Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penumpang KRL Commuter Line dilarang memakai masker Scuba. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Penumpang KRL Commuter Line dilarang memakai masker Scuba. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Pandemi Dorong Perubahan Budaya Bertransportasi Publik

Rabu, 30 September 2020 | 20:51 WIB
Fajar Widhiyanto

 

 

Merebaknya pandemi Covid-19 yang diikuti oleh kebijakan pemerintah pusat maupun daerah yang mengeluarkan protokol pencegahan penyebaran virus dalam aktivitas sehari-hari, belakangan telah menciptakan sebuah budaya baru dalam bertransportasi publik. Saat menggunakan moda transportasi KRL misalnya, publik kini lebih teratur dalam hal antrean, disiplin menggunakan masker, serta tidak berbicara saat termasuk menjaga jarak satu sama lainnya. Maka tak salah jika pandemi telah menjadi faktor pendorong perubahan kultur bertransportasi publik.

Disampaikan Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti, situasi perubahan tersebut terjadi karena adanya partisipasi semua pihak, tak terkecuali kesadaran dari para pengguna transportasi yang semakin meningkat dalam melaksanakan protol kesehatan.

“Tentunya Pemerintah berterima kasih atas partisipasi dan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan pengguna transportasi,” ujar Polana dalam pernyataannya yang diterima redaksi (30/9). Menurut Polana kerja keras yang dilakukan oleh Pemerintah dalam menyusun regulasi dan menerapkan potokol kesehatan di sektor transportasi bersama operator dan stakeholder lainnya pada akhirnya membuahkan hasil, meski proses yang dilalui tidak mudah.

Lebih lanjut Polana menjelaskan bahwa pemerintah akan terus menyikapi kondisi ini dengan berbagai langkah yang diharapkan mendorong perubahan-perubahan positif yang lain. Misalnya tentang implementasi kebijakan transportasi ramah lingkungan dengan mendorong peningkatan penggunaan Non Motorized Transportation (NMT).

Non Motorized Transportation di manapun di dunia ini sebenarnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari urban transport, hanya saja di Indonesia khususnya di Jabodetabek belum terlalu memasyarakat, “kata Polana. Kondisi saat ini menurut Polana lebih memberikan peluang untuk mendorong jalan kaki dan bersepeda menjadi pilihan masyarakat bertransportasi untuk jarak -jarak yang terjangkau dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

“Pemanfaatan Non Motorized Transportation juga dapat dilakukan pada tahapan first mile maupun last mile saat menggunakan angkutan umum massal,” tutur Polana.

Bahkan bagi para pengguna sepeda, saat ini BPTJ tengah menyiapkan fasilitas bagasi gratis bagi pengguna Jabodetabek Residence Connexion ( JR Connexion ) yang membawa sepeda lipat. “Dengan rencana tersebut, pengguna bus yang tinggal di kawasan Jabodetabek dapat membawa sepeda untuk digunakan pada tahapan first mile dan last mile setelah menggunakan angkutan umum massal,” jelas Polana.

Sebelumnya dalam "Langkah Sehat di Masa Pandemi Covid-19” yang digelar Senin (28/9) lalu, pengamat transportasi Yayat Supriatna yang menjadi salah satu nara sumber menyebut perihal kultur baru yang terbangun dalam bertarnsportasi yang didorong dari upaya pencegahan enyebaran virus Covid-19. “Artinya, pandemi telah mendorong struktur yang membangun atau mengubah kultur,” kata Yayat.

Dalam kesempatan sama, Harya S Dillon selaku Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia sepakat bahwa pandemi telah mengubah kultur masyarakat ketika bertransportasi. Dillon juga menyarankan agar seluruh pemangku kepentingan dapat membuat standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan layanan transportasi publik seperti di tengah pandemi saat ini.

Sekedar informasi, pandemi Covid-19 juga menjadi momentum BPTJ untuk melakukan berbagai pembenahan terkait layanan dengan memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih sehat dan efisien.

Polana menyebut salah satunya peluncuran layanan e- ticketing di Terminal Tipe A Jatijajar Depok dan aplikasi Lacak Trans oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia. Menurut Polana, saat ini jumlah penumpang angkutan umum mengalami penurunan dibandingkan pada kondisi normal. Momen ini menjadi kesempatan untuk melakukan pembenahan melalui penerapan layanan e-ticketing.

“Harapannya setelah pandemi usai, e-ticketing akan menjadi kelengkapan layanan terminal. Sementara di tengah pandemi ini, layanan e-ticketing ini diharapkan dapat membantu mengurangi potensi kontak fisik secara langsung,” ujar Polana.

E-ticketing merupakan sistem elektronik berupa layanan digital yang sudah tersedia di Terminal Tipe A Jatijajar, Kota Depok. Layanan e-ticketing Terminal Jatijajar memiliki tiga fitur utama, yaitu Check in AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) berfungsi mencetak tiket /boarding pass bus AKAP, Check in AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) berfungsi mencetak tiket /boarding pass bus AKDP, dan GO SHOW yang berfungsi sebagai fitur pembelian tiket pada vending machine.

Sementara Lacak Trans merupakan sebuah aplikasi yang dikembangkan untuk masyarakat Jabodetabek guna memantau risiko penularan Covid-19 baik di daerah mereka berada, di daerah yang akan mereka tuju, di kendaraan yang akan mereka tumpangi, maupun di sepanjang rute jalan yang akan mereka lalui.

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN