Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung KPK. Foto ilustrasi: pemilu-news.com

Gedung KPK. Foto ilustrasi: pemilu-news.com

KPK Minta Kabareskrim Segera Laporkan Perkembangan Kasus Novel

Senin, 9 Desember 2019 | 07:37 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang meminta Kabareskrim Irjen Polisi Listyo Sigit Prabowo segera menyampaikan perkembangan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Menurut Saut, kasus Novel tetap dilaporkan ke KPK meskipun tidak ada perkembangan yang signifikan.

“Kita masih menunggu, kemarin saya sudah menjelaskan juga apapun hasilnya harus dilaporkan, apakah ada kemajuan atau tidak ada kemajuan,” kata Saut di sela-sela acara crosscheck bertajuk “Hentikan Diskon Hukuman Koruptor” di Jakarta, Minggu (8/12).

Menurut Saut, penyelesaian kasus Novel akan mempengaruhi indeks persepsi korupsi. Karena itu, kata dia, penting agar perkembangan kasus Novel disampaikan ke publik.

“Kalau memang mau menaikkan persepsi korupsi harus masuk ke detial-detailnya, bagaimana kita mendalami kasus ini, kemudian dilaporkan ke majuannya. Sehingga, kita bisa lihat memang dari waktu ke waktu ada kemajuan dengan demikian menuju kepada ditemukannya pelaku,” tandas dia.

Publik, kata Saut akan menaruh curiga jika pengungkapan kasus Novel tidak dilakukan secara transparan. Bahkan, tutur dia, bisa berdampak negatif terhadap keseriusan aparat penegak hukum dalam upaya pemberentasan korupsi.

“Jadi kalau itu dilakukan dengan tidak transparan tentu akan orang punya pandangan macam-macam dan itu yang kita tidak mau, lagi-lagi yang dipengaruhi kan persepsi. Sudah persepsinya rendah ya akhirnya kita dinilai sebagai negara yang tidak serius dalam memberantas korupsi,” pungkas dia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan bakal memanggil Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis, Senin (9/12) . Jokowi memanggil Idham untuk menagih perkembangan penyelesaian kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

“Nanti saya jawab setelah saya dapat laporan dari Kapolri. Senin akan saya undang Kapolri,” ujar Jokowi seusai meresmikan Tol Kunciran-Serpong di Gerbang Tol Parigi, Tangerang Selatan, Jumat (6/12).

Perbaiki Penjara

Saut mengatakan, lebih baik memperbaiki kondisi penjara dibandingkan memberikan grasi kepada koruptor dengan alasan sarana dan prasarana penjara tidak memadai untuk menjamin kesehatan koruptor.

Menurut Saut, idealnya penjara harus dibuat sedemikian rupa seperti seperti rumah sang koruptor.

“Dari 1000 yang dipenjara KPK baru beberapa orang yang diberi grasi dengan alasan tidak ada sarana dan seterusnya, ya saya pikir kita beresin sarananya dulu sehingga orang juga dipenjara seperti di rumah. Idealnya begitu,” ujar Saut.

Dia menilai lebih elegan jika pemerintah memperbaiki sarana dan prasaran penjara agar kebutuhan koruptor bisa terpenuhi. Bukan justru mengurangi masa tahanan dengan alasan kondisi kesehatan dan fasilitas tidak memadai. (b1)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN