Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

KWI: Pilpres Kesempatan untuk Perkokoh Bangunan Demokrasi

Kamis, 29 Mei 2014 | 17:58 WIB
Anis Rifatul Ummah

JAKARTA- Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat Katolik Indonesia untuk menjadikan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), 9 Juli mendatang sebagai kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi serta sarana bagi umat untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan negeri tercinta agar menjadi damai dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa.

“Marilah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini kita jadikan kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi serta sarana bagi kita untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan negeri tercinta kita agar menjadi damai dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa kita,” kata Ketua Presidium  KWI Uskup Agung Mgr Ignatius Suharyo dalam surat gembala KWI yang diterima di Jakarta, Kamis (29/5).
 
Uskup Suharyo  mengatakan bahwa ke depan bangsa Indonesia akan menghadapi tantangan-tantangan berat yang harus diatasi di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang baru, misalnya masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial, pendidikan, pengangguran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Masalah dan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan hidup dan upaya untuk mengembangkan sikap toleran,  inklusif dan plural demi terciptanya suasana rukun dan damai dalam masyarakat.



Menurut dia, tantangan-tantangan yang berat ini harus diatasi dengan sekuat tenaga dan tanpa henti. “Kita semua berharap semoga di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang akan terpilih, bangsa Indonesia mampu menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah itu,” kata Suharyo.
 
Lebih lanjut Ignatius Suharyo mendorong agar pada saat pemilihan mendatang umat memilih sosok yang mempunyai integritas moral. “Kita perlu mengetahui rekam jejak para calon Presiden dan Wakil Presiden, khususnya mengamati apakah mereka sungguh-sungguh mempunyai watak pemimpin yang melayani dan yang memperjuangkan nilai-nilai sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja: menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warga negara yang kurang beruntung,” ujar Suharyo.



“Kita sungguh mengharapkan pemimpin yang gigih memelihara, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu kenalilah sungguh-sungguh para calon sebelum menjatuhkan pilihan,” katanya lagi.

Ignatius Suharyo menambahkan agar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bisa berjalan dengan langsung, umum, bebas dan rahasia serta berkualitas, umat Katolik harus mau terlibat.

Oleh karena itu jika umat Katolik memiliki kesempatan dan kemampuan, sungguh mulia jika bersedia ikut menjaga agar tidak terjadi kecurangan pada tahap-tahap pemilihan. Hal ini perlu dilakukan melulu sebagai wujud tanggungjawabumat, bukan karena tidak percaya kepada kinerja penyelenggara Pemilu.



Selanjutnya, Mgr Suharyo juga mengimbau agar umat Katolik yang terlibat dalam kampanye mengusahakan agar kampanye berjalan dengan santun dan beretika, tidak menggunakan kampanye hitam dan tidak menggunakan isu-isu  SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

“Khususnya kami berharap agar media massa menjalankan jurnalisme damai dan berimbang. Pemberitaan media massa hendaknya mendukung terciptanya damai, kerukunan serta persaudaraan, mencerdaskan dan tidak melakukan penyesatan terhadap publik, sebaliknya menjadi corong kebaikan dan kebenaran,” katanya.
 
Dalam kesempatan itu, Suharyo menekankan agar umat Katolik berupaya sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan dan menentukan pilihan dengan hati dan pikiran yang jernih. KWI, lanjut dia, menyerukan agar umat  Katolik menggunakan hak untuk memilih dan jangan tidak ikut memilih. Umat juga diminta memilih tanpa dipengaruhi oleh uang atau imbalan-imbalan lainnya.  



“Sikap demikian merupakan perwujudan ajaran Gereja yang menyatakan, ‘Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum’ (Gaudium et Spes 75),” ucap Suharyo.
 
Pada penghujung surat gembalanya, Mgr Ignatius Suharyo mengajak umat Katolik untuk mendukung dan memberikan loyalitas kepada siapa pun yang akan terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019.

Segala perbedaan pendapat dan pilihan politik, menurut dia,  hendaknya berhenti saat Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada bulan Oktober 2014.

“Kita menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, menjadi seratus prosen Katolik dan seratus prosen Indonesia, karena kita adalah bagian sepenuhnya dari bangsa kita, yang ingin menyatu dalam kegembiraan dan harapan, dalam keprihatinan dan kecemasan bangsa kita ,” katanya.



Menutup surat gembalanya, Mgr Ignatius Suharyo juga mengajak umat Katolik Indonesia untuk  mengiringi proses pelaksanaan Pilpres dengan memohon berkat dari Tuhan, agar semua berlangsung dengan damai  serta berkualitas dan dengan demikian terpilihlah pemimpin yang tepat bagi bangsa Indonesia.



“Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya,” pungkas Mgr Ignatius Suharyo. (*/gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN