Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pandu Riono, Epidemiolog UI. Sumber: BSTV

Pandu Riono, Epidemiolog UI. Sumber: BSTV

Penyebab Superspreader adalah Kerumunan dan Abai 3M

Senin, 3 Mei 2021 | 20:51 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id  - Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dr Pandu Riono, menjelaskan superspreader adalah fenomena dimana ada pembawa virus yang menularkan ke banyak orang secara cepat.

Pandu mengatakan superspreader bukan berarti pembawa virus memiliki gejala super, namun disebabkan pembawa virus berada di kerumunan yang mengabaikan protokol kesehatan atau 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Superspreader lebih kepada peristiwa, bukan merujuk kepada orangnya.

“Kata-kata ‘super’ ini kadang membingungkan orang. Superspreader itu adalah fenomena dimana orang pembawa virus bisa menularkan ke banyak orang,” kata Pandu saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (3/5/2021).

Pandu mengatakan superspreader bisa diketahui dari hasil contact tracing. Dia mencontohkan kejadian superspreader yang sempat muncul saat awal pandemi Covid-19 kepada jemaat gereja Bethel di Bandung.

Superspreader bisa terjadi jika ada acara, kerumunan di suatu ruangan, apakah beribadah, rapat, dan lain-lain, tapi orang-orangnya abai kepada protokol kesehatan,” ujarnya.

Menurut Pandu, jika satu orang saja yang membawa virus Covid-19 dalam suatu acara dengan lebih dari 50 orang, ruangan tertutup dan sepanjang hari, maka sangat berpotensi terjadi peristiwa superspreader. “Misalnya kegiatan pengajian, ibadah tarawih, atau di gereja, itu bisa saja,” ujarnya.

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan pihaknya masih terus memonitor peristiwa superspreader dalam kegiatan salat tarawih di Banyumas, Jawa Tengah. Nadia menyebut 59 jemaah yang mengikuti kegiatan itu telah positif Covid-19 dalam waktu singkat.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN