Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.

Nadiem: Semboyan Ki Hajar Dewantara Bisa Digunakan untuk Analogi Sekolah

Minggu, 2 Mei 2021 | 21:46 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, filosofi dari  semboyan Ki Hajar Dewantara yang hingga kini melekat adalah Merdeka Belajar.

Selain itu, semboyan dalam bahasa Jawa yakni  ing ngarsa sung tulada (di depan,  memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah memberi bimbingan), tut wuri handayani (dari belakang memberi dorongan) bisa digunakan sebagai analogi sekolah. 

Nadiem menyebutkan, dalam menerjemahkan  semboyan tersebut, sekolah- sekolah yang lebih maju, misalnya sekolah penggerak menjadi pemimpin dan melihat menjadi teladan.

Sedangkan sekolah- sekolah di tengah, mereka membimbing kelasnya mereka melakukan transformasi di dalam. 

Sementara, sekolah- sekolah yang masih di belakang diberi dorongan dan mereka harus meminta ke dinas ke pemerintah untuk bantu meningkatkan kualitasnya.

“Jadi itu salah satu filsafat gotong royong,  tapi ekosistemnya  yang dikuatkan. Jadi menurut saya itu yang terpenting,” kata  Nadiem  saat berdialog dengan   Presiden Joko Widodo  dalam siniar atau podcast tentang Hari Pendidikan Nasional  2021, Minggu (2/5/2021).

Kendati demikian, Nadiem menyebutkan, sepakat dengan  pendapat  Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa kemerdekaan berpikir, kemerdekaan berkarya, kemerdekaan bertanya. Menurut Nadiem,  hal tersebut menjadi impian dari Kemdikbudristek yang terjadi di kelas, sehingga anak-anak ini bisa merdeka dalam menjadi apapun yang sesuai dengan minat dan bakat mereka 

Pada kesempatan sama, Nadiem juga mengatakan, sebelum adanya pandemi sebetulnya banyak sekali  hal perlu diubah dalam pendidikan. Namun, dengan adanya pandemi ini menjadi semakin jelas hal-hal yang perlu diubah seperti  kesenjangan digital, misalnya akses internet yang tidak merata, akses guru berkualitas yang tidak merata,  penganggaran yang tidak memprioritaskan  daerah 3T yaitu terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).

“Itu semua  ketahuan semuanya,  karena pandemi dan menjad koreksi kita. Kita juga sudah  melihat   guru yang terpaksa belajar berbagai platform pendidikan,” ucap Nadiem.

Lanjut dia, hal tersebut tidak akan pernah terjadi jika tidak ada pandemi. Namun dengan pandemi ini jumlah guru   yang belajar teknologi   dan mereka mengakses seminar-seminar  daring tingkat partisipasi sangat tinggi. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN