Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi vaksin. Foto: Pixabay.

Ilustrasi vaksin. Foto: Pixabay.

Meski Divaksin Orang Harus Tetap Jalankan Protokol Kesehatan

Rabu, 9 September 2020 | 20:01 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id - Menteri BUMN, Erick Thohir menegaskan bahwa vaksin Covid-19 yang saat ini masih dalam tahap pengujian memiliki limitasi. Vaksin hanya bersifat jangka pendek hanya bertahan kurun waktu 6 bulan hingga 2 tahun sejak disuntiikan

Sehingga, jika seseorang telah disuntikan vaksin tersebut, tak bisa serta-merta terbebas dari penularan virus corona untuk selamanya. Oleh karena itu protokol kesehatan harus tetap dijalankan.

“Sebagai catatan, vaksin yang ditemukan hari ini untuk Covid-19 jangkanya masih 6 bulan sampai 2 tahun, jadi bukan vaksin yang bisa disuntik selamanya, jadi 6 bulan sampai 2 tahun,”ujarnya di Jakarta, Rabu (9/9).

Erick Thohir. Foto: IST
Erick Thohir. Foto: IST

Erick menegaskan jika seseorang telah divaksin, maka tetap harus menjalankan protokol kesehatan dalam beraktivitas.   

“Bukan di balik gara-gara vaksin tidak perlu protokol lagi, enggak. setelah diimunisasi atau vaksinasi bukan berarti sehat selama lamanya tidak terkena selama lamanya karena itu protokol Covid harus terus dijalankan memang melelahkan, tapi ini menjadi bagian kehidupan baru,” ujarnya.

Dokter dan Perawat  

Sebelumnya Erick mengatakan bahwa dokter dan perawat akan menjadi prioritas vaksinasi lebih awal yang jumlahnya mencapai 1,5 juta.  

Kendati begitu, ia memastikan akan terus melakukan komunikasi dan koordinasi bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) terkait kriteria dokter dan perawat yang turun melakukan vaksinasi.

“1,5 juta yang harus dapatkan vaksin duluan karena beliau ini yang terdepan para pahlawan. Karena itu kalau memang nanti bahan baku vaksin sudah diproduksi ini yang kami masukkan dalam skala prioritas berdasarkan data real siapa yang bisa dikedepankan untuk divaksin dulu,” tuturnya.

Ketua Umum PP PPNI Harif Fadhillah mengungkapkan mitigasi vaksin ini harus dilakukan secepat mungkin sebab para petugas kesehatan ini merupakan pihak yang memiliki risiko paling tinggi.  

“Mungkin gak bisa serempak dan bertahap maka perlu skala prirotas berisiko tinggi, kami bantu mapping dan dukung mitigasi,” tuturnya.

Sementara Ketua Umum PB IDI dr. Daeng M. Faqih menyebutkan proses vaksinasi selambat-lambatnya harus dilakukan dalam waktu enam bulan dan dilaksanakan secara serempak oleh seluruh masyarakat Indonesia, agar kasus kasus Covid-19 segera mereda.

Selain itu, jangka waktu vaksin ini hanya bisa bertahan selama 6 bulan hingga 2 tahun.

“Ini harus gotong royong dan kerja sama, masyarakat dan ada yang perlu dibantu dan yang mampu bayar sendiri. Vaksin ini kekuatan melindungi ada keterbatasan waktu. Serempak kalau bisa jangka waktu yang dibutuhkan enam bulan harus selesai, kalau ga gotong royong gak maksimal,”tuturnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN