Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IHSG. Foto ilustrasi: IST

IHSG. Foto ilustrasi: IST

Optimisme di Pasar Saham

Senin, 25 Februari 2019 | 09:37 WIB

Tak ada keraguan sedikit pun bahwa pasar saham domestic sedang berlimpah optimisme. Jika akhir tahun lalu indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 2,54% pada level 6.194,50, tahun ini IHSG diprediksi tembus level psikologis 7.000 atau menguat 13%.

Sinyal bahwa IHSG tahun ini bakal terus melaju di zona hijau sudah berkelebatan. Selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal Januari hingga akhir pekan lalu (22 Februari), IHSG menguat 4,95%. Penguatan IHSG diikuti aksi borong saham oleh para investor asing. Selama tahun berjalan, asing membukukan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 10,88 triliun.

Secara historis, pergerakan IHSG saat ini lebih kinclong disbanding periode sama tahun lalu. Pada Januari- 23 Februari 2018, indeks memang menguat 4,15%, namun investor asing terus melepas saham hingga membukukan penjualan bersih (net sell) Rp 7,5 triliun. Aksi jual saham oleh investor asing berlanjut sampai pengujung tahun, sehingga total net sell asing pada akhir 2018 mencapai Rp 50,74 triliun.

Laju positif IHSG saat ini mengindikasikan banyak hal. Pertama, tahun politik tak membuat investor di lantai bursa khawatir, cemas, apalagi panik. Mereka percaya, pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislative (pileg) secara serentak pada 17 April mendatang akan berlangsung aman, damai, tertib, dan demokratis.

Bangsa Indonesia sudah berpengalaman menggelar pemilu yang aman dan damai. Itu sebabnya, para investor di pasar saham domestik yakin suhu politik yang menghangat dalam beberapa waktu terakhir tak akan memanas, apalagi sampai ‘membara’. Sedikit ketegangan yang terjadi saat ini hanya ‘riak-riak’ kecil dan ‘bumbu’ pemilu semata. Justru karena riak-riak itu, perhelatan pemilu di Indonesia menjadi meriah dan dinamis.

Kedua, para investor punya ekspektasi kuat bahwa siapa pun yang terpilih menjadi presiden nanti akan mampu menjadikan perekonomian Indonesia lebih baik. Tahun ini, perekonomian nasional dipatok tumbuh 5,3%, lebih tinggi dari pencapaian tahun lalu 5,17%. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, emiten-emiten yang melantai di BEI akan menorehkan kinerja lebih baik. Laba mereka akan meningkat, sehingga harga sahamnya naik.

Ketiga, secara empiris, pemilu selalu menjadi berkah di lantai bursa. Pada 1999 yang merupakan pemilu pertama setelah reformasi (untuk memilih anggota legislatif), IHSG melonjak 70,06%. Saat pilpres pertama era reformasi digelar bersama pileg pada 2004, indeks saham kembali melejit 44,56%. Pada tahun pemilu berikutnya (2009 dan 2014), IHSG melambung masing-masing 86,98% dan 22,29%.

Penguatan IHSG pada tahun pemilu merupakan bentuk apresiasi para investor saham terhadap keberhasilan Bangsa Indonesia menggelar pemilu yang aman, damai, dan demokratis. Tak hanya itu, pemilu Indonesia adalah pesta demokrasi yang terlegitimasi (legitimate). Presiden dan anggota legislative yang terpilih secara absah akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang kredibel.

Keempat, para investor maklum bahwa faktor-faktor pengganggu IHSG kini tak sedahsyat dulu. Pada 2018, pasar finansial global diharu biru kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Kebijakan The Fed yang hawkish (naik agresif) tahun lalu memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar saham dan menggerus nilai tukar rupiah.

Empat kali kenaikan fed funds rate (FFR) ke posisi 2,25-2,50% tahun lalu memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) enam kali ke level 6%. Tahun ini, pasar finansial global diperkirakan lebih tenang karena The Fed diestimasikan hanya menaikkan dua kali suku bunga acuan. Kenaikan FFR yang landai (dovish) akan mendorong dana-dana global masuk ke emerging markets karena instrument investasi di AS tak seatraktif dulu.

Para pengelola hedge fund akan mencari negara yang menawarkan keuntungan investasi (return) lebih tinggi. Indonesia termasuk di antaranya Pasar finansial global pada 2019 juga diperkirakan lebih anteng karena tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok mereda.

Pekan ini memang pekan yang amat menentukan menjelang tenggat awal Maret. Pasar akan bereaksi negatif jika kedua Negara tidak mencapai mufakat. Namun, menilik pernyataan AS dan RRT bahwa perang dagang sesungguhnya merugikan kedua negara, sepertinya kesepakatan itu tinggal menunggu waktu saja.

Jika asumsi dan skenario-skenario tersebut berjalan sesuai harapan, tak ada alasan bagi investor untuk merasa galau ketika membeli saham-saham favorit. Setidaknya ada empat sector yang sahamnya dianggap menjanjikan tahun ini, yakni barang konsumsi, keuangan (khususnya perbankan), perdagangan, dan infrastruktur. Potensi keuntungan (capital gain) saham sektor konsumsi, perbankan, perdagangan, dan infrastruktur cukup relevan dengan situasi ke depan.

Sektor konsumsi dan perdagangan antara lain akan terdongkrak belanja pemilu dan terjaganya daya beli masyarakat. Sektor perbankan akan terdorong kinerja emiten bank dan suku bunga acuan yang lebih terukur. Sektor infrastruktur bakal ditopang proyekproyek infrastruktur yang beroperasi penuh tahun ini.

Meski demikian, investor saham tak boleh terbius oleh optimisme dan ekpsektasi. Optimisme dan espektasi hanya bagian kecil dari ‘mesin’ yang menggerakkan pasar saham. Investor harus tetap cerdas, bijak, dan waspada. Krisis di pasar saham ibarat pencuri. Ia bisa datang kapan saja, tak mengenal toleransi, tak kenal kompromi, terutama terhadap orang-orang yang lengah dan lalai.  (*)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA