Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhammad Nur Rizal (pendiri GSM) menegaskan bahwa sekolah-sekolah pinggiran punya kesempatan untuk berkolaborasi dengan sekolah taraf global dan tidak kalah dengan sekolah favorit. GSM berjuang untuk memangkas lebarnya disparasi kualitas pendidikan dengan membawa sekolah pinggiran ke level dunia dengan kolaborasi dengan sekolah-sekolah Australia.

Muhammad Nur Rizal (pendiri GSM) menegaskan bahwa sekolah-sekolah pinggiran punya kesempatan untuk berkolaborasi dengan sekolah taraf global dan tidak kalah dengan sekolah favorit. GSM berjuang untuk memangkas lebarnya disparasi kualitas pendidikan dengan membawa sekolah pinggiran ke level dunia dengan kolaborasi dengan sekolah-sekolah Australia.

Perlu Pendekatan Baru untuk Membumikan Pancasila di Kalangan Mahasiswa

Imam Suhartadi, Kamis, 7 November 2019 | 22:10 WIB

JAKARTA, Investor.id – Pengamat Pendidikan, Muhammad Nur Rizal mengatakan, perlunya pendekatan tersendiri untuk membumikan pancasila di kalangan mahasiswa milenial.

“Metodenya, strateginya, kanal komunikasinya harus lebih sesuai dengan konteks dan selera anak muda, tidak bisa disampaikan secara konvensional, kaku, dengan ceramah seperti penataran P4 dulu atau dimasukkan ke kurikulum kampus lalu diajarkan dan diuji seperti pada umumnya. Tetapi perlu disimulasikan dalam praktik kehidupan yang bisa mengikuti gaya hidup anak muda tanpa kehilangan ruhnya,” kata Rizal yang merupakan pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) kepada Investor Daily, Jakarta, Kamis (7/11).

Era digital, kata dia, merupakan peluang baru bagi anak muda untuk bisa berkarya membuat film yang diputar di bioskop atau film pendek yang dishare di kanal Youtube atau diaplikasikan di emblem, baju, kaos dan berbagai media kreatif lainnya.

“Nilai-nilai pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan demokrasi, gotong royong dan keadilan sosial dapat wujudkan dalam bentuk cerita kepahlawanan melawan korupsi, penindasan, kesewenangan, ketidakjujuran dan penyakit sosial lainnya,” katanya.

Dia berpendapat metode pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai pancasila ke mahasiwa saat ini harus berubah. Metodenya, kata dia, termasuk kanal salurannya tidak bisa lagi dengan cara lisan atau tekstual, tetapi visual multimedia melibatkan penggunaan teknologi digital yang hyper connected.

Keterlibatan anak milenial dalam pembumian pancasila, sifatnya haruslah memenuhi dua hal dasar, yakni pertama, bersifat persuasif, dimana metode penanamannya lebih mengedepankan gagasan segar yang membius sistem limbics mereka, bukan doktrinal.

Kedua, memanfaatkan jejaring internet yang bersifat hyper connected, sehingga penyebarannya dapat berbentuk podcast, film berdurasi pendek agar mudah disebar melalui youtube, IG, Line, Facebook karena anak milenials saat ini jarang yang memakai televisi apalagi radio.

 

Tantangan Perguruan Tinggi

Era revolusi industri 4.0 adalah era disrupsi teknologi informasi yang ditandai oleh kemajuan teknologi Artificial Intelligence, Machine Learning, BigData, Internet of Things melahirkan pergeseran secara radikal dunia pekerjaan.

Pekerjaan yang bersifat rutin dan analitis yang saat ini jumlahnya besar akan digantikan oleh robot digital, sedangkan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas yang jumlahnya sedikit sulit tergantikan, seperti diutarakan Klaus Schwab.

“Kondisi ini telah mengkoyak tatanan lama menciptakan tatanan kerja baru, yang memaksa universitas untuk mendefinisikan kembali peran mereka dan nilai yang mereka berikan kepada siswa dan masyarakat luas

Dari aspek struktur, universitas di masa depan akan menawarkan siswanya akses untuk belajar secara real time, dari mana saja dan melalui any platform, sehingga siswa akan mengalami pengalaman belajar lebih fleksibel, kurikulum diracik sesuai permintaan siswanya.

Pembelajaran akan disajikan dalam berbagai mode, beralih antara di kampus dan luar kampus, dijalankan secara kombinasi baik online maupun tatap muka. Dosen atau gurunyapun tidak harus hadir di kelas, tapi bisa digantikan oleh teknologi VR (Virtual Reality) atau AR (Augmented reality).

Gelar tidak akan menjadi satu-satunya kualifikasi karena dunia industri lebih memerlukan ketrampilan dan kompetensi untuk menjawab tuntutan link and match.

Revolusi tata kelola dan ekosistem pendidikan perlu dilakukan kampus secara radikal untuk menghindarkan prediksi Prof. Clayton Christensen, bahwa hampir 50% universitas di AS akan mengalami kebangkrutan, jika tidak mendisrupsi dirinya sendiri.

Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif di level global, lanjut dia, menurut Yuval Harari dalam bukunya 21 century lesson, bahwa kesuksesan sangat dipengaruhi pada kemampuan kolaborasi atau interaksi antara manusia dan robot digital.

Pendidikan tinggi di era digital ditujukan untuk membentuk pribadi mandiri yang menggali dirinya sendiri secara terus menerus menemukan kembali potensi serta nilai nilai kemanusiaan yang melekat pada dirinya agar tidak dimonopoli oleh teknologi digital.

“Maka Yuval merekomendasikan pendidikan untuk merangsang empati, ketrampilan mengelola emosi serta kemampuan sosial atau interpersonal, yang dapat dirangsang melalui ilmu terapan bidang psikologi, sejarah, filsafat dan kesenian,” tambahnya.

Sejalan dengan Yuval, Tony Wagner merumuskan pentingnya pendidikan sejak dasar hingga perguruan tinggi mengajarkan dan mengembangkan kompetensi softskills seperti berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif kemampuan memecahkan persoalan yang kompleks, gesit, dan adaptif.

Selain itu, merangsang keingintahuan yang tinggi, enterpreneurship serta fleksibilitas dalam menghadapi berbagai perubahan yang sangat cepat dan tak menentu (ambigu).

Penguasaan konten pengetahuan hanya dibutuhkan sepuluh persen saja. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF), tidak lagi menjadi inti pokok di perguruan tinggi karena akan cepat usang, oleh kehadiran AI, AR/VR hingga berbagai media platform online learning, MOOC hingga social learning platform (youtube, podcast, dll).

“Untuk itu diperlukan perombakan radikal di pendidikan dasar dan tinggi, merevolusi cara kita belajar serta cara kita berpikir, menggeser paradigma lama akan pendidikan yang menyeragamkan menjadi pendidikan yang custimized atau personalisasi dengan mengembangkan minat bakat yang berbeda-beda, serta menanggalkan pengelolaan pendidikan yang lamban, gemuk dan monoton,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA