Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes), dr. Siti Nadia Tarmizi. Sumber: BSTV

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes), dr. Siti Nadia Tarmizi. Sumber: BSTV

Jumlah Testing Wilayah PPKM Darurat Disesuaikan dengan Inmendagri

Minggu, 11 Juli 2021 | 10:20 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan, dalam penanganan Covid-19   hingga  tingkat RT pemerintah memperkuat 3T yakni testing, tracing, dan treatment.

Menurutnya, khusus untuk testing,  setiap kabupaten/kota memiliki target berbeda sesuai dengan  Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri)  No.15/2021 tentang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali.

”Untuk  testing saat ini sesuai Inmendagri Nomor 15 sudah tercantum target  dari  masing-masing kabupaten/kota.  Khusus kabupaten/kota ada pada level 3 dan 4 untuk evaluasi pandemi saat ini kita menilai dua hal yaitu  laju penularan dan kapasitas respon. Jumlah yang di-tracing adalah jumlah kasus positif yang ditemukan dikalikan 15 sesuai Inmendagri,” kata Nadia saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (10/7/2021).

Sebagaimana diketahui, dalam Inmendagri menyebutkan, testing perlu ditingkatkan sesuai dengan tingkat positivity rate mingguan, dengan ketentuan: jika positivity rate mingguan  kurang dari 5%, maka jumlah testing  per 1000 penduduk per minggu adalah 1.

Jika positivity rate mingguan  lebih dari 5%  dan kurang dari 15%, maka jumlah test per 1000 penduduk per minggu adalah 5. Sedangkan   positivity rate mingguan  lebih dari 15%  dan  kurang dari 25%, maka jumlah test per 1000 penduduk per minggu adalah 10.  Lalu, jika positivity rate mingguan  lebih dari 25%, maka jumlah test per 1000 penduduk per minggu adalah 15.

Nadia menyebutkan, dengan melakukan testing yang massif akan menemukan kasus lebih dini. Artinya  akan banyak yang berstatus orang tanpa gejala (OTG)  maupun gejala ringan sehingga akan membebani fasilitas kesehatan (fasyankes). Sebab dengan deteksi dini, maka pasien gejala berat dapat dihindari karena penanganan lebih dini. Selain itu, memutus rantai penularan karena orang yang tertular lebih sedikit.

“Jadi penambahan  kasus ringan justru akan membantu merelaksasi beban fasyankes,” ucapnya.

Selanjutnya, untuk mengantisipasi peningkatan kasus aktif hingga 70.000 per hari, Nadia mengatakan, tidak semua kasus harian membutuhkan layanan rumah sakit. Dalam hal ini, pemerintah  memperkuat dan memperbanyak tempat untuk isolasi terpusat dan  menambah rumah sakit  lapangan serta memperkuat layanan telemedicine.

Selain itu, memastikan ketersedian sarana prasarana mencukupi termasuk obat, oksigen, ventilator dan lainnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN