Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Universitas Prasetiya Mulya menggagas terselenggaranya  ajang  The 2019 International Conference on Culture, Technology, and Tourism (CTT)

Universitas Prasetiya Mulya menggagas terselenggaranya ajang The 2019 International Conference on Culture, Technology, and Tourism (CTT)

The 2019 International Conference on Culture, Technology, and Tourism (CTT)

Teknologi dan Budaya Perlu Bersinergi untuk Pariwisata Berkelanjutan

Rabu, 18 Desember 2019 | 19:32 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id — Keragaman budaya Indonesia merupakan otensi bagi kemajuan di bidang pariwisata. Di sisi lain, teknologi berkembang amat pesat dan telah merasuk dalam setiap sendi kehidupan masyarakat dan dianggap sebagai disruptor yang tak terelakan. Namun, kedua hal tersebut bisa bersinergi untuk memajukan pariwisata yang berkelanjutan.

Demikian salah satu benang merah dalam ajang The 2019 International Conference on Culture, Technology, and Tourism (CTT) yang digagas oleh Universitas Prasetiya Mulya di Jakarta, belum lama ini. Acara ini dihadiri para perwakilan pemerintah, akademisi, serta praktisi untuk mendiskusikan langkah yang dibutuhkan dalam mengintegrasikan budaya dan teknologi demi terwujudnya pariwisata berkelanjutan.

“Setiap tahun jutaan orang di dunia pergi berwisata. Pertanyaannya, apakah kegiatan tersebut menjadikan dunia lebih baik. Pariwisata merupakan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia meningkatkan ekonomi dunia secara signifikan. Di sisi lain, industri ini berkontribusi pada berbagai kerusakan lingkungan. Pemikiran yang kritis mutlak kita butuhkan dalam membangun pariwisata. Jangan sampai euforia ada saat ini merusak masa depan anak-cucu kita,” kata Prof. Dr. Djisman Simandjuntak, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, saat membuka konferensi.

Tak hanya kerusakan lingkungan, tantangan lain yang dihadapi oleh dunia pariwisata adalah perubahan pola perilaku konsumen. Sufintri Rahayu (PR Director of Traveloka) menyampaikan, bahwa saat ini, berwisata dianggap kesempatan mencari pengalaman dan orang-orang rela membayar berapa pun untuk itu.

Pernyataan tersebut sejalan dengan paparan Prof. Marianna Sigala dari University of South Australia, bahwa manusia kini memiliki persepsi baru tentang ‘konsumsi’. Ia tak lagi mencari pengalaman kognitif saja, melainkan pengalaman spiritual.

Pemaparan yang menarik dan inspiratif juga disampaikan para pembicara yang lain, di antaranya dari Wiratno, (Dirjen KLHK). Dalam tajuk “Tangkahan from Logging to Eco-Logging”, Wiratno menceritakan transformasi positif yang terkait dengan pariwisata, yakni bagaimana para pelaku illegal lodging akhirnya berubah menjadi aktivis ecotourism (pariwisata yang menjaga kelestarian lingkungan).

CTT berhasil menghimpun 67 abstrak dan atau makalah hasil penelitian dari dalam dan luar negeri, yang 40 di antaranya dipaparkan secara lisan pada sesi track presentation. Pada sesi tersebut, penelitian yang dilakukan Crisientia Pranata Raharja, Hoo Leony Gracia Budi Saputra dari Universitas Kristen Petra dinobatkan sebagai Best of The Best Paper.

Berdasarkan penjabaran para peneliti, dapat disimpulkan bahwa implementasi teknologi di industri pariwisata mutlak dibutuhkan. Sebab, teknologi dapat mempermudah pelaku industri untuk membaca perilaku pasar, mengurangi biaya operasional, serta menciptakan pengalaman baru untuk para konsumen.

Dalam kegiatan Konferensi Internasional CTT 2019 ini, Universitas Prasetiya Mulya juga memprakarsai GARUDA, Global Research on Tourism Development and Advancement sebagai jurnal asosiasi kepariwisataan dengan dewan editor dan reviewer dari Asosiasi Hildiktipari.

Prof. Agus W. Soehadi, Ph.D selaku Dekan Sekolah Bisnis Universitas Prasetiya Mulya sekaligus Chief Editor dari Jurnal Garuda memberikan sambutan positif atas diluncurkannya jurnal ini. Sebagai ketua dewan pengarah Konferensi Internasional CTT 2019, dia menyampaikan bahwa keberlanjutan CTT setiap tahunnya sebagai wadah dari hasil karya akademisi di bidang pariwisata yang berbasis riset.


 


 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN