Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional dalam acara 60 Minutes di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional dalam acara 60 Minutes di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV

Kepala Perpusnas: Literasi Wujudkan Kesejahteraan Rakyat

Selasa, 23 Februari 2021 | 16:18 WIB
Jeis Montesori

JAKARTA, investor.id  - Literasi atau kedalaman pengetahuan seseorang pada satu tingkat pengetahuan, parameternya yang harus dilihat saat ini adalah pada kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Kemampuan literasi pada taraf inilah yang sangat dibutuhkan untuk menuju pada pencapaian kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan abadi bangsa Indonesia.

Demikian dikatakan Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando dalam wawancara dengan Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu, pada acara “60 Minutes with Muhammad Syarif Bando”, yang disiarkan Beritasatu New Channel, baru-baru ini di Jakarta.

 

“Literasi harus sampai kepada kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu, yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Karena pada akhirnya persaingan global dalam tatanan ekonomi dunia adalah, siapa yang bisa menciptakan produksi untuk konsumsi massal,” kata Muhammad Syarif Bando.

Muhammad Syarif Bando mengatakan, saat ini kita dipaksa hidup pada zaman teknologi yang sangat cepat. Ketika komputer 3 giga ((gigabita) dengan kecepatan 284 giga per menit, kata Muhammad Syarif Bando, pihaknya membutuhkan waktu 26 jam untuk mengunggah suatu film yang pernah dipresentasikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional (kanan) dalam acara 60 Minutes bersama Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV
Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional (kanan) dalam acara 60 Minutes bersama Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV

Namun, begitu ditemukan teknologi yang 4 gigabita, maka waktu 26 jam hanya butuh jadi 6 menit. Begitu 5 gigabita tinggal 3,6 detik. “Artinya sebentar lagi akan ditemukan komputer yang 6 giga yang kecepatannya bisa 0.00 sekian detik, yang itu bisa dipasang untuk menjadi pengganti driver di mobil mewah pengganti masinis di kereta mewah dan pengganti pilot di pesawat-pesawat canggih,” kata Muhammad Syarif Bando.

Pertanyaan besarnya, lanjut Muhammad Syarif Bando, apakah dunia pendidikan di Indonesia terutama perguruan tinggi sudah mereformasi kurikulumnya ke arah penciptaan barang dan jasa yang dipandu oleh kecepatan teknologi.

“Ini sebuah tantangan besar kita untuk mengubah sistem pendidikan kita untuk bersaing dengan negara- negara yang saat ini sudah maju,” kata Syarif.

Empat Literasi

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional. Foto:  Investor Daily/Primus Dorimulu
Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Syarif menjelaskan ada empat tingkatan literasi. Literasi pertama atau yang paling rendah adalah literasi membaca dan menulis. Kondisi ini terjadi di awal kemerdekaan di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Di masa itu, pemerintahan bekerja berat agar orang bisa membaca dan menulis dan bagaimana semua orang bisa bersekolah.

Kemudian literasi tingkat kedua yaitu orang bisa memahami. Jadi bisa mengerti pesan tersirat dari yang tersurat. Literasi tingkat ketiga adalah bagaimana orang bisa mengemukakan pendapat dan berinovasi, dan literasi keempat level yang paling tinggi yaitu kemampuan orang untuk memproduksi barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global.

Perpustakaan Nasional, lanjut Syarif, telah bekerja keras sehingga terus ada kemajuan literasi di Indonesia. Hal itu terbukti dari tiga tahun dalam masa kepemimpinannya, Pepustakaan Nasionional berhasil menjadi perpustakaan terbaik dunia di dalam top open akses jurnal ilmiah dengan kurang lebih 3-4 miliar artikel.

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional dalam acara 60 Minutes di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV
Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional dalam acara 60 Minutes di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV

“Artinya kami bisa melayani seluruh mahasiswa dan tenaga pendidik, dan sekarang kami berposes untuk semua sekolah bisa kita layani kerja sama dengan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan),” katanya.

Syarif mengatakan, untuk mencapai Indonesia Maju, literasi tidak bisa lagi sekadar bisa baca atau tulis. Sebab kalau sampai tamat perguruan tinggi pun, kemampuan literasi seseorang masih hanya bisa membaca dan menulis, maka negara ini tidak akan mendapatkan apa-apa.

“Karena itu, literasi harus sampai kepada kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu, yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Karena pada akhirnya persaingan global dalam tatanan ekonomi dunia adalah siapa yang bisa menciptakan produksi untuk konsumsi massal,” katanya.

Literasi dengan tingkat kemampuan menciptakan barang dan jasa, kata Syarif, sudah lama berkembang pesat di negara-negara maju seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara, Tiongkok, Singapura, dan Australia. Indonesia sudah harus berada di tahapan ini, sehingga bisa menjadi bangsa yang ikut bersaing di tingkat global.

Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando mengatakan konsep transformasi layanan dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) berbasis inklusi sosial dinilai mampu menjawab keresahan dan kekhawatiran masyarakat di situasi pandemi Covid-19 ini.
Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando.

Syarif menjelaskan, peringkat Indonesia soal baca tulis saat ini berada di urutan ke 53 atau kategori sedang. Saat ini, 96 persen masyarakat Indonesia sudah bisa membaca dan menulis. Sementara 4 persen yang belum bisa membaca dan menulis berada di wilayah Papua, Sulawesi Barat, dan daerah-daerah pemekaran baru seperti di Kalimantan Utara.
Kalau mengikut variabel literasi dunia, kata Syarif, maka berdasarkan variabel yang dikehendaki Unesco, syaratnya tiga buku baru setiap orang setiap tahun.

Jadi kalau penduduk Indonesia itu 270 juta jiwa, kita butuh sekitar 810 juta buku beredar di masyarakat setiap tahun,” kata Syarif. Syarif menjelaskan, Perpustakaan Nasional pada tahun 2021 ini akan fokus pada persoalan-persoalan literasi di sisi hilir dan hulu. Di sisi hilir fokus mengenai hasil survei bahwa faktanya masih rendah budaya baca.

Karena rendah budaya baca, kata Syarif, maka rendah indeks literasi. Kalau indeks literasi rendah, parameter yang dipakai dunia adalah daya saing global kita rendah, pendapatan perkapita rendah, tingkat kebahagiaan rendah, dan semua itu sudah fakta.

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional. Foto:  Investor Daily/Primus Dorimulu
Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Lalu, di sisi hulunya apa? Syarif mengatakan, di sisi hulunya bagaimana peran eksekutif, legislatif, yudikatif dan semua komponen bangsa sebagaimana diatur UUD 1945. “Tugas kita hanya ada empat (sesuai UUD 1945). Satu, negara ini didirikan dengan tujuan mencerdaskan anak bangsa siapa pun kita. Dua, mensejahterakan. Tiga, ikut serta dalam menjaga perdamaian dunia. Dan keempat adalah ketertiban,” ujar Syarif.

Tiga Aplikasi
Sebagai perpustakaan terbaik dunia, Perpustakaan Nasional telah menyediakan berbagai koleksi bacaan bermutu termasuk manuskrip. Bacaan-bacaan ini dapat diakses setiap saat pada tiga aplikasi di antaranya Kastara dengan 12 juta manuskrip dan iPusnas menyajikan 2 juta judul buku dan ribuan eksemplar termasuk di dalamnya terdapat tokoh-tokoh dunia.

Tentang manuskrip, Syarif mengatakan, ada tiga manuskrip yang disediakan yaitu Ilagaligo, Babat Diponegoro, Panji. Ketiga manuskrip ini telah diakui oleh dunia sebagai memory of the word.

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional dalam acara 60 Minutes di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV
Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional dalam acara 60 Minutes di BeritaSatuTV, Jumat (19/2/2021). Sumber: BSTV

“Kami pastikan bisa melayani sekitar 5 - 10 juta per detik dengan kemampuan 24 tera dengan akses internet yang cukup bagus,” ujar Syarif

Syarif mengatakan, perpustakaan nasional di seluruh Indinesia adalah sumber informasi, karena itu masyarakat Indonesia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah memprioritaskan pembangunan gedung perpustakaan sebagai jantungnya pendidikan.

“Kenapa? Karena ini merupakan suatu institusi peradaban untuk memastikan sejarah panjang Indonesia, perpustakaan sebagai jembatan ilmu pengetahuan di abad lampau, kini, dan yang akan datang,” ujar Syarif.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN