Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Museum Bahari. Foto: kebudayaan.kemendikbud.go.id

Museum Bahari. Foto: kebudayaan.kemendikbud.go.id

Kebijakan Kemendikbud Kembali Dipertanyakan

Harso Kurniawan, Selasa, 30 Juni 2020 | 20:41 WIB

JAKARTA, Investor.id - Langkah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merangkul Google untuk mengajak masyarakat mengenal lebih jauh budaya dan sejarah Indonesia melalui Google Arts and Culture disoroti sejumlah kalangan. Hal itu terjadi menyusul langkah Kemendikbud yang sebelumnya juga menggandeng layanan streaming asal AS, Netflix, dalam program belajar dari rumah. 

Pengamat pendidikan  Doni Koesoema mengatakan, Kemendikbud perlu menjelaskan mekanisme kerja sama dengan Google yang menghadirkan Google Arts Project, terutama terkait transparansi anggaran yang dikucurkan bagi perusahaan asing dalam kerja sama tersebut.

"Kita tidak tahu mekanisme dan tendernya seperti apa.  Tetapi, hal ini harus diperhatikan. Memang betul di masa Covid-19, kita butuh kolaborasi, gotong-royong, tetapi cara-caranya Kemendikbud itu harus tepat, jangan sampai anggaran negara ini dan anggaran pendidikan tersebar ke sana ke mari. Harus transparan dan akuntabel," ujar Doni di Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Dia menyayangkan pernyataan Kemendikbud yang menyebut perusahaan asing, seperti Netflix dan Google menjadi mitra dalam program pendidikan di tengah pandemi Covid-19. Seharusnya, hal ini tidak pantas disebutkan. 

Di sisi lain, Kemendikbud tidak menyebutkan mekanisme pengunaan anggaran dalam kerja sama tersebut."Mekanisme ini yang kita tidak tahu dan menjadi pertanyaan. Apakah dana BOS secara eksplisit diperbolehkan untuk pembelian platform berbayar dengan menyebut merek tertentu? Bahkan, dalam rilis Kemendikbud menyebut merek tertentu, seperti Netflix dan Google yang seharusnya tidak boleh disebutkan," ungkap dia. 

Selain itu, Doni menjelaskan, platform kerja sama Kemendikbud dengan Google dan Netflix hanya bisa diakses siswa tertentu saja, meski disebut Kemendikbud gratis. Pasalnya, tidak semua siswa paham dalam mengakses atau melihat langsung tayangan berbayar secara gratis, karena keterbatasan ketersediaan ponsel dan pulsa siswa.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan Google melaksanakan program Google Arts Project yang dilakukan oleh Museum Nasional Indonesia. Google Arts Project merupakan sebuah program yang mengajak masyarakat untuk mengenal lebih jauh budaya Indonesia melalui Google Arts and Culture.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan program ini merupakan bentuk promosi karya seni adiluhung Indonesia ke tingkat dunia melalui situs online. Melalui platform digital ini, masyarakat dapat mengakses berbagai museum nasional dari puluhan negara, tempat bersejarah, dan kini 4.000 lebih koleksi wayang dari Museum Wayang Nasional, dengan menggunakan smartphone di manapun mereka berada. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN