Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Otto Hasibuan

Otto Hasibuan

Sengketa Pewaris Hasnur Group Diproses di Polda Metro Jaya

Rabu, 15 Juli 2020 | 22:57 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA,investor.id - Para pewaris tahta Hasnur Group kini tengah dibelit masalah warisan yang diperkirakan senilai Rp4 triliun.

Ini lantaran terjadi pengalihan saham beberapa perusahaan yakni, PT Hasnur Jaya Utama, PT Barito Putra, dan PT Hasnur Jaya International menjadi milik anak-anak dari istri pertama tanpa melibatkan anak-anak dari istri-istri Abdussamad lainnya.

Otto Hasibuan Kuasa Hukum Yulia Asmarawaty HAS dan Herry Aswandi HAS, anak-anak kandung Abdussamad dari istri yang lain membenarkan adanya laporan ke Polda Metro terkait dugaan penggelapan dan pemalsuan surat tersebut.

"Ya, sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 16 Maret 2020, dengan nomor: LP/1768/III/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ," jelas Otto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (14/7).

Dalam salinan resume kasus yang diterima terungkap, Abdussamad Sulaiman menikah dengan Herawati pada 17 Oktober 1973,  secara resmi sesuai hukum agama dan negara. Dari pernikahan tersebut lahir dua anak yakni, Yulia Asmarawaty HAS dan Herry Aswandi HAS. Namun, pada 5 Juli 1977, keduanya memutuskan bercerai.

Pada 14 Juni 2015, Abdussamad meninggal dunia. "Secara hukum, sebagai anak yang lahir dari pernikahan yang resmi, tentu kedua anak tersebut merupakan ahli waris yang sah," terang Otto.

Sepeninggalan Abdussamad, harta peninggalan dikuasai oleh 7 orang yakni, Rachmadi HAS, Jayanti Sari, Nila Susanti Zulfikar, Hasnuryadi Sulaiman, Hasnuryani, Yuni Abdi Nur HAS, dan Zainal Hadi HAS. Sementara Yulia dan Herry tidak memiliki akses langsung atas seluruh harta peninggalan Abdussamad. 

Tidak itu saja, terjadi peralihan harta peninggalan Abdussamad yang tanpa sepengetahuan dan persetujuan Ahli Waris lainnya yakni saham di beberapa perusahaan.

Total nilai saham milik Abdussamad sebesar Rp175,9 milyar dari 3 perusahaan yakni PT Hasnur Jaya Utama, PT Barito Putera, dan PT Hasnur Jaya Internasional telah dialihkan menjadi milik anak-anak istri pertama. Itu belum terhitung sejumlah saham milik Abdussamad di beberapa perusahaan lainnya.

"Sejauh ini, pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah pihak mulai dari Yulia dan Herry. Seharusnya kalau ada pengalihan saham harus disetujui oleh semua ahli waris, bukan sepihak," tegas Otto.

Dijelaskannya, Yulia dan Herry merupakan ahli waris yang sah karena kedua orangtuanya menikah secara resmi.

"Kami belum tahu, apakah ke-7 anak dari yang katanya istri pertama, juga ahli waris yang sah dengan bukti-bukti otentik. Masih perlu diuji," ujar Otto.

Kata Otto, kalaupun ke-7 anak itu ahli waris yang sah, maka pembagiannya akan disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan, baik hukum nasional maupun hukum Islam. Yulia dan Herry punya hak yang sama dan tidak boleh diabaikan.

"Kasus pengalihan saham tanpa ijin seluruh ahli waris jelas sudah melanggar hukum. Bahkan kalau pun ada harta-harta peninggalan yang lain harus diberikan kepada klien kami, sebagai ahli waris yang sah," serunya.

Selain melaporkan ke polisi, Otto mengaku, tengah mempersiapkan gugatan perdata. "Jadi, tinggal dibuktikan ke-7 anak istri pertama itu benar-benar ahli waris yang sah atau tidak," pungkasnya

 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN