Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

SARJONO SUTRISNO, Memaknai Hidup Lewat Film

Jumat, 2 Agustus 2013 | 15:08 WIB
Oleh Mardiana Makmun (redaksi@investor.id)

Ada banyak hal yang bisa menjadi media bagi seseorang untuk belajar dan memaknai hidup. Bagi Sarjono Sutrisno, bisnis film yang belum lama digelutinya, sekaligus menjadi tempatnya belajar banyak tentang kehidupan dan memaknainya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

“Saya bikin flm untuk entertainment. Memang gak harus selalu ada pesan, tetapi ada realitas yang bisa disampaikan dari film itu dan bisa jadi pelajaran bagi kita,” kata Sarjono kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Dibanding sineas lain, Sarjono memang terbilang pendatang baru di industri film nasional. Sekembalinya dari kuliah di Kanada pada 2002, dia tak langsung masuk ke dunia film, tetapi justru terjun ke bidang periklanan. Tapi, hobi sebagai penikmat dan menonton film mengusiknya. Secara otodidak, dia pun pelajarinya.

Dan, tahun 2009 menjadi tahun yang baru baginya. Pada tahun itu, ia beranikan diri memproduseri film komedi berjudul Jinx lewat perusahaan film yang didirikannya, Skylar Picture. Dalam beberapa tahun saja, bisnisnya berkembang menjadi Aletta Pictures, Aletta Concerts Skylar TV, Stromotion, D’Color Films, Trilogy Live, Skylar Comics, dan Aletta Int Talent, yang tergabung dalam induk perusahaan bernama Stro World.

Sementara itu, Skylar sudah memproduksi enam film layar lebar, yaitu Jinx, Setan Facebook, Tebus, Surat Kecil untuk Tuhan, The Witness, Hasduk Berpola, dan dua film lagi yang sedang dalam proses produksi. Skylar mulai menarik perhatian public Indonesia ketika film Surat Kecil untuk Tuhan meraih nominasi Piala Citra untuk aktor dan aktris terbaik yang dibintangi Alex Komang.

“Film ini dibuat supaya seluruh Indonesia tahu dan belajar tentang arti hidup ini dari seorang anak berumur 13 tahun, yang pengidap Rhabdomyosarcoma (kanker jaringan lunak),” ungkap lelaki kelahiran tahun 1975 ini.

Film lainnya, Hasduk Berpola, mengangkat kisah anak desa yang tak mampu membeli perlengkapan Pramuka. Dengan kreatif, sang kakak membuat hasduk dari seprei. Tentu saja, hasduk itu berpola. Yang terbaru, film Guardian masih diproduksi. Film yang kabarnya berbiaya Rp 12 miliar dan penuh dengan aksi tembak-tembakan dan efek visual layaknya film Hollywood tersebut mengangkat cerita soal pengorbanan seorang ibu untuk anaknya.

Film ini dibintangi aktor papan atas, seperti Tio Pakusadewo hingga bintang Hollywood, Sarah Carter, yang bermain di Final Destination 2, The Vow, dan Falling Skies. “Semua orang pasti sayang anaknya dan orang akan nyambung dengan situasi ini,” ujar Sarjono memberikan alasan, mengapa belakangan gemar mengangkat film bertema anak-anak.

Berbagi untuk Anak-anak
Ayah dari Jaythaneal Skylar Sutrisno dan Jadrianna Aletta Sutrisno itu memang suka dan mencintai anak-anak. Di sela waktunya, Sarjono suka mengajak putra dan putrinya melakoni hobinya bermain jetski di Ancol. Di luar itu, Sarjono hobi dengan snowboard, fotografi, motor, dan mobil.

Kasih sayang itu tak hanya dicurahkan kepada putra-putrinya. Melalui Yayasan Maria Monique Last Wish, Sarjono kerap memberikan perhatian kepada anak-anak yang kurang beruntung. Belum lama ini, bersama Sarah Carter dan tim dari Skylar Picture, dia membagikan hadiah bagi anak-anak nelayan yatim Muara Angke di bawah jembatan layang Kemayoran. Dia juga memberikan kesempatan anak-anak tersebut menonton syuting Sarah Carter. “Saya hanya ingin berbagi kepada anak-anak itu,” kata dia.

Kembali ke film. Tak hanya di Indonesia, kiprah Sarjono di film juga merambah Filipina. Di sana, ia memproduseri film The Witness pada 2012. The Witness dibuat atas kerja sama Skylar Pictures dengan GMA Films Dan Network, yang dibintangi aktris terkenal asal Philipina, Gwen Zamora. The Witness menjadi langkahnya masuk ke bisnis film di kawasan Asia. “Saya bikin film untuk menghibur orang. Tapi, kalau film yang saya buat di luar negeri bisa mengharumkan nama Indonesia, ya akan lebih baik,” ujarnya.

Selain film, Sarjono juga tengah memproduksi komik dengan karakter superhero bernama Volt. Alasannya, Indonesia tak punya superhero yang terkenal. Karakter ini terinspirasi dari seorang anak miskin yang di rumahnya tak mampu memasang listrik. Komik itu pun tengah disiapkan untuk diangkat menjadi film layar lebar. “Volt tengah preproduksi. Semoga syuting bisa dilakukan awal tahun depan,” imbuh Sarjono. (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN