Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Jokowi-JK-Dahlan Bisa Masuk Bursa Capres Demokrat

Kamis, 25 April 2013 | 06:28 WIB
Antara

PACITAN - Tokoh-tokoh nasional yang memiliki popularitas tinggi seperti Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi, mantan Wapres Jusuf Kalla (JK), dan Menteri BUMN Dahlan Iskan, bisa masuk bursa konvensi kandidat presiden Partai Demokrat.

"Siapa saja bisa masuk dalam bursa konvensi jika memang memiliki elektabilitas dan akseptabilitas tinggi di masyarakat, termasuk Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla," ungkap Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan di sela-sela kunjungan ke daerah Kelahiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Pacitan, Tawa Timur, Rabu.

Selain ketiga nama di atas, tokoh nasional lain yang juga dilirik dan masuk bursa penjaringan/konvensi calon presiden dari Partai Demokrat di antaranya adalah Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, serta Ketua DPR RI Marzuki Alie.

Keikutsertaan mereka untuk maju sebagai capres akan dihitung berdasarkan proporsi perolehan suara hasil survei di masyarakat.

Dijelaskan, dalam proses konvensi semi terbuka tersebut masyarakat akan ikut berperan menentukan calon presiden yang paling difavoritkan, yakni melalui survei penentuan calon.

Meski sama-sama memilih metode konvensi, Pohan memastikan Partai Demokrat menggunakan cara berbeda dibanding partai lain yang juga menggunakan metode konvesi.

"Dalam konvesi calon presiden yang digelar PD (Partai Demokrat) capres tidak ditentukan mutlak oleh suara pengurus partai di daerah," tegasnya.

Ramadhan Pohan menjelaskan, penggunaan lembaga survei yang kredibel dalam penjaringan capres masih dianggap valid. Tidak itu saja, survei juga menjadi semacam laboratorium politik yang baik.

Jika cara itu sukses, seleksi kepemimpinan nasional menjadi lebih dinamis, terbuka, dan teruji. "Pandanglah ini sebagai ijtihad yang dilakukan Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan Partai Demokrat sebagai dedikasi pada bangsa dan negara," ujarnya. (gor/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN