Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jubir Penanganan Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi. Sumber: BSTV

Jubir Penanganan Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi. Sumber: BSTV

Kemkes: Mutasi Virus Mutasi E484K Tidak Berbahaya

Rabu, 14 April 2021 | 23:59 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Juru  Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes),  Siti Nadia Tarmizi mengatakan,  E484K merupakan hasil mutasi dari varian virus Covid-19 telah ada saat ini. Diketahui 3 varian yang menjadi perhatian World Health Organization (WHO) saat ini adalh virus B117, B1351, dan P1.

Nadia menjelaskan, varian baru dari virus Covid-19 ini cepat menular  dan  ada yang menurunkan efikasi vaksin Covid-19. Dijelaskan Nadia,  E484K di Indonesia ini baru  terjadi mutasi  dari varian sudah ada sebelumnya dan belum dapat disebutkan varian baru karena baru ditemukan dalam satu sampel, namun mutasi tersebut tidak mematikan.

“Kita menemukan mutasi tersebut di salah satu  sampel pasien Covid-19   yang positif ya  tetapi  mutasi tersebut saat ini tidak berbahaya,  tetapi perlu kita waspadai  karena dia kalau  kemudian  terjadi bersamaan dengan mutasi yang lain  bisa menjadi varian baru atau dia bisa  menjadi salah satu varian Brasil maupun Jepang,” jelas Nadia saat dihubungi  Beritasatu.com, Rabu (14/4/2021).

Nadia menyebutkan, di Afrika Selatan  dan di Jepang ditemukan  mutasi  E484K ini cepat menular. Pasalnya, mutasi E484K  bersamaan dengan adanya varian baru  yang menyebabkan bisa menurunkan efikasi vaksin.  Sedangkan di Indonesia, E484K ini ditemukan satu kasus, sehingga disebut mutasi.

Nadia menjelaskan, tidak semua mutasi itu buruk, sebab ada juga  mutasi jelek yakni virusnya akhirnya hilang  karena mutasi adalah cara virus bertahan. Dalam hal ini, E484K sama halnya dengan D614B atau N4531 sama, yakni hanya mutasi  satu virus.

“Jadi cuma satu mutasi, kalau varian itu beberapa mutasi. Tapi E484K sendiri, dia enggak berbahaya  yang berbahaya itu varian virusnya. Kalau dia sendiri  enggak ada efeknya. Makanya WHO tidak mengkategorikan itu sebagai virus yang mendapat perhatian,” ucap dia.

Nidia mengatakan, berdasarkan WHO  mutasi virus terdiri dari varian yang diwaspadai dan varian  yang menjadi perhatian. Dikatakan Nadia, virus perlu diwaspadai karena sedang membuktikan ada dampak  pada kejadian di lapangan secara epidemiologi.  Sedangkan perhatian  maksudnya secara laboratorium, misalnya M4351 bahwa terbukti  bisa menurunkan sistem kekebalan sehingga vaksin tidak efektif .

Nadia mengatakan, dengan ditemukannya mutasi  dari virus Covid-19  dan  juga adanya varian baru dari Covid-19 ini  seharusnya  masyarakat lebih waspada  dan semakin disiplin  melaksanakan protokol kesehatan. Selain itu, mengikuti program vaksinasi.

“Untuk mencegah kita  tertular tentu dengan menerapkan protokol kesehatan, tetapi untuk mencegah  kita menjadi sakit  adalah dengan vaksinasi. Jadi kombinasi ini harus tetap kita lakukan,” kata Nadia.

Sementara terkait dengan mutasi dari varian Virus B117, Nadia menyebutkan,  hingga saat ini ada 10 kasus.  Kata dia,  sebelumnya ada 7 kasus, kemudian ada penambahan 3 kasus baru yakni  2 kasus di Karawang merupakan konta kerat dari pasien pertama yang konfirmasi Covid-19 B117 di Karawang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN