Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Presiden: Tak Ada Toleransi bagi Aksi Demo Anarkis

Oleh Primus Dorimulu, Selasa, 1 November 2016 | 06:20 WIB

JAKARTA – Menghadapi rencana aksi demo sejumlah komponen masyarakat, 4 November 2016, Presiden Jokowi menyatakan, pemerintah tidak akan menoleransi aksi unjuk rasa anarkis. Aksi unjuk rasa untuk menyatakan pendapat adalah hal biasa dalam demokrasi. Namun, sebagai kepala negara, ia tetap mengantisipasi dengan serius demi menjaga stabilitas keamanan dan keutuhan bangsa.

 

Ya, silakan demo. Ini Negara demokrasi. Tapi, aksi unjuk rasa harus ada batasnya, tidak menabrak rambu-rambu hukum yang berlaku dan etika bermasyarakat. Kalau aksi demo menjadi anarkis, tidak akan ada toleransi. Pemerintah akan bertindak tegas,” ujar Presiden Jokowi dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi (pemred) media massa di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (31/10).

 

Menanggapi pertanyaan para pemred tentang suasana batinnya menjelang aksi demo 4 November 2016, Presiden menyatakan, pihaknya merasa biasabiasa saja. Namun, melihat berbagai ancaman yang disebarkan lewat media sosial (medsos), pihaknya sudah meminta aparat keamanan dan pertahanan untuk meningkatkan kesiagaan.

 

“Saya sudah berdiskusi dengan Polri, TNI, dan BIN tentang situasi keamanan saat ini dan beberapa bulan ke depan. Mereka sudah petakan keadaan dan siap menjaga keamanan,” ungkap Jokowi.

 

Pada pertemuan dengan sejumlah pemred akhir pekan lalu, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, aksi unjuk rasa sudah diboncengi berbagai kepentingan politik. Ada sebagian masyarakat yang benar-benar tersinggung oleh pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Namun, ada pihak yang mempolitisasi peristiwa Pulau Seribu untuk tujuan politik, baik untuk menjegal keikutsertaan Ahok pada pilgub Februari 2017 maupun untuk melakukan makar.

 

Perbedaan politik, kata Presiden, hendaknya tidak merusak suasana menjelang pilkada 2017. Lebih dari itu, perbedaan politik tidak boleh meruntuhkan persatuan yang sudah dibangun dengan susah payah dalam sejarah panjang. “Di sini, peran elite agama dan elite politik besar sekali,” jelas Jokowi.

 

Untuk menyampaikan informasi yang benar, Presiden Jokowi berencana untuk bertemu para tokoh agama. Hari ini (Selasa, 1/11), Presiden akan bertemu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia yakin, penjelasan yang benar akan mendinginkan suasana. Komunikasi dengan para elite politik terus dijalin. Pada Senin (31/10) kemarin, Presiden menemui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor. “Kami bertemu sekitar dua jam. Suasana politik dan keamanan hanya salah satu topik saja, dan itu hanya dibicarakan singkat. Kami lebih banyak berdiskusi masalah pertahanan negara,” papar Jokowi.

 

Presiden mengakui, peran sosmed dalam penyebaran berita sangat besar. Tapi, ia menyayangkan rendahnya etika dan tanggung jawab para pengguna sosmed. Media sosmed sudah berkembang menjadi ajang untuk menyebarkan kebencian dan provokasi. Para pengguna medsos umumnya tak mengindahkan aspek etika.

 

“Lewat medsos, fakta yang biasa-biasa itu diolah sedemikian rupa, sehingga isinya serem dan membangkitkan amarah masyarakat. Tapi, saya pikir, masyarakat kita sudah cerdas dan tidak suka saling mengejek,” ujar Presiden.

 

Bertemu Prabowo

Sementara itu, usai bertemu Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediamannya di Hambalang, Bogor, kemarin, Presiden Jokowi mengungkapkan, dalam pertemuan yang penuh keakraban itu, keduanya membahas berbagai persoalan kebangsaan.

 

Jokowi mengaku kedatangannya ke kediaman Prabowo merupakan upayanya memenuhi janji yang pernah disampaikan kepada mantan rivalnya dalam pilpres 2014 itu. Presiden membantah kedatangannya di kediaman Prabowo terkait antisipasi demonstrasi pada 4 November 2016.

 

“Kami bicara banyak hal yang makro tentang bangsa dan kebangsaan kita, makro politik kita, beliau banyak sekali memberikan masukan. Pemerintah kita sangat menghargai apa yang disampaikan Pak Prabowo,” kata Presiden.

 

Usai pertemuan selama dua jam yang diwarnai suasana santai serta diselingi jamuan makan nasi goreng dan berkuda itu, Presiden mengimbau seluruh masyarakat, termasuk para tokoh agama dan tokoh politik, untuk ikut mendinginkan suasana dan memberikan kesejukan.

 

“Saya kira kita di dalam sampai tertawa bareng. Rivalitas ada saat pilpres, itulah demokrasi. Setelah itu, bersama-sama bahumembahu membangun Negara dari segala sisi,” ujar dia.

 

Jokowi mencontohkan bagaimana rivalitasnya dengan Prabowo hanya ketika Pilpres 2014. “Setelah itu, kita samasama bahu-membahu membangun negara dari segala sisi. Saya kira ini yang ingin kita sampaikan. Pada 2019 bisa saja ada rivalitas lagi, tapi setelah itu bahu-membahu lagi,” tegas dia.

 

Sementara itu, Prabowo menyatakan, dirinya mendapat kehormatan besar atas kunjungan Jokowi. Prabowo juga memastikan hubungannya dengan Jokowi sangat baik. “Pernah rival, beliau baik, saya baik, komunikasi itu baik. Saya kira itu bagus dalam budaya bangsa,” kata Prabowo yang berdiri di samping Jokowi.

 

Dia juga menjelaskan alas an partainya yang kerap mengkritik pemerintah. “Kita boleh beda pendapat, kadang-kadang tajam. Saya terang-terangan, kadang kita keras karena tanggung jawab kepada konstituen. Tapi di ujungnya sama, NKRI, kita ingin menjaga. Dari awal saya sampaikan, saya yakin beliau patriot untuk bangsa,” ujar dia.

 

Menurut Prabowo, dalam hal tertentu, pertemuan harus digelar. “Beliau minta pandangan saya, saya sampaikan. Saya siap setiap saat diminta pemerintah untuk memberi masukan demi kepentingan bangsa,” tandas dia.

 

Prabowo menambahkan, ada beberapa masukan kepada Jokowi, khususnya menyangkut masalah keamanan nasional. “Beliau kan sebagai panglima tertinggi. Saya wajib menyampaikan pandangan-pandangan saya. Alhamdulillah beliau terbuka. Saya sampaikan komitmen saya, setiap saat dibutuhkan, saya siap beri masukan. Kita bahu membahu, dari manapun kita berasal, ini negara kita,” kata dia.

 

Ketua DPR Ade Komarudin menilai pertemuan Presiden Jokowi dan Prabowo dapat mendinginkan suasana politik, karena kedua tokoh tersebut sempat berkompetisi pada Pilpres 2014.

 

Dia menjelaskan, pertemuan kedua tokoh itu menandakan bahwa dua orang yang pernah bersaing dalam pilpres saja bisa duduk bersama memikirkan negeri ini, apalagi yang lain.

 

“Selain mendinginkan suasana, pertemuan itu akan mengarahkan semua orang untuk berpikir konstruktif bagi Indonesia,” tutur dia.

 

Wakil Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi juga mengapresiasi pertemuan Presiden Jokowi dan Prabowo. “Ini bagus dalam konteks pendewasaan demokrasi di Indonesia. Pertemuan dua tokoh sentral Pilpres 2014 ini merupakan tradisi bagus dan menjadikan pendidikan politik bagi rakyat Indonesia,” ucap dia.

 

Baidowi mengatakan, pertemuan itu menegaskan bahwa setiap perselisihan politik harus dianggap selesai ketika perhelatan pesta demokrasi usai. “Kami yakin pertemuan dua tokoh tersebut bukan sekadar agenda seremonial, tapi akan melahirkan komitmen bersama untuk kemajuan bangsa,” ujarnya. (is/b1)

BAGIKAN