Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aksi unjuk rasa damai berakhir ricuh. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Aksi unjuk rasa damai berakhir ricuh. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Klaster Unjuk Rasa Sulit Dilacak

Senin, 19 Oktober 2020 | 06:40 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Ahli pola penyebaran penyakit (epidemiologi) Universitas Gadjah Mada (UGM) dr Riris Andono Ahmad menyatakan, kerumunan massa dalam jumlah besar seperti aksi unjuk rasa, selalu berisiko besar dalam penularan virus corona.

Selain memang sulit menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan penularan virus, dalam kerumunan itu pun akan memunculkan masalah perunutan riwayat penularan.

“Bagaimana mau tracing kalau kita tidak kenal orang di sekitar kita, kalau di pasar masih mungkin mengingat orang yang kontak tetapi kalau di kerumunan sulit mengingat,” kata Riris Andono baru-baru ini.

Sejumlah pelajar di interogasi polisi setelah diamankan untuk di data di Pos Polisi Lalu lintas Bunderan HI, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2020). Foto: SP/Joanito De Saojoao
Sejumlah pelajar di interogasi polisi setelah diamankan untuk di data di Pos Polisi Lalu lintas Bunderan HI, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2020). Foto: SP/Joanito De Saojoao

Bahkan jika peserta unjuk rasa berjanji untuk patuh para prokes, tidak ada jaminan tetap akan memakai masker dan jaga jarak selama melangsungkan aksi.

Riris juga mencontohkan, pada saat Lebaran yang lalu, aktivitas kumpul-kumpul pun sudah berkurang drastis, namun jumlah kasus positif Covid-19 pasca-Lebaran pun meningkat.

“Bagaimanapun, proses interaksi selama aksi tetap berbahaya, terlebih lagi banyak pengidap Covid yang tanpa gejala, khususnya anak muda,” ujarnya.

Aksi unjuk rasa damai berakhir ricuh. Foto: SP/Joanito De Saojoao
Aksi unjuk rasa damai berakhir ricuh. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Begitu juga dengan proses pelacakan kontak erat, sambung dia, menjadi tidak mudah karena dalam kerumunan aksi, tidak semua saling kenal. D-19.

“Tidak jaminan kalau peserta aksi tidak kontak dengan pembawa virus dan terkontaminasi selama aktivitas,” tegasnya.

Riris menyatakan, kegiatan yang memicu kerumunan besar tidak dilakukan.

“ Karena justru akan menambah beban baik pemerintah maupun masyarakatnya. Siapa yang bisa memastikan, droplet orang dekatan tidak menempel,” terangnya.

Aksi unjuk rasa damai berakhir ricuh. Foto: SP/Joanito De Saojoao
Aksi unjuk rasa damai berakhir ricuh. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Karena itu, sebaiknya para peser ta aksi secara sadar melaporkan diri dan memeriksakan diri. Hal ini untuk menghindari menulari anggota keluarga yang ditemui usai aksi.

“Sudah jelas kan, semua orang sekarang sudah tahu bahwa berkumpul, berkerumun itu akan menimbulkan klaster. Kalau saya perhatikan, peserta aksi memang tidak peduli dengan pencegahan penularan,” ucapnya.

Diketahui, kasus bar u Covid-19 di Indonesia bertambah 4.105 dalam data yang dikumpulkan selama 24 jam terakhir sampai Minggu (18/10) siang WIB. Dengan penambahan ini maka total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 361.867. (b1)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN