Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Ki - ka) - Yohanes Irwan Cahya Nugraha (Pelapor) dan Dadang Danie (Pengacara) pada saat konferensi pers di Yogya, Selasa (16/11/2021)

(Ki - ka) - Yohanes Irwan Cahya Nugraha (Pelapor) dan Dadang Danie (Pengacara) pada saat konferensi pers di Yogya, Selasa (16/11/2021)

PRESISI Diuji di Sragen, Kapolri Diminta Turun Beri Atensi

Selasa, 16 November 2021 | 19:51 WIB
Investor Daily

YOGYAKARTA, investor.id -  PRESISI ( Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang menjadi visi Polri diuji di Polres Sragen. Usaha mencari keadilan selama dua tahun sejak 2 Agustus 2019 dengan melaporkan perkara pencurian aset dan perusakan aset ke Polda Jawa Tengah  sia-sia.

Yohanes Irwan Cahya Nugraha dipaksa menghentikan langkahnya setelah Polres Sragen mengeluarkan surat penghentian penyelidikan dengan alasan tidak jelas. “Gregetan” karena merasa dipermainkan, pengusaha muda asal Yogyakarta ini meminta Kapolri Jenderal Pol. Drs Listyo Sigit Prabowo MSi untuk turun memberikan atensi atas kasusnya.

“Kepada siapa lagi kami harus mengadu dan berteriak jika tidak kepada Kapolri sebagai pimpinan tertinggi polisi. Pernyataan beliau di televisi itulah yang mendorong kami untuk berani bersuara. Usaha keras kami untuk mendapatkan keadilan akhirnya terhempas begitu saja begitu dikeluarkan Surat Penetapan Penghentian Penyelidikan (SP2 Lid) dengan Nomor SK.Lidik/235.E/IX/2021/Reskrim oleh Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi SH SIK MSi dengan alasan  tidak memenuhi unsur pasal yang dipersangkakan yakni Pasal 362 KUHP,” tegas Kuasa Hukum Irwan, Dadang Danie P SH dari Danie Purnama & Partners di Yogyakarta, Selasa (16/11/2021).

(Ki - ka) - Yohanes Irwan Cahya Nugraha (Pelapor) dan Dadang Danie (Pengacara) pada saat konferensi pers di Yogya, Selasa (16/11/2021)
(Ki - ka) - Yohanes Irwan Cahya Nugraha (Pelapor) dan Dadang Danie (Pengacara) pada saat konferensi pers di Yogya, Selasa (16/11/2021)

Cerita berawal, diungkapkan Dadang, ketika kliennya melaporkan kasusnya ke Polda Jateng pada 2 Agustus 2019 dengan Laporan Polisi No: LP/B/281/VIII/2019/Jateng/Dit Reskrimum. Laporan ini menyusul terjadinya tindak pencurian dan perusakan pada 27 Juli 2019 sekitar pukul 10.00 WIB pada saat Yohanes Irwan menunggu anaknya yang sedang kritis di RS Pratama Jogyakarta. Pencurian dan perusakan itu dilaporkan oleh Welly (mandor PT Flash) yang mengatakan datang segerombolan orang dengan menggunakan kendaraan/truk masuk ke lokasi Stock Fields di dusun Ngrejeng Desa Jambeyan Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen.

“Gerombolan yang tidak dikenal itu kemudian melakukan pembongkaran terhadap mesin stone crusher dan melakukan pengrusakan terhadap beberapa bangunan dan pencurian perlengkapan stone crusher milik Yohanes Irwan.  Tidak lama kemudian, seseorang bernama Ergy Farel Anantya mengaku mendapat kuasa penarikan stone crusher dari Kusno Harsianto padahal Irwan sama sekali tidak mengenal," ujar Dadang Danie P SH, pengacara yang juga berasal dari Yogyakarta.

Ditambahkan oleh Dadang, seseorang yang bernama Ergy Farel Anantya sempat menunjukkan beberapa dokumen, namun ada beberapa kejanggalan dalam dokumen yang ditunjukkan. Dalam dokumen perjanjian itu disebutkan seseorang yang bernama Kusno Harsianto mengadakan perjanjian sewa alat stone crusher dengan orang yang bernama Anggara B Santoso dan alat tersebut akan digunakan di Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, dalam Surat Kuasa Penarikan tertulis lokasi alat ada di desa Jambeyan, Kec Sambirejo Kab. Sragen jelas sekali, sebenarnya itu dua alat yang berbeda mengingat jarak yang cukup jauh Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar dengan desa Jambeyan, Kec Sambirejo Kab. Sragen

Masih menurut Dadang, yang menjadi pertanyaan adalah  ketika peristiwa itu terjadi terlihat ada anggota kepolisian Sektor Sambirejo dan Kepolisian Resort Sragen juga hadir. Yohanes segera melaporkan peristiwa ini ke Polda Jateng, setelah niatnya untuk melaporkan kasus tersebut melalui salah satu saksi dan kades Sukorejo ditolak oleh Polsek Sambirejo dan Polres Sragen. Informasi dari  penduduk sekitar lokasi Stock Fields di dusun Ngrejeng Desa Jambeyan Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen, perusakan terhadap beberapa bangunan dan pencurian perlengkapan stone crusher masih berlangsung selama 2 (dua) yang menyebabkan Yohanes Irwan menderita kerugian lebih dari Rp 15 milliar.

“Meskipun saya tidak ingin berprasangka buruk, penghentian penyelidikan ini patut dicurigai sebagai adanya permainan. Semua alat bukti lengkap, foto terjadinya pencurian dan pengrusakan, lebih dari 20 saksi sudah diperiksa, salinan 64 lembar nota / invoice sebagai bukti kepemilikan perlengkapan stone crusher sudah diserahkan pada kepolisian dan berjalannya penyelidikan sudah 2 tahun lamanya. Dengan alasan tidak memenuhi unsur pasal yang dipersangkakan yakni Pasal 362 KUHP lalu Kapolres Sragen menghentikan penyelidikan. Lha selama dua tahun ini apa saja yang telah dikerjakan ?” ujar Dadang Danie P SH, yang juga Ketua DPC Wates Peradi Pergerakan.

Ditambahkan oleh Dadang, pihaknya sebenarnya sudah menerima dengan satu pasal saja yang dikenakan yang termuat dalam laporan itu. Apabila melihat uraian peristiwa yang dialami Yohanes Irwan, mestinya pasal yang lebih tepat tidak hanya Pasal 362 KUHP tetapi juga ditambah jo Pasal 363 KUHP jo pasal 406 KUHP jo pasal 55 KUHP jo Pasal 167 KUHP jo pasal 170 KUHP, dan nyata peristiwa ini adalah Tindak Pidana Pencurian dan Pengrusakan yang dilakukan oleh segerombolan orang.

Oleh karena itu, Dadang mendorong Kapolri untuk mencari sebab utama ditolaknya laporan Yohanes Irwan pada 27 Juli 2019 ditolak tidak hanya oleh Polsek Sambirejo tetapi juga oleh Polres Sragen. Tentu kasus ini tidak berdiri sendiri dan serta merta dihentikan penyelidikannya. Pada 27 September 2021, Polres Sragen menghentikan penyelidikan setelah kasus digulirkan selama 2 Tahun 1 bulan 27 hari. Dadang menegaskan, pihaknya merasa senang jika kasusnya diambil alih ke Mabes Polri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : PR

BAGIKAN