Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Konsumsi Gula dan Garam Berlebihan Potensi Hipertensi

Alex Dungkal dan Emral Ferdiansyah, Minggu, 30 November 2014 | 05:25 WIB

MEDAN-Kebiasaan mengkonsumsi gula, garam dan lemak (GGL) secara berlebihan berisiko terserang hipertensi, jantung, stroke, diabetes melitus dan penyakit tidak menular lainnya.

"Ini harus menjadi perhatian serius bagi masyarakat, jika tidak ingin terkena berbagai penyakit tersebut," kata Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan, M Ali Bata Harahap kepada Antara, Sabtu.

Ia mengatakan perubahan pola makan masyarakat yang saat ini terjadi, menjurus kepada sajian siap santap yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Untuk melindungi masyarakat dari konsumsi GGL berlebih ini, jelas dia, perlu dilakukan edukasi kepada produsen agar membuat label atau peringatan kandungan GGL pada makanan.

Dalam Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, pesan kesehatan yang harus dimuat berbunyi, konsumsi gula lebih dari 50 gram, natrium lebih dari 2.000 miligram, atau lemak total lebih dari 67 gram per orang per hari berisiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.

Selain produk pangan olahan, restoran siap saji juga diwajibkan mencantumkan informasi kandungan GGL ini.

"Namun, dalam Permenkes ini, usaha waralaba yang diwajibkan adalah usaha yang memiliki lebih dari 250 outlet atau gerai," katanya.

Sebelumnya Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Ekowati Rahajeng mengatakan Dinkes diharapkan untuk melakukan uji petik kandungan pada pangan industri-industri kecil.

Setiap tahunnya sedikit demi sedikit juga akan dilakukan uji petik ke beberapa industri kecil, sehingga nantinya semua sudah bisa memuat kandungan GGL pada produk makanan yang diproduksinya dengan benar.

"Tahap awal, industri kecil bisa mencantumkan informasi kandungan dengan memakai perkiraan. Tapi kita harap dengan seringnya Dinkes melakukan uji petik maka informasi kandungan gula, garam, dan lemak yang dicantumkan sesuai dengan kandungan pangan," katanya.(*/hrb)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA