor Blocker (ARB),” ujar dokter yang juga ahli Nefrologi ini,” ujar dia.

 

Angka kejadian hipertensi pada DE dapat dikatakan cukup besar. Di dalam penelitian Giuliano et al (2004) yang mensurvei 7.689 pasien (umur responden 59 tahun) dengan menggunakan kuisioner Sexual Health Inventory in Men, dari 3.906 responden yang menderita hipertensi (tidak diabetes) terdapat 67% responden yang terserang DE. Sedangkan penelitian lainnya, Doumas et al (2006) yang meneliti pasien hipertensi di Yunani, sebanyak 35,2% terserang DE berkaitan

dengan umur, jangka waktu terserang hipertensi dan penggunaan obat hipertensi. Penelitian juga dilakukan oleh Mittawae etal (2006) dengan cara mengevaluasi fungsi seksual dari 800 pasien hipertensi di Mesir, dan ditemukan sebanyak 43,2% terserang DE

 

Untuk mencegah DE pada hipertensi, dr Tunggul menyarankan untuk mengendalikan tekanan darah secara baik (mencapai target) dan jangka panjang termasuk mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada serta penyakit-penyakit penyerta lainnya (co-morbid disease). Kemudian, pilihlah obat-obat antihipertensi yang aman dan tidak berisiko terjadinya DE. Di samping itu, life style modification juga harus disesuaikan.

 

Sementara itu, dr Yuda mengimbau pasien hipertensi untuk melakukan pola hidup sehat, melakukan kontrol tekanan darah, membatasi penggunaan garam, mengonsumsi obat-obatan secara teratur, sesuai petunjuk dokter dan melakukan berbagai upaya yang menopang prinsip pengobatan capai target. Olahraga dengan intensitas moderat sangat berperan dalam membantu mencegah dan menurunkan hipertensi.

 

Pada kebanyakan orang sehat, olahraga jalan kaki moderat 2 jam 30 menit per minggu sudah dapat mencegah hipertensi. Namun, bila sudah menderita hipertensi atau kolesterol sangat dianjurkan jalan kaki 40 menit sebanyak 3-4 kali per minggu. Sedangkan bila hipertensi tidak terkontrol, sebaiknya hindari olahraga yang cukup berat, setidaknya sampai tekanan darah terkontrol dengan obat sebelumnya.

 

“Masyarakat sangat berperan penting dalam upaya melawan penyakit hipertensi dengan cara menjalankan pola hidup sehat, minum obat secara teratur, dan memeriksa tekanan darah secara rutin,” ujar dr Yuda. (iin)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA