Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Virus Omicron. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Virus Omicron. Foto ilustrasi: Investor Daily/IST

Kasus Harian Naik hingga 2.000 Akibat Efek  Libur Nataru

Jumat, 21 Januari 2022 | 22:45 WIB
Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Setelah libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), terjadi peningkatan kasus  Covid-19 harian mencapai melampaui 2.000 kasus. Jumlah kasus positif Covid-19 secara nasional meningkat 5x lipat dalam 3 minggu terakhir.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Covid-19, Alexander Kaliaga Ginting mengatakan, kenaikan kasus Covid-19 nasional dipicu oleh varian Omicron dan Delta serta mobilitas terjadi pada  libur Nataru.

“Peningkatan kasus ini karena Omicron iya, tapi sebenarnya kita baru libur panjang Nataru. Kita harus ingat di negara kita  varian Delta masih ada dan PPKM darurat pada bulan tujuh dan delapan  untuk antisipasi varian Delta,”  ujarnya kepada Beritasatu.com, Jumat (21/1/2022).

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19, Alexander K. Ginting
Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19, Alexander K. Ginting

Khusus kenaikan kasus Omicron, Alexander menuturkan,  dipicu oleh banyak masyarakat  yang tetap melakukan perjalanan ke luar negeri sehingga membawa varian Omicron.

“Jadi varian Omicron itu banyak dibawa oleh mereka yang jalan-jalan ke luar negeri seperti Turki dan Amerika Serikat. Apa yang terjadi sekarang kasusnya naik,” ujarnya.

Alexander menuturkan, untuk mencegah puncak  kasus Covid-19  yang diprediksi terjadi pada akhir Februari  hingga awal Maret 2022, maka protokol kesehatan (prokes) 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan), vaksinasi dan isolasi harus dilakukan.

Menko PMK Muhadjir Effendy. Sumber: BSTV
Menko PMK Muhadjir Effendy. Sumber: BSTV

Sebelumnya, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan  secara persentase, peningkatan kasus harian dan kasus aktif Covid-19 selama periode Nataru 2021 melonjak jauh lebih tinggi yaitu sebesar 258% dibandingkan saat Nataru 2020 yang rata-rata hanya 52%.

Kendati demikian,  Muhadjir menegaskan, jika melihat dari angka absolut, kenaikannya tidak terlalu signifikan. Pada tahun 2020, angkanya sebesar 6.347 kasus.  Sedangkan pada tahun 2021 hanya 179 kasus. Bahkan pada 15 Januari 2022 lalu berjumlah 1.054 kasus atau lebih rendah dibanding tanggal yang sama tahun 2021 sebanyak 2.218 kasus.

“Jadi secara persentase kenaikannya memang sangat tajam, tapi secara angka absolut relatif kecil. Mudah-mudahan pasca Nataru kita akan bisa lebih menekan seminim mungkin lonjakan kasus sehingga nanti di samping secara angka tidak terlalu drastis peningkatannya juga kurvanya lama-lama bisa turun secara drastis,”  ujar Muhadjir  pada konferensi pers  tentang Rapat Evaluasi  Nataru di Gedung Kemenko PMK, Jakarta, Senin (17/1/2022).

Kondisi ini  tidak jauh berbeda dengan peningkatan kasus Covid-19 pasca  Lebaran Idulfitri  tahun lalu. Tercatat pada Selasa (25/5/2021), Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mencatat kasus positif Covid-19 mengalami kenaikan sebesar 36,1% pada periode 17 hingga 23 Mei 2021. Padahal pada periode sebelumnya, kasus positif Covid-19 menurun sebesar 28%.

"Kenaikan kasus positif yang cukup signifikan ini terjadi satu minggu setelah periode libur Idulfitri. Seperti yang saya sampaikan, dampak dari libur panjang dapat terlihat pada minggu kedua dan ketiga setelah periode libur panjang tersebut," katanya dalam konferensi pers virtual pada Selasa (25/5/2021).

Dia menyebut, ada lima provinsi yang menyumbang kasus positif Covid-19 tertinggi dalam seminggu terakhir. Kelima provinsi tersebut yakni Jawa Barat naik sebesar 2.221 kasus positif Covid-19, DKI Jakarta 1.240 kasus, Sumatera Barat 959 kasus, Jawa Tengah 949 kasus, dan Aceh 561 kasus.

Optimistis

Prof Wiku Adisasmito. Foto: IST
Prof Wiku Adisasmito. Foto: IST

Menjawab pertanyaan Beritasatu.com, pada konferensi pers tentang “Perkembangan Penanganan Covid-19 di Indonesia”, Kamis (20/1/2022) malam, Wiku mengaku optimistis bahwa pemerintah dapat mencegah lonjakan kasus Omicron yang diprediksi akan terjadi pada akhir Februari dan awal Maret 2022.

Ia menuturkan,  prediksi adanya potensi puncak kasus Covid-19 akibat varian Omicron terjadi pada Februari dan awal Maret  perlu disikapi dengan bijak. Pasalnya, prediksi tersebut agar semua pihak selalu waspada, namun tetap harus optimistis bahwa Indonesia bisa mencegah adanya lonjakan kasus Omicron.

“Prediksi masih bisa kita ubah dengan usaha yang sungguh-sungguh yaitu dengan melakukan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak),” ucapnya pada konferensi pers tentang “Perkembangan Penanganan Covid-19 di Indonesia”, Kamis (20/1/2022) malam.

Ia menambahkan, bagi sektor- sektor esensial yang masih beroperasi harus memperhatikan prokes secara menyeluruh sesuai dengan peraturan pemerintah melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) sesuai dengan aktivitas masyarakat.

Adanya peraturan tersebut, lanjut Wiku, semata- mata dilakukan untuk melindungi tiap lapisan masyarakat sesuai tingkat kerentanannya. Selain itu, berbagai intervensi pencegahan harus dilakukan di waktu yang bersamaan untuk menghasilkan proteksi yang optimal.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN