Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga di Kelurahan Kramat di swab test massif. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Warga di Kelurahan Kramat di swab test massif. Foto: SP/Joanito De Saojoao

RI Kaji Imbauan WHO soal Tes Usap

Investor Daily, Selasa, 30 Juni 2020 | 06:13 WIB

JAKARTA, investor.id – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan imbauan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait pasien sembuh Covid-19 tidak perlu dilakukan tes usap atau swab dua kali, akan dikaji dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Sebelumnya WHO menyaratkan, untuk dinyatakan sembuh, pasien harus melewati dua kali tes usap dengan hasil negatif.

“Sejumlah pemberitahuan dari WHO pun perlu kita lakukan berbagai macam kajian sesuai dengan kondisi yang ada di negara kita,” kata Doni Monardo seusai mengikuti ratas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (29/6).

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Sumber: BSTV
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Sumber: BSTV

Diungkapkannya, imbauan WHO kerap kali berubah-ubah. Misalnya, WHO pernah menyatakan orang yang tidak memiliki gejala (OTG) sangat kecil kemungkinannya melakukan penularan terhadap orang yang sehat. Namun faktanya, di Indonesia, lebih dari 70 persen, bahkan ada di beberapa daerah yang mendekati 90 persen, OTG ternyata positif Covid-19.

“Apabila seseorang yang sudah positif Covid ini tidak menunjukkan gejala mungkin karena imunitas tubuhnya bagus. Tetapi dampaknya adalah ketika berdekatan dengan mereka yang punya komorbid, mereka yang memiliki penyakit penyerta, atau yang rentan seperti yang lanjut usia, maka kelompok OTG tadi sangat mungkin menulari mereka yang punya komorbid dan mungkin juga mereka yang rentan. Dampaknya sangat membahayakan,” jelas Doni.

Bahkan kalau melihat data terakhir, lanjutnya, hampir semua kasus kematian pasien positif Covid-19, sekitar 85 persen lebih adalah mereka yang memiliki komorbid hipertensi, diabet, ginjal, kanker, asma, TBC dan penyakit lainnya.

“Oleh karenanya kelompok rentan ini selalu kita ingatkan agar berhati-hati untuk melakukan kegiatan di luar rumah,” ujar Doni Monardo.

Namun imbauan tersebut akhirnya diperbaiki WHO. Bila dulu OTG dinyatakan kecil kemungkinan menulari, kini OTG memiliki kemungkinan besar menulari orang yang sehat.

“Nah akhirnya itu diperbaiki, bahwa WHO telah merevisi pernyataan mereka. Pernyataan WHO berubah- ubah terus,” ungkap Doni Monardo.

Maka ketika pernyataan WHO keluar terkait OTG tidak berbahaya, maka pemerintah tidak serta merta membenarkan pernyataan tersebut. Pemerintah menilai justru OTG yang paling berbahaya dalam penularan Covid-19. OTG bisa menjadi silent killer bila ternyata positif Covid-19.

“ Ternyata bener, diralat lagi sama WHO. Apabila WHO salah memberikan penjelasan dan kita ikuti mentah- mentah dia punya petunjuk, maka dampaknya kita pasti akan terjadi penularan yang lebih banyak lagi,” terang Doni .

Pada kesempatan itu, Doni memberikan penjelasan terkait penolakan masyarakat terhadap pelaksanaan rapid test. Diakuinya, pelaksanaan rapid test tidak bisa dilakukan dengan tiba-tiba di pasar atau permukiman penduduk tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu.

Dijelaskannya, dalam ratas, Jokowi menekankan pentingnya sosialiasi kepada masyarakat yang akan melakukan rapid test.

“Jadi tidak boleh ya sekonyong-konyong dilakukan rapid test seperti halnya di pasar misalnya atau di pemukiman penduduk tertentu,” ujar Doni. (b1)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN