Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Harga cabai rawit merah di Pasar Induk Cibitung dan Pasar Jatiasih capai Rp 135.000-140.000 per kg. Foto Mikael Niman

Harga cabai rawit merah di Pasar Induk Cibitung dan Pasar Jatiasih capai Rp 135.000-140.000 per kg. Foto Mikael Niman

Pengamat Pangan Universitas Andalas Minta Pasar Nasional Segera Serap Komoditas Cabai

Senin, 23 Agustus 2021 | 13:39 WIB

JAKARTA, investor.id- Kementerian Pertanian (Kemtan) terus berupaya menjaga ketersediaan pangan strategis termasuk cabai terutama di saat pandemi Covid-19. Oleh karena itu sejumlah program dan strategi diarahkan untuk meningkatkan produksi sehingga masyarakat dapat mengakses pangan pokok dengan mudah dan harga yang terjangkau.

Oleh karena itu, pengamat pangan yang juga sekaligus Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas Muhammad Makky meminta pasar-pasar di seluruh Indonesia untuk segera melakukan penyerapan produksi cabai yang tengah memasuki panen raya terlebih di sejumlah daerah harga cabai mengalami penurunan mencapai Rp 15 ribu perk ilogram.

"Harus segera dilakukan penyerapan oleh semua pasar di Indonesia agar harganya kembali normal," ujar Makky, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis, Senin (23/8).

Menurut Makky, Kemtan selaku lembaga negara yang ditugasi meningkatkan produksi dinilai sudah bekerja maksimal, di mana saat ini kebutuhan cabai nasional dalam kondisi melimpah. Namun soal harga, lagi-lagi ia meminta agar kementerian lain seperti Kementerian Perdagangan untuk turun langsung dan melihat kondisi di pasaran.

"Kalau dari aspek perencanaan dan realisasi produksi yang dilakukan Kemtan, khususnya pada program ketahanan pangan saya pikir sudah mencerminkan pemerataan distribusi waktu dan area produksi dan panen," katanya.

Dengan strategi ini, sebenarnya, kata Makky, harga pasar cabai sudah mencapai suatu equilibrium yang berarti sudah menguntungkan petani dan tidak memberatkan ekonomi masyarakat. Walaupun demikian, keseimbangan ini bisa saja berubah karena adanya aktor lain yang ingin mencari keuntungan.

"Misalnya dengan melakukan modifikasi ketersediaan dan keterjangkauan produk di pasaran. Hal ini yang mengakibatkan disparitas harga produk di suatu daerah dengan daerah lainnya, sehingga merugikan petani cabai di suatu lokasi karena harga turun disaat panen, dan merugikan masyarakat didaerah yang tidak menghasilkan cabai atau belum memasuki masa panen akibat kelangkaan produk ini," katanya.

Adapun dalam situasi saat ini, sebaiknya pemerintah bersma-sama melakukan upaya konkret dalam menumbuhkan kapasitas dan mobilitas komoditas cabai agar kembali normal.

"Untuk itu diperlukan sinergi dengan menyiapkan hub-hub bahan pangan di berbagai lokasi, sehingga rencana dan realisasi penyerapan produk pertanian dapat dilakukan tepat waktu, tepat jumlah dan tepat lokasi. Hal ini akan menjadi jaminan bagi petani terkait kestabilan harga jual produk, dan keamanan ketersediaan pangan bagi masyarakat," tutupnya.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kemtan Kuntoro Boga Andri mengatakan, bahwa selama ini jajaran Kemtan terus mendorong produksi cabai agar terus meningkat. Diantaranya dengan membuat kampung horti dan menjalankan program pekarangan pangan lestari.

"Kami juga terus mempersiapakan bibit unggul dan program pendampingan lain kepada petani milenial," tutupnya.

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : PR

BAGIKAN