Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Arissetyanto  Nugroho (paling kanan) bersama anggota IKAL PPSA XXI

Arissetyanto Nugroho (paling kanan) bersama anggota IKAL PPSA XXI

IKA Lemhannas PPSA XXI Dukung Arissetyanto Nugroho Jabat Rektor UI

Gora Kunjana, Rabu, 14 Agustus 2019 | 14:39 WIB

JAKARTA, investor.id - Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas PPSA XXI (IKAL PPSA XXI) mendukung Dr Ir Arissetyanto Nugroho MM menjadi Rektor Universitas Indonesia (UI). Pemilihan rektor perguruan tinggi di seluruh Indonesia saat ini merupakan seleksi yang strategis demi masa depan Indonesia. Selain kualifikasi pendidikan, Indonesia saat ini membutuhkan rektor yang memenuhi syarat tiga sehat yakni sehat jasmani, sehat rohani dan sehat ideologi.

Oleh karena itu, Arissetyanto Nugroho, yang alumnus Lemhannas RI PPSA XXI didukung penuh untuk menjabat sebagai Rektor UI untuk masa jabatan 2019-2024. Bahkan Arissetyanto adalah penerima Satyalencana Wirakarya tahun 2016 dari Presiden Jokowi karena dianggap berhasil dalam mengembangkan kewirausahaan.

Demikian ditegaskan Ketua IKAL PPSA XXI, Komjen Pol (Pur) Arif Wachjunadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Komjen Pol (Pur) Arif Wachjunadi - Ketua Ikatan Alumnus Lemhannas (IKAL) PPSA XXI
Komjen Pol (Pur) Arif Wachjunadi - Ketua Ikatan Alumnus Lemhannas (IKAL) PPSA XXI

Menurut Arif Wachjunadi, Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) adalah program pendidikan pemimpin nasional strategis tertinggi di Lemhannas. PPSA merupakan pendidikan pimpinan nasional strategis yang biasa disebut pendidikan setara bintang dua, yang diikuti pejabat TNI/Polri dan Sipil terseleksi. Pendidikan setara bintang dua mengingat peserta TNI/Polri adalah mereka yang berbintang satu hingga bintang tiga, dan sementara peserta sipil berasal dari para tokoh masyarakat dan para rektor perguruan tinggi.

“Sebelum diterima sebagai peserta pendidikan Lemhannas kepada seluruh calon peserta dilakukan screening oleh pihak terkait. Setidaknya mereka yang sudah masuk dalam pendidikan Lemhannas adalah mereka yang dinyatakan lulus secara administratif, sehat jasmani, sehat rohani dan sehat ideologi yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini,” ujar Arif Wachjunadi, yang mantan Sestama Lemhannas RI.

Dijelaskan lebih lanjut, sosok Arissetyanto Nugroho sangat dibutuhkan oleh UI yang beberapa waktu lalu diberitakan sebagai salah satu dari 10 perguruan tinggi negeri yang terpapar radikalisme. Indonesia tidak hanya membutuhkan orang pandai, demikian ditegaskan Arif Wachjunadi, tetapi membutuhkan pimpinan yang setia akan NKRI serta Pancasila, serta mempunyai sikap dalam menghadapi radikalisme.

“Kami mengenal mas Aris sebagai sosok yang sangat sederhana, tidak banyak bicara tetapi tuntas dalam bekerja. Mungkin ini tipikal orang dari Solo. Tentu demi Indonesia di masa depan, tantangan utama yang dihadapi UI adalah menghasilkan para sarjana yang memiliki jati diri Indonesia serta setia akan ideologi. Kalau soal kesehatan jasmani, Mas Aris juga jagonya.. selain suka lari dia juga meyukai renang dan tenis meja,” urai Arif Wachjunadi lebih lanjut.

Arif menjelaskan, para rektor seluruh perguruan tinggi di Indonesia harus mendukung upaya pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk melakukan deradikalisasi di semua lini termasuk perguruan tinggi Indonesia. Para rektor perguruan tinggi terutama untuk yang telah dikatakan terpapar radikalisme harus memiliki hubungan kuat dengan TNI/Polri dalam melaksanakan program deradikalisasi.

“Bangsa Indonesia memiliki jati dirinya sendiri yang harus dipelihara. Dan itu harus disemaikan di sekolah tingkat terendah hingga paling tinggi. Berapa banyak sudah mereka yang sudah bergelar profesor dan doktor tetapi terpapar radikalisme. Kita ini bangsa yang bersemangatkan Bhinneka Tunggal Ika dan Ilmu pengetahuan tidak mungkin akan berkembang tanpa semangat ini. Jika Bhinneka Tunggal Ika adalah semangat, Pancasila adalah jiwanya. Oleh karenanya, Rektor dan pimpinan UI harus sehat ideologi. Dan, saya kira Mas Aris adalah orang yang tepat. Kami akan mendukungnya dalam melewati masa-masa sulit dalam melaksanakan jabatan rektoratnya,” tegas Arif.

Bahkan Arif Wachjunadi menegaskan, dalam konteks ini kepemimpinan Aris dipastikan akan menjadikan Mahasiswa UI memiliki wawasan Kebangsaan, cinta tanah air & menjunjung tinggi budaya nusantara.

Selain itu, digarisbawahi pula oleh Arif, dalam pimpinan Arissetyanto Nugroho, UI dapat mengembangkan kewirausahaan (enterpreneurship) lebih maju lagi. Alasannya adalah, Aris penerima penghargaan Satyalancana Wira Karya tahun 2016 dari Presiden Jokowi. Karena dianggap berhasil mengembangkan kurikulum kewirausahaan di kampus sehingga mendorong para alumni untuk menjadi job creator – pencipta lapangan kerja. Iklim kewirausahaan perlu lebih ditingkatkan di UI, sehingga ke depannya, masih menurut Arif, UI tidak hanya piawai mencetak birokrat handal tetapi juga wirausaha handal yg berbasis sosial (social entepreneur) yang menciptakan lapangan kerja.

Arissetyanto Nugroho, yang saat ini mencalonkan diri sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI) menerima penghargaan  Satyalancana Wira Karya dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2016.
Arissetyanto Nugroho, yang saat ini mencalonkan diri sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI) menerima penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2016.


Arissetyanto Nugroho adalah satu dari 21 calon rektor yang lolos seleksi. Mereka adalah,
1. Prof. Hikmahanto Juwana, Universitas Indonesia (FHUI)
2. Chandra Yusuf, Universitas YARSI
3. Maksum Syahri Lubis, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara
4. Baskoro Abie Pandowo, PT PUCO
5. Prof. Budi Wiweko, Universitas Indonesia (FKUI)
6. Mutiara Hikmah, Universitas Indonesia (FHUI)
7. Khreshna Imaduddin Ahmad Syuhada, Institut Teknologi Bandung (ITB)
8. Yasman, Universitas Indonesia (FMIPA UI)
9. Firman Zulkifli Amin, University of Tsukuba
10. Arissetyanto Nugroho, Universitas Mercu Buana
11. Prof. Ari Kuncoro, Universitas Indonesia (FEB UI)

Selanjutnya:
12. Hendri Dwi Saptioratri Budiono, Universitas Indonesia (FTUI)
13. Prof. Edvin Aldrian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
14. Adis Imam Munandar, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (SKSG UI)
15. Agustin Kusumayati, Universitas Indonesia (FKM UI)
16. Agustan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
17. Budi Ibrahim, Pertamina Persero Upstream Technology Center
18. Rangga Handika, Tokyo International University
19. Prof. Rosari Saleh, Universitas Indonesia (FMIPA UI)
20. Prof. Bambang Wibawarta, Universitas Indonesia (FIB UI)
21. Prof. Abd. Haris, Universitas Indonesia (FMIPA UI)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA