Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sepeda sewaan berjajar rapi di Kota Paris, Prancis. Kota mode dunia ini memang ramah bagi pengendara sepeda dan skuter listrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sepeda sewaan berjajar rapi di Kota Paris, Prancis. Kota mode dunia ini memang ramah bagi pengendara sepeda dan skuter listrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Jalur Sepeda Harus Aman dan Dilengkapi Fasilitas Pendukung

Imam Suhartadi, Selasa, 3 Desember 2019 | 00:47 WIB

JAKARTA, investor.id – Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai jalur sepeda yang tengah dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta harus dapat menjamin keselamatan pengendara sepeda ketika melintas di jalan raya.

Sebab, banyak jalur sepeda sudah lama terbangun di beberapa kota di Indonesia berupa jalur lambat. Jalur lambat itu banyak yang sudah dihilangkan untuk pelebaran jalan demi kelancaran arus kendaraan bermotor.

“Sekarang diperlukan jalur sepeda yang menjamin pesepeda selamat, aman dan ramah lingkungan untuk mengayuh sepedanya," tutur Djoko kepada SP, Sabtu (30/11)

Djoko Setijowarno, pengamat transportasi
Djoko Setijowarno, pengamat transportasi

Salah satu kota di Indonesia yang telah memiliki jalur sepeda yang layak adalah Kota Surakarta. Jalur sepeda di kota ini sudah aman, cukup lebar dan terpanjang di Indonesia. Selain juga dilengkapi dengan rambu juga terhubung operasional lampu pengatur lalu lintas (traffic light) khusus pesepeda yang dikendalikan dalam sistem transportasi cerdas atau inteligentia transport system (ITS).

Diungkap Djoko, ada tiga macam jaur sepeda yang dapat dibangun. Pertama, bike path, yaitu memberikan jalur sepeda dan pejalan kaki dalam satu jalur sama tinggi dengan meminimkan persilangan keduanya. Contohnya, sudah terbangun di sekeliling Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor.

Kedua, lanjut Djoko adalah bike lane, yaitu menyediakan jalur khusus bagi sepeda di jalan umum, sebaiknya dilengkapi pembatas fisik. Jalur sepeda di kota-kota di Tiongkok diberikan pembatas fisik demi keselamatan.

Ketiga, ungkap Djoko, bike route, menyediakan penggunaan sepeda bersama dengan lalu lintas pejalan kaki atau kendaraan bermotor, biasanya di ruas jalan dengan volume lalu lintas lebih rendah.

Sedangkan di negara lain, misalnya Malaysia, maka di Kuala Lumpur tahun 2018 telah membangun jalur sepeda dengan cat warna biru di jalan-jalan tengah kotanya.

Jalur sepeda di banyak kota di Eropa terbangun dalam satu lajur dengan kendaraan bermotor hanya dipisahkan cukup dengan marka pembatas. Lebih lanjut dia menjelaskan, perlunya kebijakan pendukung agar jalur sepeda tidak menjadi sumber kemacetan.

Sepeda sewaan berjajar rapi di Kota Paris, Prancis. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sepeda sewaan berjajar rapi di Kota Paris, Prancis. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Dia mencontohkan, kemacetan di Jalan Pramuka yang menurutnya lebih disebabkan karena parkir liar di bahu jalan.

"Saya sudah lihat di Pramuka karena kemarin sempat lewat sana. Di sana persoalannya adalah parkir liar. Artinya harus dibenahi parkirnya bukan jalur sepedanya," kata Djoko.

Memasyarakatkan sepeda, kata Djoko, bukan perkara mudah. Sebab situasi sekarang sudah jauh berbeda dibanding 10-20 tahun yang lalu. Sepeda motor kini menjadi primadona di Jakarta dan lebih dari 50 persen orang yang bekerja di Jakarta berasal dari wilayah lain seperti Bogor, Tangerang, Bekasi maupun Depok.

Adanya jalur sepeda tidak cukup untuk membuat warga beralih ke transportasi umum maupun naik sepeda. Dia tidak bisa membayangkan warga ramai-ramai menggunakan sepeda ke Jakarta untuk bekerja.

"Jangan dibayangkan adanya jalur sepeda membuat orang ramai-ramai menggunakan sepeda. Meski jalur sepeda tujuannya baik tetapi belum cukup untuk menata Jakarta," kata Djoko Setijowarno.

Kebijakan lain yang perlu diintensifkan adalah keberadaan transportasi massal untuk mengurangi jumlah pengguna kendaraan pribadi. Selama masyarakat masih enggan menggunakan transportasi umum maka selama itu pula jalur sepeda bakal diterobos pengguna motor atau mobil.

Djoko juga belum melihat banyaknya penyewaan sepeda di Jakarta. Misalnya di perkantoran, sekolah-sekolah atau apartemen di Jakarta. Dengan begitu sepeda belum menjadi alat transportasi unggulan. Bahkan kalah dengan otopet yang diminati banyak anak muda.

"Orang kurang menyadari tingginya jumlah sepeda motor telah menghilangkan budaya bersepeda dan berjalan kaki. Sepeda di Jakarta paling hanya komunitas," ungkap Djoko Setijowarno.

Dia mengkritik jalur sepeda di Jakarta yang hanya dibatasi garis lurus, garis putus-putus dan cone. Menurutnya jalur sepeda harus dibatasi dengan pagar setengah meter agar tidak diserobot pengguna motor atau mobil.

Dia menjadikan Tiongkok sebagai contohnya. Jalur sepeda di sana diberi pagar. Sebab karakter masyarakatnya serupa dengan di Jakarta yang sulit diatur. Namun jalur sepeda di Tiongkok lebih lebar sekitar tiga meter atau cukup untuk satu lajur mobil.

"Untuk penerapan sanksi tilang jalur sepeda saya setuju tetapi perlu ditata lagi jalurnya, harus dibatasi seperti di Tiongkok. Selain sepeda, otopet atau kendaraan listrik bisa menggunakan jalur itu tanpa khawatir diserobot kendaraan lain," kata Djoko Setijowarno.

Jalur Sepeda Pramuka

Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta secara bertahap mengatasi problema jalur sepeda Jalan Pramuka, tepatnya di jembatan layang Matraman, Jakarta Timur karena membahayakan pesepeda.

"Hal itu sudah kita koreksi, kita perbaiki juga, karena pada prinsipnya kita mengutamakan faktor keselamatan yang diutamakan, sebagaimana halnya kita memperhatikan pejalan kaki saat menyeberang di simpang," ujar Sekretaris Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Masdes Arouffy di Jakarta, Sabtu (30/11).

Menurut Masdes, jalur sepeda tersebut diarahkan memotong jalan dan menyatu dengan jalur Trans- Jakarta, pengendara kendaraan bermotor dari Jalan Pramuka dan belok kiri menuju Jalan Matraman Raya kerap melaju kencang melintasi jalur sepeda tersebut.

Masdes mengatakan, pihaknya saat ini membenahi jalur sepeda tersebut, dengan membuat jalurnya diarahkan untuk menyeberang di zebra cross lampu merah, tidak berbaur dengan jalur TransJakarta saat berpindah lajur dari kiri ke kanan.

"Bahkan kita juga sedang merencanakan buat percontohan, nanti kita cari simpang yang berpindah, akan ada area khususnya untuk berhenti di simpang, baru menyeberang mengikuti lampu lau lintas," kata dia.

Masdes mengakui untuk beberapa titik jalur sepeda, perlu sedikit koreksi karena adanya miskomunikasi informasi antara pihak Dishub dengan pihak kontraktor yang membuat marka lajur sepeda.

Namun karena adanya keterbatasan ruang untuk penyempurnaan jalur sepeda di beberapa tempat, sebagian jalur sepeda masih bercampur di lajurnya kendaraan motor maupun kendaraan umum.

"Tapi paling tidak pada saat menjelang simpang, ke depan kita arahkan mengikuti lampu lalu lintas dan bersama pejalan kaki, karena desain standarnya harus demikian," ujar dia. (b1/ant)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA