Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas memakamkan jenasah pasien Covid-19 di TPU Rorotan, Jakarta Utara, . Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Petugas memakamkan jenasah pasien Covid-19 di TPU Rorotan, Jakarta Utara, . Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Satgas: Kematian Saat Isoman Tinggi karena Minim Pemantauan

Minggu, 1 Agustus 2021 | 04:47 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id   - Angka kematian Covid-19 di Indonesia yang sangat tinggi masih menjadi sorotan. Ketua Bidang Relawan Satgas Covid-19 Nasional, Andre Rahadian, mengakui data kematian Covid-19 di Indonesia disumbang dari kasus kematian pasien isolasi mandiri (isoman) yang tidak mendapatkan pemantauan medis.

“Kita lihat tngkat kematian dalam isolasi mandiri cukup tinggi kalau tidak ada pemantauan. Jadi adanya tempat isolasi terpusat adalah solusi sementara untuk mengurangi beban di rumah sakit (RS) tapi tetap memberikan pelayanan kesehatan masyarakat,” kata Andre dalam webinar Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) bertajuk “Bagaimana Strategi Penanganan Covid-19 Gelombang ke-2”, Sabtu (31/7/2021).

Andre tidak menyebutkan angka pasien yang meninggal dalam isolasi mandiri. Namun, menurutnya, Satgas Covid-19 berusaha menambah tempat isolasi terpusat di daerah demi meminimalisasi kematian pasien isoman.

Satgas juga telah berbicara dengan berbagai kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan dunia usaha agar secepatnya membangun tempat-tempat isolasi terpusat atau terpantau.

“Kita tahu selama pandemi, banyak hotel serta tempat pendidikan dan pelatihan baik milik pemerintah provinsi atau kementerian yang tidak digunakan. Ini tempat ideal bagi masyarakat yang tidak bisa dirawat di rumah sendiri baik karena fasilitas maupun akses kepada fasilitas kesehatan apabila terjadi perburukan,” ujar Andre.

Andre mengatakan pembangunan pusat isolasi terpusat harus melibatkan berbagai komponen masyarakat termasuk sosialisasi dibantu relawan. Tempat isolasi terpusat juga membutuhkan ketersediaan tenaga kesehatan setidaknya satu atau dua orang dokter.

“Diperlukan tenaga kesehatan, perawat, dirotasi misalnya dengan teman-teman mahasiswa tingkat akhir, baik Fakultas Keperawatan atau Fakultas Kedokteran untuk bisa berpartisipasi memantau operasional dari tempat-tempat isolasi terpusat ini,” kata Andre.

Andre mengatakan pembangunan pusat isolasi terpusat menjadi cara efektif untuk mengurangi tekanan kepada fasilitas kesehatan. Apalagi, berdasarkan data kasus Covid-19 per 25 Juli 2021, hampir semua provinsi di Indonesia masih mengalami tren kenaikan kasus positif.

“Ada 29 provinsi yang mengalami tren kenaikan kasus aktif, sedangkan 5 provinsi mengalami tren penurunan kasus aktif,” ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN