Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rizya Ardiwijaya (kiri), coral reef specialist untuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) saat menjadi pembicara dalam sesi Conservation Talks di

Rizya Ardiwijaya (kiri), coral reef specialist untuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) saat menjadi pembicara dalam sesi Conservation Talks di "Fit Festival for Sea Turtle", Jakarta pada 7 Desember 2019. ( Foto: Investor Daily / Happy Amanda )

Manfaat Penyu Sebagai Pengendali Ekosistem Laut

Minggu, 8 Desember 2019 | 21:33 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Indonesia dikenal dengan keanekarahaman hayati atau biodiversity yang paling tinggi di seluruh dunia dalam hal terumbu karang. Oleh karena itu tidak mengherankan jika keberadaan terumbu-terumbu karangnya mampu menarik perhatian hewan-hewan laut baik yang berukuran besar maupun yang kecil, semisal ikan karang dan penyu.

Bahkan dari tujuh spesies penyu, enam di antaranya dapat ditemui di kawasan pantai maupun pesisir Indonesia. Keenam spesies penyu tersebut adalah, penyu sisik, penyu hijau, penyu lekang, penyu tempayan, penyu belimbing, dan penyu pipih.

Namun data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan, enam spesies penyu tersebut kini dalam kategori rentan, terancam punah, hingga sangat terancam punah. Penangkapan penyu, perdagangan cangkang dan telur penyu, adalah beberapa penyebab terancamnya satwa ini.

Di samping itu, pembangunan yang tidak terkendali juga menyebabkan rusaknya pantai-pantai yang penting bagi penyu untuk bertelur. Demikian juga habitat tempat penyu mencari makan seperti terumbu karang dan hamparan lamun laut terus mengalami kerusakan akibat sedimentasi maupun kegiatan manusia.

Menurut Rizya Ardiwijaya, coral reef specialist untuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), keberadaan penyu sangat penting bagi lingkungan laut sebagai pengendali ekosistem.

“Sebagai hewan herbivora, penyu selalu memakan tumbuhan di dalam air, seperti ganggang atau rumput laut dan hal itu dapat membantu perkembangan terumbu karang sebagai sebagai habitat bagi hewan laut lain. Penyu juga ada yang memakan ubur-ubur, jadi sebaiknya tidak membuang sampah plastik ke laut karena penyu bisa mengira plastik itu adalah ubur-ubur. Maka itu terkadang ditemui ada penyu yang mati karena plastik di dalam perut,” ujarnya dalam Conservation Talks di Fit Festival for Sea Turtle, Jakarta, Sabtu (7/12).

Sementara itu dalam keterangan pers, Head of Nature and People Partnership YKAN Sally Kailola mengatakan, ancaman terhadap kelangsungan penyu ada dalam setiap siklus hidupnya, dimulai dari saat betina dewasa hendak bertelur hingga perkembangbiakan tukik atau anak penyu, dan kehidupan selanjutnya dalam fase remaja ke dewasa di perairan bebas.

“Yang paling memungkinkan bagi kita lakukan adalah mengadakan tempat yang aman bagi betina yang hendak bertelur yaitu pantai yang sepi, jauh dari kebisingan dan cahaya, serta mengelola sampah kita dengan benar. Khususnya sampah plastik, sehingga tidak berakhir di laut yang merupakan ancaman lain bagi penyu selain dimakan, juga terjerat dan mengakibatkan kematian,” katanya.

Anak penyu (tukik) dilepas kembali ke laut. Foto: Investor Daily/IST
Anak penyu (tukik) dilepas kembali ke laut. Foto: Investor Daily/IST

Perencanaan laut yang baik menyelaraskan kebutuhan ekonomi dengan tetap menjaga kelestariannya. Melestarikan alam dan segala makhluk hidup yang ada di dalamnya pun selaiknya menjadi misi setiap insan di muka bumi. Kolaborasi dari berbagai pihak akan membuat bumi ini tetap bisa dinikmati oleh generasi nanti.

“Harapan kami dengan menggelar kegiatan ini adalah lebih kepada kesadaran lingkungan secara umum. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, terhadap alam, kemudian ikut besama-smaa menjaga dengan melakukan hal paling kecil yang bisa dilakukan, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari rumah tangga, atau lingkungan tempat tinggal, semisal memilah sampah,” tutur Rizya.

Acara yang dikemas dalam acara Fit Festival for Sea Turtle ini diselenggarakan oleh House of Metamorfit (HOM) bekerja sama dengan YKAN, serta didukung oleh Pasar Seni Ancol, JNE express, dan Tukangsayur.com. Acara ini mengajak para peserta berolahraga bersama di alam terbuka yang akan terbagi ke dalam 5 sesi kelas yaitu Salsation, Pound Fit, Strong by Zumba, Zumba dan Aerobic yang dipandu oleh instruktur dari HOM.

Sekitar 300 anggota komunitas kesehatan dan kebugaran dari pelbagai penjuru kota Jakarta mendukung keberadaan ekosistem penyu sambil berolahraga bersama di Pasar Seni Ancol, Jakarta,

Ajang ini menjadi cara untuk mempublikasikan kepada masyarakat luas akan pentingnya melindungi habitat penyu. Di antaranya dengan membenahi tata ruang yang tumpang tindih antara pemanfaatan kawasan pesisir dan pembangunan pantai, kebutuhan permukiman, budidaya, serta aktivitas manusia lainnya. Kehilangan habitat adalah salah satu ancaman paling serius bagi kelangsungan hidup penyu. Sebagian dari pembelian tiket kegiatan digunakan untuk mendukung konservasi penyu yang dilakukan oleh YKAN.

“Setiap orang dapat menjadi “penjaga” alam dan berkontribusi terhadap keberlangsungan ekosistemnya. Dengan mengajak berolahraga di alam terbuka seperti ini, peserta akan mendapatkan tubuh bugar dengan cara-cara yang menyenangkan di pantai dan dapat terinspirasi untuk ikut menjaga alam, khususnya konservasi penyu,” ungkap Tasori Ithink dari House of Metamorfit.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN