Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Doni Monardo.  Foto: dok BNPB

Doni Monardo. Foto: dok BNPB

Perkuat Tracing, Satgas Covid-19 Minta Kemkes Siapkan 70-80 Ribu Petugas

Kamis, 25 Februari 2021 | 22:47 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id – Setelah berhasil meningkatkan jumlah tes atau pengujian Covid-19, Satgas Penanganan Covid-19 saat ini berupaya untuk meningkatkan upaya pelacakan (tracing). Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)/Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo, meminta Kementerian Kesehatan untuk menyiapkan sekitar 70-80 ribu petugas tracing untuk membantu upaya pemerintah melakukan pelacakan.

Testing itu seperti menangkap harimau di dalam kandang, sedangkan tracing itu menangkap harimau di alam lepas yang mana berbahaya untuk keselamatan masyarakat, ibaratnya orang tanpa gejala (OTG),” kata Doni saat berdisuksi dalam Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) yang digelar secara virtual, Kamis (25/2/2021).

Doni mengatakan salah satu pakar tracing, dr Andani Eka Putra yaitu Kepala Labor Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang, sudah memberi peringatan bahwa tanpa adanya program tracing maka upaya penanganan Covid akan berputar-putar saja sampai kehabisan anggaran.

Itu sebabnya, Doni berharap menteri kesehatan yang baru, Budi Gunadi Sadikin, bisa bergerak cepat untuk memperkuat para petugas tracing dengan memperbanyak pelatihan. Doni menyadari satgas tidak mempunyai kewenangan sampai tingkat daerah.

Satgas, ujarnya, saat ini juga sedang bekerja sama dengan Duta Besar RI di Singapura, Suryopratomo, untuk melakukan tracing dengan alat BluePass dari Singapura. Pemerintah Singapura dinilai telah sukses melakukan tracing dengan alat BluePass, yaitu token yang dipasang dengan velcro seperti jam tangan, berfungsi untuk mengumpulkan data hanya dari kontak dekat perangkat lain. Di Singapura, perangkat pelacakan kontak BluePass dipakai di asrama atau lingkungan kerja pekerja.

Doni mengatakan BluePass pertama kali akan diuji coba di Bintan, Kepulauan Riau, setelah itu rencananya akan diperbanyak untuk perkantoran atau pihak-pihak yang berniat mengurangi biaya testing. BluePass diharapkan bisa mendeteksi secara akurat riwayat kontak seseorang dengan orang lain untuk penelusuran mata rantai infeksi Covid-19.

Tracing langsung dengan teknologi, jadi tidak akan bohong, tapi manusia hari ini ketemu siapa, besok sudah lupa lagi. Ditambah, petugas tracing kita masih sangat terbatas,” kata Doni.

Selain testing dan tracing, Doni mengatakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro menjadi senjata pamungkas untuk melibatkan masyarakat dalam pengurangan angka Covid-19. Dia mengatakan RT/RW menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan PPKM Mikro, termasuk kepala desa diharapkan menegakkan aturan lebih keras untuk mendisiplinkan masyarakat.

“Jika tingkat RT/RW berkurang kasusnya maka otomatis secara nasional juga akan berkurang,” ujarnya.

Doni menambahkan penambahan kasus aktif selalu terjadi setelah liburan panjang. Ketika kasus aktif tinggi, maka jumlah dokter yang terpapar otomatis semakin tinggi. “Angka dokter yang terpapar dan kematian dokter paralel dengan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit. Jadi kalau kita bisa mencegah, pada akhirnya bisa menyelamatkan nyawa dokter,” ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN