Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkes Budi Gunadi Sadikin. Foto: IST

Menkes Budi Gunadi Sadikin. Foto: IST

Menkes: Indonesia Beruntung Sudah Kunci 600 Juta Dosis Vaksin

Kamis, 21 Januari 2021 | 13:48 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia beruntung telah berhasil mengunci 600 juta dosis vaksin atau 150% dari target jumlah vaksin. Hal ini seiring dengan terbatasnya kapasitas produksi vaksin dunia, karena semua negara ingin mendapatkan vaksin untuk menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Sampai sekarang kondisinya kita sudah memiliki secure komitmen delivery itu sekitar 300 jutaan vaksin, kita memiliki opsi delivery, jadi produksinya sudah firm, tapi deliverynya masih opsi sekitar 300 juta vaksin. Jadi kita sudah memiliki coverage 600 juta vaksin atau sekitar 150%  dari targetnya kita,” ujar Budi dalam webinar CEO Forum pada Kamis (21/1).

Ia menjelaskan bahwa total penduduk Indonesia sebanyak 269 juta penduduk. Untuk mencapai herd imunity sebesar 70% maka  harus dilakukan vaksinasi kepada 188 juta penduduk yang berusia diatas 18 tahun. Kemudian sebanyak 7 juta orang yang masuk dalam kategori ibu hamil, komorbit dan penyintas Covid-19 dikeluarkan dari target vaksinasi.

“Kita sudah keluarkan ibu hamil, komorbit dan yang sudah kena Covid ada 181 juta. Membutuhkan dua kali vaksin dua dosis, (jadi jumlahnya) 360 juta, kita ada 15% tambahan. Jadi kita membutuhkan 426 juta vaksin,” kata Budi.

Ia mengatakan bahwa pengadaan vaksin ada 4 jenis vaksin. Yakni vaksin Sinovac dari Tiongkok, vaksin Astrazeneca dari Inggris, Vaksin BioNtech Pfizer dari Jerman AS, dan Vaksin Novavax dari AS.

 “Jadi empat yurisdiksi secara geopolitik juga kita lebih nyaman narasinya, empat sumber berbeda dengan teknologi berbeda juga. Saya ingin sampaikan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang berhasil men-secure jumlah vaksinnya dengan cepat dan aman,” ucap dia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kapasitas produksi vaksin global saat ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan vaksin Covid-19  untuk mengatasi pandemi di dunia. Sebab  kapasitas produk tidak  bisa digunakan semuanya untuk memproduksi vaksin Covid-19 saja. Sebab, vaksin untuk TBC, rubella dan lainnya harus tetap diproduksi.

"Rakyat dunia 7,8 miliar. Jadi kalau mau herd immunity 70% dari populasi itu 5,5 miliar (harus divaksin). Artinya dibutuhkan 11 miliar dosis vaksin, dan kemampuan produksi sebelum ditambah vaksin lain, 6,2 miliar dosis per tahun sedunia," ujar.

Oleh karena itu proses pengadaan dan mengamankan vaksin Covid-19  itu tidak mudah. Sehingga ia mengasumsikan kemampuan produksi vaksin Covid-19 di dunia hanya setengah dari total kemampuan produksi, sehingga dibutuhkan waktu 3,5 tahun untuk sebuah negara dapat menyuntikkan vaksin kepada rakyatnya, negara tersebut telat untuk membooking vaksin.

Bahkan ia mencontohkan Negara Malaysia yang rakyatnya protes sebab belum mendapatkan (vaksin). 

Sementara itu, saat ini , negara-negara maju  telah bergerak cepat dengan memesan vaksin tersebut dalam jumlah yang besar. Hal itu jelas mempersulit negara berkembang, apalagi miskin, untuk mendapatkan vaksin.

"Semua negara maju telah mengijon, sampai 3-4 kali populasinya, jadi ini masalah dunia yang WHO juga sangat concern," tegasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN