Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Enggartiasto Lukita. Foto: IST

Enggartiasto Lukita. Foto: IST

Stimulus Ekonomi Diharapkan Bisa Cegah Kontraksi Ekonomi

Sabtu, 15 Agustus 2020 | 11:00 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor,id - Berbagai strategi yang disiapkan pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19 merupakan dorongan positif. Stimulus ekonomi diharapkan bisa mendorong pasar dan pelaku usaha untuk kembali beraktivitas.

Di sisi lain, kebijakan bantuan sosial dan gaji ke-13 adalah hal yang pas untuk membangkitkan daya beli masyarakat. Sayangnya, dalam penerapan sering terjadi proses birokrasi yang berbelit belit, sehingga banyak pihak merasa tak puas.

Mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, sejalan dengan langkah yang diambil oleh Pemerintah, perlu ada keseimbanga kebijakan untuk memuaskan para pelaku usaha dan pelaku pasar.

Ia menyebutkan berbagai stimulus dan bantuan perlu pengawasan ketat. Sebagai contoh, anggaran sebesar Rp 30 triliun yang disalurkan Himbara untuk memberikan kredit kepada pelaku usaha sebaiknya dipantau bersama OJK, BI dan Kemenkeu dan Kementerian BUMN. Agar investasi kembali masuk dengan lancar, perlu diberikan stimulus seperti pembebasan pajak selama 5 tahun, sementara dalam persoalan ekspor dan impor agar perlu penerapan barter dengan negara lain untuk produk tertentu, tujuannya agar kedua negara bisa sama sama bangkit dari pandemi.

Masyarakat kelas menengah hingga ke atas diminta untuk dapat mendorong konsumsi agar berkontribusi membantu pemerintah menahan resesi.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dan Founder Center of Reform of Economic (Core) Indoensia Hendri Saparini mengatakan kontribusi konsumsi sebesar 58% terhadap PDB masih cukup tinggi.“ Porsi pengeluaran 40% penduduk terbawah sekitar 17% sementara untuk penduduk tertinggi atau kelas atas mencapai 45%,” ujar dia dalam acara “ Webminar Ancaman Resesi Ekonomi, di Jakarta, Sabtu (15/8). Jika masyarakat dan pelaku usaha tidak didorong dengan kebijakan maka sangat berat, ia berharap pemerintah membuat kebijakan dan program program yang mampu mendorong  konsumsi seluruh lapisan masyarakat Indonesia agar pertumbuhan ekonomi tak berkontraksi

Editor : Komang (komang_99@yahoo.com )

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN