Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (ist)

Menkes Budi Gunadi Sadikin. (ist)

Menkes:  Manfaat JKN  akan Difokuskan  Penanganan Promotif dan Preventif

Kamis, 16 September 2021 | 16:21 WIB
Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk mengimbangkan belanja kesehatan yang saat ini mencapai   Rp 490 triliun  per tahun.  Pihaknya, sedang  merumuskan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tambahan dengan fokus pada promotif dan preventif.

Budi menuturkan, fokus pada tindakan promotif dan preventif karena pembiayaan lebih murah dan memberi kenyamanan pada masyarakat.  Sedangkan, terjadi saat ini anggaran belanja kesehatan dari Rp 490 triliun, sebanyak Rp 133 triliun fokus untuk perawatan di rumah sakit.

“Saat ini  kami  bekerja sama dengan Kementerian Bappenas dan Kementerian Keuangan untuk merapikan rencana strategis  Kementerian Kesehatan terutama ini disebabkan dengan adanya pandemi  memporakporandakan  sistem kesehatan dan membuka  banyaknya peluang untuk kita melakukan transformasi,” kata Budi  pada Rapat Kerja dengan Komisi IX di Gedung DPR, Kamis (16/9/2021).

Adapun transformasi ini dari sisi pelayanan primer dan dari sistem pembiayaan kesehatan ini untuk memastikan program JKN kedepannya  fokus pada  promotif dan preventif.

Selain itu, memastikan  perumusan manfaat JKN secara sistematis bisa meningkatkan efektivitas. “Jadi tepat sasaran efisiensi dan juga rasa keadilan dan keberlanjutan dari mekanisme JKN ini,” ucapnya.

Adapun program promotif dan preventif  yang dimaksud, yakni  fokus peningkatan imunisasi dan proses skrining lebih dini. Misalnya  untuk mencegah kanker atau jantung  dengan skrining lebih dini tentu akan jauh lebih nyaman dan murah untuk masyarakat.

Selain itu, Kemkes juga mengusulkan agar sistem kapitasi di  puskesmas nanti selain berbasis jumlah orang, juga berbasis aktivitas. 

"Jadi makin banyak yang divaksin, semakin banyak dapatnya dia. Makin banyak dia mengunjungi ibu dan anak, makin banyak juga dia dapatnya. Makin banyak yang bersangkutan mengawasi pertumbuhan anak untuk stunting, makin banyak juga puskesmas itu akan dapat, sehingga benar-benar nanti arahnya ke aktivitas yang sifatnya promotif dan preventif," paparnya.

Dengan begitu, lanjut Budi,  ada perubahan konsep dasar keperawatan (KDK). Budi menyebutkan, pihaknya sudah melakukan penyusunan naskah akademik dan telah diserahkan kepada BPJS untuk tahap finalisasi.

Selain itu, pihaknya juga berdiskusi dengan organisasi profesi  mengenai definisi KDK. Hal ini diharapkan akan tuntas tahun depan.

Adapun kerangka KDK disusun Kemkes memasuki beberapa manfaat tambahan seperti membuat mekanisme urun biaya atau benefit sharing  agar bisa melibatkan pihak swasta.

“Jadi misalnya asuransinya di sini bisa di combine benefitnya dengan asuransi-asuransi swasta supaya nanti secara keseluruhan kita melihat bebannya Rp 490 triliun itu, bisa terintegrasi mana yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan mana yang bisa ditanggung oleh asuransi swasta ya, sehingga bisa seimbang kita juga nanti akan mengatur mengurangi duplikasi,” paparnya.

Penguatan promotif dan preventif yang akan masukkan  KDK yaitu penyuluhan, pencegahan primer dan pencegahan sekunder. Dalam hal ini, melakukan skrining sehingga  mengetahui  lebih awal dan biaya  jauh lebih murah dan lebih nyaman.

Untuk mendukung promotif dan preventif ini, Budi menyebutkan, saat ini dengan adanya perkembangan teknologi, pihaknya juga memanfaatkan  teknologi bidang kesehatan.

Saat ini untuk penanganan Covid-19  telah ada 11  layanan telemedicine serta bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk memberi layanan di daerah menggunakan teknologi seperti telepon maupun WhatsApp  sehingga mengurangi pertemuan  secara fisik dan untuk memperluas jangkauan meningkatkan pelayanan dan mengurangi biaya layanan kesehatan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN