Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para Teolog Moral Katolik Indonesia peduli merawat bumi melakukan diskusi dalam jaringan

Para Teolog Moral Katolik Indonesia peduli merawat bumi melakukan diskusi dalam jaringan

Para Teolog Moral Katolik Indonesia Peduli Merawat Bumi

Kamis, 23 Juli 2020 | 10:53 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

SEMARANG, investor.id -  Dalam upaya memberikan usulan kepada Para Uskup Se-Indonesia yang akan mengadakan Sidang Konferesi Wali Gereja (KWI) November 2020 mendatang, para Teolog Moral Katolik Indonesia yang bergabung dalam Forum Teolog Moral Indonesia melangsungkan seminar dalam jaringan (Sedaring) setiap pukul 10.00 – 12.00 WIB pada tiga kali Rabu yakni dimulai pada 15 Juli, 22 Juli 2020, dan terakhir 29 Juli 2020 mendatang.

Demikian dikemukakan Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Kandidat Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata, dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Romo Aloys mengatakan, para teolog moral diharapkan memberikan pengarahan praktis terkait upaya merawat Bumi  berpangkal terutama dari kesadaran dan praksis jemaat dalam masyarakat Indonesia sekarang ini, dan bercorak sosial dan ekumenis.

“Harapannya, dalam sidang KWI 2020 mendatang, suatu dokumen yang memuat suatu program bagi umat Katolik di Indonesia supaya menjadi ‘agen aktif’ yang menanggapi krisis ekologis global dapat dihasilkan dan diterbitkan,” ujarnya.

Aloys Budi Purnomo Pr, Anggota FKUB Jateng, Anggota The Soegijapranata Institute, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata
Aloys Budi Purnomo Pr, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata

Dengan alasan bahwa seyogyanya, dokumen ini tidak dimulai dari pemikiran konseptual, melainkan dari pengalaman praksis, yakni apa yang sedang dibuat atau akan dibuat, juga yang bersifat dialogis-ekumenis, yakni melibatkan komunitas-komunitas lain yang merespon isu yang sama.

“Kita tidak dapat merespons persoalan lingkungan hidup dan kita tidak bisa bertindak sendirian,” katanya.

Tema “Merawat Bumi” diusulkan oleh Ketua Presidium KWI, Romo Ignatius Kardinal Suharyo yang saat ini melayani sebagai Uskup Agung Jakarta. Tema yang sama akan menjadi tema untuk sidang KWI pada bulan November 2020 mendatang.

Tema tersebut juga disetujui para Uskup seluruh Indonesia dari Medan hingga Merauke. Hasil rekomendasi dan materi dari Forum Teolog Moral Indonesia pun akan dibahas bersama dalam hari studi KWI, yang akan berlangsung tanggal 2-4 November 2020 mendatang.

“Dari sana diharapkan akan lahir rumusan pokok-pokok pengarahan KWI untuk praksis merawat Bumi,” ujar Romo Aloys Budi Purnomo.

Romo Dionisius Bismoko Pr dan Romo Paulus Bambang Irawan SJ bertindak sebagai host berturut-turut dalam dua sedaring tersebut. Sedaring diikuti para teolog moral Katolik se-Indonesia, dari Pematangsiantar hingga Jayapura, sedikitnya diikuti oleh 26 peserta dengan empat orang sebagai pengamat.

Ada pun yang menjadi pengamat adalah Romo Paulus Wiryono SJ (mantan Rektor Unika Soegijapranata Semarang dan juga mantan Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta), Romo Al Andang Binawan SJ (aktivis lingkungan di Jakarta), Romo Aloys Budi Purnomo Pr (mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata Semarang), dan Sahiron Syamsuddin Pengamat (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Pada sedaring kedua, Rabu (22/7/2020), hadir dua narasumber, yakni Michael S Northcott, seorang Pastor Gereja Anglikan Ingris dan Indonesian Concortium of Religious Studies Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) dan Romo Paulus Wiryono P SJ.

Northcott berbicara dan mereview tentang Environmentalism, Economic Development, and Religious Traditions in Indonesia After Covid-19. Sedangkan Romo Wiryono berbicara tentang bagaimana agama (Gereja) bersama merawat Bumi? Bersama siapa? Itu pertanyaan yang diajukan Romo Aloys Budi Purnomo Pr yang dijawab sendiri bahwa kebersamaan itu terjadi dengan semua umat beragama lain beserta para pemimpinnya untuk merawat Bumi.

Menurut Northcott, krisis Covid-19 memberikan momen historis yang unik untuk meninjau asal-usul dan tujuan lingkungan hidup Indonesia, termasuk peran tradisi keagamaan.  Krisis ini mempertajam kekhawatiran lingkungan yang ada tentang dampak kesehatan dan keadilan manusia dan ekologis dari pembangunan ekonomi di Indonesia. 

Masyarakat yang paling terkena dampak oleh proyek-proyek pembangunan seperti perkebunan kelapa sawit, tambang, bendungan, jalan raya baru dan pembuangan limbah beracun dan industri lainnya adalah masyarakat adat, dan petani petani pedesaan yang sering kali secara lingkungan dikeluarkan dari tanah leluhur mereka dan tempat tinggal oleh perkembangan tersebut. 

Perkembangan ekonomi semacam ini melahirkan ketidakadilan lingkungan terhadap masyarakat adat yang tidak termasuk dalam konstitusi Indonesia dari rasisme hukum formal hingga 2017. Padahal, secara historis kepercayaan dan kebiasaan masyarakat adat sangat penting dan menopang keanekaragaman hayati yang tinggi dan ketahanan ekosistem habitat mereka.

Kurangnya rasa hormat terhadap batas spesies manusia dalam saintisme modern dan penolakan ilmiah bahwa agama yang mengatur hal ini memiliki manfaat ekologis atau kesehatan manusia sangat nyata dalam wabah virus SARS-Cov2 yang bersifat chimera (antar spesies). 

Krisis Covid-19 juga memberikan perhatian baru pada masalah kesehatan lingkungan yang timbul dari pembangunan ekonomi karena kelebihan mortalitas dalam krisis tidak terfokus pada daerah asli atau pedesaan tetapi di kota-kota Jawa yang sangat tercemar yang merupakan pusat kekuatan ekonomi dan  elit politik yang mengarahkan pembangunan ekonomi di Indonesia. Pembangunan tidak boleh mengabaikan aspek lingkungan dengan merawat Bumi dan membela kaum miskin dalam kalangan apa pun.

Ensiklik Laudato Si’

Paus Fransiskus saat menyampaikan khotbah selama Malam Sabtu Kudus Paskah, yang diadakan secara tertutup di Basilika Santo Petrus, di Vatikan pada 11 April 2020. ( Foto: REMO CASILLI / POOL / AFP )
Paus Fransiskus. Foto: REMO CASILLI / POOL / AFP

Sedaring ini dilatarbelakangi oleh Nota Pastoral berjudul "Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan" yang terbit tujuh tahun silam (2013) dan Ensiklik Laudato Si’ yang terbit lima tahun lalu dari Paus Fransiskus.

Sementara Ensiklik Laudato Si’ merupakan ajaran dari Paus Fransikus di Vatikan; Nota Pastoral KWI adalah hasil studi para uskup mengenai ekopastoral pada tanggal 5-7 November 2012. Di sana diangkat keprihatinan, bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia terjadi semakin mengkhawatirkan, bahkan hingga hari ini.

Isi Nota Pastoral 2013 Nota Pastoral (NP) 2013 ini dibuka dengan pembahasan mengenai fakta-fakta kerusakan alam (pertambangan, perkebunan, kehutanan, pencemaran tanah, pencemaran udara, pencemaran air, sampah, dan perubahan iklim. Setelah fakta-fakta ditampilkan, umat Katolik diajak untuk melihatnya dalam terang Sabda Allah dan Tradisi (GS 69, PP 34, SRS 34, Surat Gembala KWI 1989, Nota Pastoral "Keadaban Publik" 2004, SAGKI 2005, SAGKI 2010).

Dengan terang Sabda dan Tradisi itu, lalu dirumuskan suatu tanggapan umat beriman yang dicita-citakan, yakni "pertobatan ekologis", "ekopastoral". Hal-hal praktis dihimbau kepada: 1) mereka yang berada di posisi pengambil kebijakan publik; 2) mereka yang bergerak di dunia usaha; 3) seluruh umat. Yang dibicarakan di sini lebih pada kesadaran dan sikap. Jadi, belum menyentuh usaha yang sudah/akan dilaksanakan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN