Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tenaga Medis melepas mobil Ambulance dan Bis Sekolah yang membawa pasien Covid-19, ke Wisma Atlet dari Puskesmas Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (10/6/2021).  Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Tenaga Medis melepas mobil Ambulance dan Bis Sekolah yang membawa pasien Covid-19, ke Wisma Atlet dari Puskesmas Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (10/6/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Kasus Positif Covid-19 Melonjak di Jakarta, Ini Sebabnya

Minggu, 20 Juni 2021 | 08:07 WIB
Yustinus Paat

JAKARTA, investor.id   - Dalam dua hari terakhir, penambahan kasus positif Covid-19 harian di Jakarta telah pecah rekor dengan mencatat penambahan tertinggi kasus baru dalam sehari selama pandemi Covid-19, sejak Maret 2020 lalu. Dalam dua hari ini, berturut-turut penambahan kasusnya menembus angka 4.737 kasus baru pada Jumat (18/6/2021), dan 4.895 kasus baru pada Sabtu (19/6/2021).

Penambahan kasus baru tersebut telah melampaui angka tertinggi yang pernah terjadi, yakni pada 7 Februari 2021 lalu, yakni 4.213 kasus dalam sehari.

Dalam seminggu terakhir, jumlah penambahan kasus positif sebanyak 23.145 kasus baru. Artinya, rata-rata penambahan kasus positif dalam sehari selama seminggu ini sebanyak 3.306 kasus baru dalam sehari. Angka ini tentu sangat mengkhawatirkan. Lalu, apa sesungguhnya penyebab lonjakan kasus yang begitu mengganas belakangan ini?

Mudik dan libur lebaran 2021

Salah satu penyebab lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi kali ini adalah mudik dan libur lebaran 2021. Padahal, pemerintah sudah melarang warga untuk melakukan mudik lebaran 2021 dan mencegah mobilitas masyarakat pada waktu libur lebaran termasuk melarang masyarakat melakukan silahturahmi secara langsung.

Namun, sebagian masyarakat masih nekat melakukan mudik lebaran dan memanfaatkan waktu libur lebaran pada pertengahan Mei 2021 lalu ke tempat wisata sehingga terjadi lonjakan pengunjung di tempat-tempat wisata di Jakarta saat itu, seperti di Ancol, TMII dan Ragunan. Pada waktu lebaran juga masih banyak masyarakat yang melakukan silahturahmi secara fisik.

Tak heran, 2 minggu setelah lebaran dan sesudahnya, muncul klaster-klaster penyebaran Covid-19 yang merupakan klaster keluarga, klaster mudik dan klaster silahturahmi.

“Salah satu penyebabnya mudik lebaran,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria beberapa waktu lalu.

Wagub DKI Jakarta AhmadRiza Patria (Ariza). Sumber: BSTV
Wagub DKI Jakarta AhmadRiza Patria (Ariza). Sumber: BSTV

Riza mengatakan, interaksi masyarakat pada saat mudik dan libur lebaran memang berpotensi terjadinya penularan Covid-19. Tak heran, kata Riza, beberapa minggu sesudah lebaran terjadi lonjakan kasus. Padahal, Pemprov DKI Jakarta bersama pemerintah pusat dan aparat keamanan telah berupaya maksimal untuk mencegah warga tidak melakukan mudik dan bepergian pada saat lebaran.

“Kita telah hadirkan berbagai kebijakan, aparat sebanyak mungkin, sanksi juga, namun upaya kita hanya 20% dan 80% tergantung kesadaran masyarakat,” tandas Riza.

Sementara, berdasarkan data yang dicatat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, terdapat 1.172 klaster mudik dalam rentang waktu 21 Mei hingga 17 Juni 2021 dengan total 2.458 kasus positif.

Varian Baru Mutasi Covid-19          

Salah satu hal yang mengkhawatirkan saat ini adalah varian baru mutasi Covid-19 yang dinilai cepat menular dan menimbulkan gejala berat pada orang yang terpapar Covid-19. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia mengatakan, sebanyak 33 orang telah terpapar varian baru Covid-19 di Jakarta. Hal ini berdasarkan pemeriksaan sampel whole genome sequencing (WGS) terhadap 980 sampel terduga mutasi virus yang dikirim Dinkes DKI ke Kementerian Kesehatan.

"Kami sudah menerima data 33 variant of concern atau VoC dari Kemkes. Adapun perincian ke-33 VoC tersebut, yakni 12 varian Alpha (B.117), 3 varian Beta (B.1.351), 18 varian Delta (B.1617.2),” ujar Dwi dalam keterangannya, Kamis (17/6/2021).

Dari 33 VoC, kata Dwi, pihaknya mengidentifikasi bahwa 25 kasus berasal dari orang yang telah melakukan perjalanan luar negeri. Sementara 3 kasus merupakan transmisi lokal di luar Jakarta karena bukan domisili Jakarta hanya saja melakukan pemeriksaan di Jakarta. Lalu, ada 5 kasus transmisi lokal di Jakarta dan kelimanya merupakan varian Delta.

“Pada setiap bertemu VoC, kami langsung mengidentifikasi kasus impor atau transmisi lokal. Jika transmisi lokal, maka kami lakukan tracing masif di komunitas dan tempat kerja,” tandas dia.

Selain 33 orang yang terpapar mutasi Covid-19, dari 980 sampel terduga mutasi virus, sebanyak 289 dinyatakan bukan merupakan variant of concern. Sementara 438 masih menunggu hasil, 216 dinyatakan negatif Covid-19, 3 hasil WGS tidak dapat dianalisa, dan 1 invalid.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti

Secara terpisah kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengaku sangat khawatir dengan adanya mutasi Covid-19 karena sangat berbahaya. Dia mencontohkan varian Delta B1617.2 yang awalnya ditemukan di India dan sudah bertransmisi di Jakarta, sangat mudah menular.

Sementara Beta B1351 yang berasal dari Afrika Selatan, kata Widyastuti, bisa membuat yang terpapar memiliki gejala yang berat hingga berunjung pada kematian. Yang menggembirakan, semua varian ini bisa diantisipasi oleh vaksin Covid-19. Karena itu, Pemprov DKI akan terus masih melakukan vaskinasi Covid-19.

“Meskipun menurut penelitian terakhir, seluruh varian masih dapat diantisipasi dengan vaksin, tetapi ini benar-benar harus kita waspadai bersama,” pungkas Widyastuti.

Mulai Menurunnya Kedisiplinan Terapkan Protokol Kesehatan

Penyebab lain yang mengakibatkan kasus positif Covid-19 mengalami lonjakan drastis adalah mulai menurunnya gairah masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Masyarakat disinyalir sudah lelah dan capek berada dalam situasi pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung kurang lebih 1,5 tahun. Selain itu, euforia dengan adanya vaksinasi Covid-19 yang membuat sebagian masyarakat mulai mengabaikan protokol kesehatan.

Menurunnya kedisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan, terungkap dari hasil survei yang dilakukan pihak Dinkes DKI khususnya kepatuhan masyarakat dalam menggunakan masker mengalami.

“Ini ditengarai dengan survei yang kita lakukan bahwa di awal-awal tahun (2021) dan di akhir tahun lalu (2020) sempat kita di posisi taat pada prokes itu di angka 60-70% untuk pemakaian masker, tetapi di akhir-akhir ini menurun menjadi 20-30%,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti dalam acara diskusi virtual BNPB, Kamis (17/6/2021).

Widyastuti mengatakan, ketika kasus positif Covid-19 menurun dan terkendali di Jakarta, ternyata diikuti juga dengan tingkat kepatuhan menggunakan masker dari warga DKI Jakarta. Karena itu, kata dia, pihaknya terus melakukan langkah persuasif agar masyarakat disiplin menggunakan masker. 

“Persuasif dilakukan tetapi tindakan tegas juga dilakukan sesuai dengan Pergub yang ada,” tandas dia.

Dia mengakui, warga di DKI Jakarta berada di titik jenuh karena sudah kurang lebih 1,5 tahun dibatasi berbagai aktivitasnya untuk mengendalikan Covid-19. Begitu jumlah kasus menurun, kata dia, maka warga pun mulai melonggarkan penerapan protokol kesehatan.

“Ini yang harus campaign terus menurus, meski vaksinasinya sudah dua kali tetapi tetap prokes jadi suatu yang penting terus menerus jadi budaya yang kita lakukan,” pungkas dia.

Widyastuti tidak menerangkan lebih jauh hasil survei yang dilakukan Dinkes DKI Jakarta mulai dari metodologi, identitas dan jumlah yang disurvei, termasuk hasil survei untuk penerapan prokes yang lain seperti menjaga jarak dan mencuci tangan.

Selain tiga penyebab tersebut, masih terdapat penyebab lainnya, seperti masih lemahnya pengawasan dan penindakan aturan PPKM mikro di level RT/RW, perkantoran, mal, pasar dan tempat atau fasilitas publiknya. Satgas Covid-19 internal masing-masing tempat usaha juga belum berfungsi optimal.

Selain itu, penambahan kasus Covid-19 yang tinggi ini tidak terlepas dari tingginya testing yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Dalam seminggu terakhir ada 98.374 orang dites PCR. Jumlah ini sudah mencapai 9 kali lipat dari standar minimun WHO untuk testing, yakni 10.645 orang dites per mingg di Jakarta. Sementara itu, total tes PCR DKI Jakarta kini telah mencapai 394.831 per sejuta penduduk.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN