Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Virtual media briefing Anline bertajuk Membangun Hari yang Lebih Baik dan Sehat dengan Rutin Aktivitas Fisik, Rabu (7/4).

Virtual media briefing Anline bertajuk Membangun Hari yang Lebih Baik dan Sehat dengan Rutin Aktivitas Fisik, Rabu (7/4).

Tingkat Kebugaran Erat Kaitannya dengan Aktivitas Fisik

Rabu, 7 April 2021 | 18:56 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  – Tingkat kebugaran tubuh erat kaitannya dengan aktivitas fisik. Sayangnya, selama pandemi ini malah banyak yang malas melakukan aktivitas fisik dengan alasan hanya di rumah saja. Dengan demikian berpotensi mengalami penurunan kebugaran tubuh sehingga menjadi rentan terhadap penyakit, tak terkecuali terjangkit virus Covid-19.

Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI dr Riskiyana Sukandhi Putra Mkes mengatakan menurut WHO, 1 dari 4 orang dewasa dan 3 dari 4 remaja umur 11-17 tahun tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang dianjurkan. Sementara di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, sebanyak 33,5% masyarakat kurang aktivitas fisik.

Hasil pengukuran kebugaran jasmani yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada ASN, masyarakat umum dan Calon Jemaah Haji menunjukkan bahwa sekitar 45% tingkat kebugaran jasmani yang masih kurang dan sebesar 44 % dalam kategori berat badan overweight dan obesitas.

“Tingkat kebugaran erat kaitannya dengan aktivitas fisik karena orang yang cukup melakukan aktivitas fisik maka tingkat kebugarannya akan baik,” ungkapnya disela virtual media briefing Anline bertajuk Membangun Hari yang Lebih Baik dan Sehat dengan Rutin Aktivitas Fisik', Rabu (7/4).

dr Riskiyana menambahkan dalam situasi pandemi Covid-19 masyarakat dianjurkan menjalani aktivitas dari rumah saja, hal ini memicu gaya hidup sedentari dan kurang aktivitas fisik. Kita tahu bahwa gaya hidup sedentari berisiko menyebabkan penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya. Meskipun dalam situasi pandemi, perilaku hidup sehat aktif harus tetap dilakukan karena investasi kesehatan jantung, paru dan termasuk juga kesehatan tulang, sendi, otot sejak usia dini penting untuk kesejahteraan secara menyeluruh di setiap tahapan kehidupan.

“Untuk melawan gaya hidup sedentari, disarankan untuk melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari 3 sampai 5 kali per minggu. Aktivitas fisik untuk melawan gaya hidup sedentari dapat dilakukan di mana saja, termasuk saat di rumah saja selama pandemi,” paparnya.

dr Bagus Putu Putra Suryana SpPD-KR, Ketua Umum Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi), mengatakan dalam penelitian lain menjelaskan bahwa masyarakat yang berolahraga rata-rata 92 menit per minggu atau 15 menit sehari, memiliki penurunan risiko penyebab kematian secara keseluruhan sebesar 14%, dan memiliki harapan hidup 3 tahun lebih lama.

Sementara bagi individu yang tidak aktif memiliki peningkatan risiko kematian sebesar 17%. Saat melakukan aktivitas fisik atau berolahraga, jantung akan terpacu untuk membawa oksigen dan nutrisi, serta meningkatkan sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk ke sendi dan tulang.

Apabila sirkulasi darah lancar, lanjut dia, pembagian oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh lebih optimal dan mempengaruhi kesehatan secara menyeluruh, demi mencapai salah satu pilar utama dari 'Sehat, Aktif dan Bahagia' untuk mendapatkan kualitas hidup lebih baik. Seseorang harus aktif melakukan aktivitas fisik sejak dini serta konsumsi asupan kalsium dan vitamin D yang cukup, sebagai investasi agar tulang cukup padat dan tetap optimal hingga hari tua.

“Kurang bergerak (sedentari), kurang latihan fisik, atau olahraga tidak teratur juga akan mengurangi tekanan pada tulang sehingga mengurangi pembentukan tulang baru dan berakibat meningkatkan risiko tulang keropos atau osteoporosis,” tambahnya.

Sementara itu, Marketing Manager Anlene Fonterra Brands Indonesia Rhesya Agustine menambahkan selama lebih dari 20 tahun, Anlene bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Perosi selalu aktif mengedukasi masyarakat tentang kesehatan tulang, sendi, dan otot, termasuk kampanye ‘Ayo Indonesia Bergerak’ yang diluncurkan tahun 2018 untuk mendukung program pemerintah melawan sedentari. Sejak awal pandemi, pihaknya selalu mendampingi masyarakat untuk tetap aktif bergerak di rumah melalui serangkaian kegiatan virtual, baik untuk dewasa maupun lansia.

“Kegiatan tersebut secara konsisten hingga kini, untuk mengedukasi pentingnya investasi tulang, sendi dan otot sejak dini untuk mendapatkan kesehatan secara menyeluruh hingga hari tua,” tutupnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN