Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Acara   Inclusive Sustainable Economic Development (ISED) Dialogue Forum 2019 di Jakarta, Kamis (19/9).

Acara   Inclusive Sustainable Economic Development (ISED) Dialogue Forum 2019 di Jakarta, Kamis (19/9).

RI -Jerman Genjot Peningkatan Kompetensi SDM Melalui Proyek ISED

Imam Suhartadi, Kamis, 19 September 2019 | 23:00 WIB

JAKARTA - Indonesia telah memasuki era digitalisasi dan Industri 4.0. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan Making Industry 4.0 suatu strategi bangsa untuk menuju era baru. Namun tantangan yang dihadapi adalah suplay dan demand tenaga kerja yang kompeten dalam menghadapi revoluasi digital dan industri 4.0 tersebut.

Demikian dikatakan Istasius Angger Anindito (Angger), Deputi Direktur Pariwisata Kementrian PPN - Bappenas dalam acara  Inclusive Sustainable Economic Development (ISED) Dialogue Forum 2019 di Jakarta, Kamis (19/9).

Angger menyoroti kebutuhan akan tenaga kerja dan sistem pendidikan pelatihan teknis dan kejuruan atau yang lebih dikenal dengan TVET (Technical and Vocational Education and Training) agar tenaga kerja Indonesia lebih siap dan ‘dipersenjatai’ dengan baik guna melahirkan keterampilan–keterampilan yang dibutuhkan agar dapat bertahan di era digitalisasi dan Industri 4.0.

"Training for trainers saat ini sangat penting tetapi training harus sesuai dengan demand industri, traning yang aplikatif. Maka lembaga pendidikan (sekolah kejuruan) atau swasta penyelanggara pelatihan, harus menyiapkan materi yang sesuai kebutuhan industri supaya suplay dan demand yang sesuai," jelas Angger.

Selain itu, strategi pelatihan yang tepat sasaran akan membuka peluang bagi tenaga kerja terutama di industri manufaktur untuk mendapatkan keterampilan–keterampilan masa kini atau up to date yang akan diaplikasikan dengan teknologi terkini. 

"Karena transformasi struktural Indonesia menjadi negara industri yang berdayasaing tinggi, memerlukan program peningkatan keterampilan untuk dapat memenuhi tuntutan di industri  baik up skilling maupun melalui reformasi keterampilan," katanya.

Untuk itu, lanjut Angger, Bappenas bersama dengan proyek ISED berkomitmen untuk menjadi salah satu focal point dan berkontribusi terhadap implementasi era Industri 4.0. 

"Melalui proyek ini, kami akan mengaplikasikan pendekatan terpadu dalam mempromosikan peluang kerja yang diterapkan melalui perluasan pasokan terhadap orientasi permintaan TVET. Hal ini kami lalui dengan bekerja sama dengan mitra di sektor swasta melalui promosi model bisnis berkelanjutan dan inklusif," paparnya.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo dalam roadmap "Making Indonesia 4.0" menargetkan pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2 persen per tahun. Sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik menjadi 6-7 persen pada periode 2018-2030. Sementara Industri manufaktur diperkirakan akan berkontribusi sebesar 21-26 persen terhadap PDB pada 2030.

Adapun Proyek ISED yang bertujuan untuk mempromosikan peluang kerja, merupakan bagian dari kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Jerman, yang dimulai sejak 2017 hingga 2021.

Tujuan proyek adalah untuk memperkuat kapasitas sektor swasta dan publik guna mempromosikan peluang kerja inklusif dan berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan menjadi sektor pertama proyek ISED dan berlokasi di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sektor kedua yang dipilih adalah manufaktur dengan fokus pada industri makanan dan minuman.

Tantangan Kurikulum

Dari sudut pandang sektor swasta, Manajer HR PT Nutrifood Indonesia, Veronica AD Shinta mengakui dampak positif dari kerjasama pelatihan dalam proyek ISED. Namun dia mengingatkan tentang materi training yang aplikatif, sesuai kebutuhan industri.

Menurut dia, hampir semua pelaku industri manufaktur telah mengadopsi teknologi dalam mendukung pertumbuhan produktifitas perusahaan. Namun setiap industri memiliki mesin dengan merek berbeda, bahkan bahasa program yang berbeda dalam mengoperasikan mesin produksi. 

"Jadi ketika kita terlibat dalam kerjasama proyek ISED, kendati tenaga ahli kami sudah memilki background mesin, brand produk yang dibawa trainer dalam materi training itu berbeda dengan yang kami miliki. Mereknya beda, bahasa program juga beda. Untungnya mereka dengan logika yang ada cepat belajar dan membuat replikasi training yang berbeda untuk tenaga kerja kami yang lain," jelas Shinta.

Secara umum, pelaku industri manufaktur  yang terlibat dalam program ISED menyambut baik kerjasama tersebut. Training Development Supervisor PT Niramas Utama (Inaco), Fifi Novalita Sari misalnya mengatakan, seluruh program yang ditawarkan berjalan seiring dengan apa yang dibutuhkan oleh Inaco. Selain itu kami juga memperoleh nilai tambah dan menjadi lebih produktif secara umum.

Inaco sendiri saat ini telah menjalankan produksi secara semi otomatis untuk dua pabriknya. Misalnya untuk salah satu pabrik di Bekasi, sebelum melakukan revolusi digital, pekerjaam manual saat peak season membutuhkan sekitar 600 tenaga kerja. Kini, dengan menggunakan mesin otomatis, Inaco berhasil melakukan efisiensi dengan hanya mempekerjakan 200 tenaga kerja.

"Dampak ke kapasitas produkai di atas 50 persen pertumbuhannya. Tentu dengan mengikuti program pelatihan ketrampilan ISED, kami lebih produktif lagi," katanya.

Pariwisata Berkelanjutan

Sementara itu, General Manager Golden Palace Lombok, Ernanda Agung Dewobroto menambahkan pihaknya sangat mengapresiasi initiatif-inisiatif yang dilakukan oleh proyek ISED dan sangat antusias untuk turut berpartisipasi. 

"Di Lombok, khususnya di industri jasa dan perhotelan, kami melihat perlunya peningkatan skill set, baik secara teknis dan juga soft-skill terutama untuk menangani e-commerse dan digital marketing. Hal ini diperlukan agar kami dapat menjadi lebih kompetitif di era Industri 4.0 ini," katanya di kesempatan yang sama.

Terkait hal itu, Angger mengatakan, aplikasi 4.0 di pariwisata memang tidak sebatas e-commerce, dan digital marketing, tetapi juga terkait dengan akses investasi dan permodalan.

"Tantangan mewujudkan 10 destinasi pariwisata baru itu adalah menghadirkan invetasi besar. Tetapi jangan lupa bahwa pariwisata itu erat dengan pembangunan manusia. Maka perlu persiapkan SDM yang mumpuni guna menangkap peluang pasar pariwisata yang besar. Supaya sustainable dan inklusif," tegas Angger.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA