Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas ber-APD lengkap melaksanakan pemakaman jenasah dengan protokol Covid-19 di TPU Srengseng Sawah. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Petugas ber-APD lengkap melaksanakan pemakaman jenasah dengan protokol Covid-19 di TPU Srengseng Sawah. Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Pakar Epidemiologi: Jumlah Kasus Covid-19 Meningkat di Wliyah Perkotaan

Selasa, 19 Januari 2021 | 05:52 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM UI), Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, jumlah kasus meningkat harian karena ada peningkatan jumlah testing. Pasalnya, secara nasional jumlah spesimen yang dites per hari mencapai 80.000.

Tri menuturkan, dengan kapasitas tes 80.000 per hari dibagi jumlah kasus harian menunjukkan wabah Covid-19 di Tanah Air masih tinggi.

“Jadi menurut saya, itu positivity rate (hasil tes positif Covid-19) di negara kita masih tinggi menunjukkan wabah me ningkat,” kata Tri kepada Beritasatu.com, Minggu (17/1).

Menurut Tri, jumlah kasus Covid-19 akan terus meningkat ini terjadi di kota besar. Sebab peningkatan testing dominan hanya di wilayah perkotaan. Sementara di pedesaan masih minim, sehingga strategi 3T atau testing, tracing, dan treatment belum maksimal. Hal ini membuat kasus Covid-19 terjadi di desa tidak terlihat.

Tri menyebutkan, minimnya ketersediaan testing ini, membuat masyarakat di daerah beraktivitas seperti kondisi nor mal, seolah-olah tidak me ngalami pandemi Covid-19. Masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes) 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

“Saya sedih begitu ke Serang, Banten atau ke Bogor ke desa- desanya seperti tidak ada Covid-19. Mereka tidak menerapkan protokol kesehatan,” ucap Tri.

Petugas medis menyiapkan peralatan untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menyiapkan enam ruangan vaksin dengan empat tahapan yaitu registrasi, skrining, vaksinasi, dan observasi yang akan dilakukan hari ini. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Petugas medis menyiapkan peralatan untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sementara itu, ahli epidemiologi FKM UI lainnya, Syahrizal Syarif mengatakan, peningkatan kasus saat ini karena pemerintah daerah (pemda) melaporkan kasus cepat dari sebelumnya. Hal ini sering dengan adanya kegiatan vaksinasi sudah mulai dilakukan. Selain itu, terjadi peningkatan pemeriksaan specimen di era Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

Menurut Syahrizal, Menkes Budi menargetkan untuk ada peningkatan pemeriksaan specimen dan mempercepatkan hasil pemeriksaan. Dengan begitu ada, perbaikan koordinasi data antara pemda sama pemerintah pusat, sehingga daerah langsung melaporkan hasil pemeriksaan spesimen.

“Menteri baru jadi bersemangat. Lalu ingin pemeriksaan spesimennya dimaksimalkan, ya sudah hasilnya begini,” kata Syahrizal.

Menurut Syahrizal, dengan peningkatan kapasitas pemeriksaan, tentu terjadi peningkat an kasus, sehingga tidak menutupi kemungkinan bisa mencapai 17.000 per hari hingga 20.000 per hari. Apalagi kabupaten yang biasanya sering terlambat melaporkan hasil menjadi lebih cepat.

“Tadinya ada 70 kabupaten yang belum melaporkan dalam 24 jam, sekarang sih cenderung berubah melaporkan secepat-cepatnya,” ujar dia.

Selanjutnya, Syahrizal menyebutkan, hasil pemeriksaan test polymerase chain reaction (PCR) yang cepat, sehingga lebih cepat mengetahui penambahan kasus baru. Untuk itu, apabila pemeriksaan spesimen se perti dilakukan oleh negara lain seper ti Brasil atau India, maka kasus Covid-19 secara nasional bisa mencapai 1,5 juta. Akan tetapi, kapasitas tes Indonesia masih belum memadai.

Pada kesempatan sama, Syahrizal juga memberikan pandangan terkait kasus peningkatan kasus Covid-19 di DKI Jakarta.

Menurut Syahrizal, peningkatankasus Covid-19 di Jakarta, sebetulnya tidak semua dialami pasien yang memiliki KTP DKI Jakarta atau tinggal di Jakarta. Namun, pasien kirim dari beberapa daerah di sekitar Jakarta, seperti Bekasi dan Bogor setelah hasil tes antigen positif atau reaktif.

Syahrizal menyebutkan, saat ini tes antigen relatif mudah di temui di semua wilayah, sehingga pasien bergejala langsung melakukan tes antigen. Sayangnya, tidak semua daerah mampu melakukan tes PCR untuk pasien yang bergejala dan hasil tes antigen positif. Ia mencontohkan kasus yang ditemui di Depok, Jawa Barat (Jabar).

“Pasien ada gejala dan ditest antigen reaktif, tetapi cenderung pemerintah Depok tidak memeriksa PCR. Saya tidak tahu apakah hemat PCR, sehingga pasien-pasien di Depok itu dikirim ke Jakarta tanpa pemeriksaan PCR. Nanti sudah masuk Wisma Atlet, baru diperiksa PCR, sehingga laporannya kasus Jakarta,” ujar dia.

Syahrizal menyebutkan, Jakarta banjir pasien bergejala Covid-19 kiriman dari wilayah se kitar, karena rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 daerah tersebut tidak bisa menerima pasien karena kapasitas penuh, sehingga semua dirujuk ke Wisma Atlet. (b1)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN