Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
dr Alexander Ginting (Foto: Kemenkes)

dr Alexander Ginting (Foto: Kemenkes)

Satgas: Waspadai Indonesia Menuju Gelombang Keempat Covid-19

Selasa, 28 Juni 2022 | 07:35 WIB
Hendro Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Satgas Penanganan Covid-19 meminta masyarakat luas untuk mewaspadai Indonesia yang menuju gelombang keempat karena kasus belakangan ini terus menaik.

Kepala Sub Bidang Dukungan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, Brigjen TNI (Purn) dr Alexander Kaliaga Ginting menyebut saat ini Indonesia dalam tahap perjalanan. Puncak gelombang keempat bisa saja terjadi bila saat positivity rate-nya naik hingga diatas 5-10%.

Advertisement

"Kalau nanti benar-benar naik, ini menjadi gelombang keempat bagi Indonesia. Namun untuk saat ini, kita baru melewati pandemi ketiga. Pada fase tiga ini, kasus Indonesia sempat melandai, namun sayangnya awal Juni terjadi kenaikan kasus kembali," katanya kepada Beritasatu.com, Senin (27/6/2022).

Menurutnya, indikator memasuki gelombang baru Covid-19 yang baru adalah positivity rate melewati standar aman yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yakni diatas 5% secara nasional, angka positif harian sudah diatas 20 ribuan, dan BOR rumah sakit diatas 5%. Termasuk Covid-19 sudah ada di berbagai daerah.

Baca juga: Kemenaker Siapkan Sembilan Langkah Strategis Hadapi Megatrend

"Sekarang ini kita berada di PPKM level 1 dan level 2 hanya beberapa daerah. Jadi belum bisa kita katakan mencapai puncak gelombang keempat, tetapi memang terjadi lonjakan kasus di beberapa daerah setelah kita melandai lebih kurang 2 bulan pasca lebaran. Ini yang sekarang terjadi dan dikawal Satgas Covid-19 agar tidak semakin naik," tegasnya.

Jadi kenaikan ini terjadi selain karena adanya pelonggaran mobilitas, juga akibat adanya subvarian Omicron baru BA.4 dan BA.5. Ini hampir sama dengan hadirnya subvarian BA.1 dan BA.2 pada Februari-Maret 2022.

Kenaikan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di beberapa negara juga terjadi seperti Benua Amerika, Eropa dan Asia lainnya. Namun sumbernya tetap saja yakni dari Afrika Selatan asal subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini. Virus bergerak terus dan bahkan Omicron sekarang di Indonesia sudah mengambil alih posisinya Delta.

Baca juga: 54 UMKM Mojokerto Binaan Pertamina Raup Keuntungan

Saat ditanyakan berapa lama situasi itu bisa terjadi sampai keadaan dapat disebut melandai lagi, hal itu tergantung persiapan masyarakat mau melakukan pengetatan. Kalau seandainya bisa siap, maka akan bisa cepat. Hal ini tergantung mobilitas seberapa besar kemampuan.

"Kalau kemarin kita PPKM bulan Juli 2021 dan Oktober 2021 sudah mulai melandai. Hal ini tergantung persiapan kita mau melakukan pengetatan. Kita bisa berkaca pada positivity rate sebelumnya yakni pada saat puncak gelombang 1, 2 dan 3 itu semua berada diatas 5 % waktu itu," ucap Alexander.

Puncak Gelombang Covid-19

Jadi awal tahun 2021 tepatnya Januari-Februari adalah puncak gelombang Covid-19 pertama di Indonesia. Lalu gelombang kedua itu terjadi bulan Juli dan keluar pada September 2021. Kemudian disusul gelombang ketiga di Januari-Februari 2022. Lalu turun lagi pada Maret. April hingga Mei 2022. Sayangnya saat Juni ini, kasus menaik kembali saat mobilitas semakin ramai, namun belum mencapai puncak gelombang.

Baca juga: Pembentukan DOB Papua Wujud Konkret Pembangunan Indonesia Sentris

Puncaknya diperkirakan terjadi pada Juli mendatang yakni selama 4 sampai 8 minggu dengan adanya ditemukan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 pada awal Juni. Hal ini sama saat ditemukannya BA1 dan BA.2 pada Desember lalu naiknya dan menjadi gelombang ketiga Januari -Februari 2022 lalu. Begitu juga saat varian Delta dilaporkan pada April-Mei dan puncak gelombangnya terjadi di Juli 2021.

"Jadi setiap ada varian baru dan peningkatan mobilitas, itu selalu adanya lonjakan kasus, hanya saja lonjakan kasusnya tidak terkendali seperti di Juli 2021, setengah terkendali di Januari-Februari 2021, dan kemudian terkendali di bulan Februari-Maret 2022 tahun ini dengan varian Omicron," urainya.

Namun Satgas Covid-19 meyakini bahwa Indonesia sudah belajar dari kasus-kasus dan gelombang sebelumnya, sehingga untuk kesiapan kapasitas medis sudah cukup diperhitungkan. Hal ini termasuk juga dengan obat-obatan dan peralatan medis lainnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN