Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hermawan Saputra, Dewan Pakar IAKMI. Sumber: BSTV

Hermawan Saputra, Dewan Pakar IAKMI. Sumber: BSTV

Kasus Covid-19 Meningkat, Indonesia Masih Berada di Gelombang Pertama

Sabtu, 19 Juni 2021 | 21:51 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia  (IAKMI), Hermawan  Saputra mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 harian yang tinggi seminggu terakhir ini tidak dapat dikatakan Indonesia menuju gelombang kedua,  karena kasus Indonesia belum pernah terkendali. Hal ini menyebabkan Indonesia belum mampu keluar dari gelombang pertama.

“Indikator gelombang itu  kalau  kasus sudah pernah terkendali sebelumnya dan diserang lagi  itu namanya gelombang kedua. Jadi kita kilas balik 15 bulan perjalanan  Covid-19 di Indonesia dan kasus belum terkendali,” kata Hermawan saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (19/6/2021).

Hermawan menyebutkan, Indonesia dapat mengklaim kasus terkendali apabila kondisi  sesuai standar World Health Organization (WHO), yakni   positivity rate  7% atau di bawah 5%. Selain itu, angka kematian  di bawah 3% dan  kasus harian  stabil selama 2 minggu berturut-turut bahkan cenderung menurun.

“Itu  namanya indikator, tetapi kita tidak pernah mencapai  itu sama sekali. Positivity rate  kita paling rendah itu 7%  dan  tingkat kematian kita masih tinggi 5% lebih. Apalagi kasus harian  yang sangat  fluktuatif . Belum pernah 2 pekan turun secara signifikan,” paparnya.

Selain itu, Hermawan menegaskan, apabila diklaim turun pun harus melihat  jumlah spesimen yang diperiksa  meningkat atau minimal stabil selama periode  tentu. Sayangnya yang terjadi  jumlah testing Indonesia masih belum stabil.  “Jadi kalau ditanya ini sudah melewati gelombang satu, ya jauh.  Kita belum pernah  melihat penurunan kasus. Gelombang satu ini masih panjang,” tandasnya.

Selanjutnya, Hermawan mengatakan,  situasi pengendalian Covid-19 di Indonesia berbeda dengan negara- negara lain yang sudah melewati gelombang pertama.  Contohnya, Inggris yang kasusnya sempat terkendali.  

“Inggris sempat terkendali, ketika muncul varian baru pantas disebut  memasuki gelombang kedua. Sedangkan Indonesia sama sekali belum pernah mengendalikan kasus,” paparnya.

Selanjutnya, Hermawan menyebutkan, banyak faktor menyebabkan, kasus Covid-19 sepekan terakhir ini mengalami kenaikan. Dalam hal ini ada 4 faktor utama. Pertama, adanya mobilitas  sebelum dan sesudah Lebaran. Kedua,  munculnya varian baru yang menyebabkan  tingkat penularan cepat  yang sedang terjadi  di berbagai daerah.

“Dulu kita bicara episentrum  itu hanya kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya atau Bandung. Sedangkan sekarang seluruh daerah  bahkan kabupaten seperti Kudus, Bangkalan, Cimahi dan beberapa daerah di Riau itu signifikan. Hampir  semua daerah merata,” ucapnya.

Ketiga,  upaya testing dan tracing masih rendah. Dalam hal ini, surveilans tidak optimal. Pasalnya, testing rendah, maka tracing  juga rendah.  Hal ini  menyebabkan tidak optimalnya  pengendalian di lapangan.

Keempat, program vaksinasi yang belum optimal. Dikatakan Hermawan, vaksinasi belum berdampak pengendalian  kasus. Sebab sasaran vaksinasi masih  jauh dari target 181,5 juta orang atau 70% dari  jumlah populasi  Indonesia. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN