Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pengamat: Kemacetan Meningkat Jika Tarif Ojek Daring Naik

Gora Kunjana, Senin, 11 Februari 2019 | 13:19 WIB

JAKARTA- Tingkat kemacetan jalan raya berpotensi mengalami peningkatan bila tarif ojek daring (online) naik, sehingga pemerintah mesti sangat berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan terkait hal itu.

"Studi Bappenas menunjukkan bahwa potential lost kemacetan bisa mencapai Rp100 triliun per hari, padahal keberadaan ojek online (daring) juga menjadi solusi," kata Ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal, dalam jumpa pers paparan hasil riset Research Institute of Economic Development (RISED) di Jakarta, Senin.

Hal tersebut karena kenaikan tarif ojek bisa membuat pengguna selama ini beralih kembali menggunakan kendaraan pribadi yang bisa menambah volume kendaraan di jalan raya, sehingga ujung-ujungnya akan menambah kepadatan lalu lintas.

Selain mengurangi kemacetan, menurut Fithra Faisal, keberadaan ojek daring juga bermanfaat dalam mengatasi angka pengangguran, terutama untuk menambah jumlah tenaga kerja untuk mendapatkan upah yang layak.

Bila kebijakan yang ada mendorong naiknya tarif ojek daring, kata dia, maka dicemaskan akan berdampak kepada turunnya penghasilan pengemudi karena semakin berkurangnya pengguna, serta bisa saja terjadi rasionalisasi pengurangan tenaga kerja.

Ketua Tim Peneliti RISED, Rumayya Batubara menyatakan hasil riset yang dilakukan pihaknya terkait dengan dampak sosio-ekonomi terhadap kenaikan tarif ojek daring terhadap berbagai aspek.

Survei ini melibatkan sebanyak 2.001 konsumen pengguna Ojol (ojek online) di 10 provinsi. Survei ini dilakukan untuk menjawab dampak dari berbagai kemungkinan kebijakan terkait Ojol dan respon konsumen terhadapnya.

Hasil survei menyebutkan 45,83% responden menyatakan tarif Ojol yang ada saat ini sudah sesuai. Bahkan 28% responden lainnya mengaku bahwa tarif Ojol saat ini sudah mahal dan sangat mahal.

Jika memang ada kenaikan, ujar hasil riset itu, sebanyak 48,13% responden hanya mau mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp5.000/hari. Ada juga sebanyak 23% responden yang tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan sama sekali.

Hasil RISED menunjukkan saat ini konsumen telah merasakan nyamannya menggunakan layanan Ojol. Seperti tergambar dari hasil survei bahwa 75% responden lebih nyaman menggunakan Ojol dibandingkan moda transportasi lainnya.

Sebesar 83% responden juga menyatakan bahwa Ojol lebih unggul dikarenakan faktor kemudahan dalam bermobilitas, waktu yang fleksibel, dan layanan door-to-door.

Berdasarkan hasil survei juga terlihat bahwa masyarakat menggunakan Ojol dominan untuk pergi ke sekolah, kuliah, dan kantor (72% responden). Sementara dari sisi jarak tempuh 79,21% responden menggunakan ojek daring untuk bertransportasi sejauh 0-10 km per hari.

Fakta menarik lain yang ditemukan dalam survei ini yakni ada 8,85% responden tidak pernah kembali menggunakan kendaraan pribadi setelah adanya transportasi Ojol. Sementara 72,52% responden masih menggunakan kendaraan pribadi, namun frekuensinya hanya 1-10 kali/minggu. (gor/ant)

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA