Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo. SUmber: BSTV

Presiden Joko Widodo. SUmber: BSTV

PRESIDEN JOKO WIDODO:

UU KPK Perlu Penyempurnaan agar Makin Efektif Berantas Korupsi

Gora Kunjana, Jumat, 13 September 2019 | 14:47 WIB

JAKARTA, investor.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa pemerintah mendukung revisi UU KPK secara terbatas agar langkah-langkah pemberantasan korupsi bisa makin efektif. Presiden juga meminta semua pihak menjaga bersama agar KPK tetap lebih kuat dibandingkan lembaga lain dalam pemberantasan korupsi.

Demikian dikemukakan Presiden Joko Widodo dalam konferensi persnya di Istana Negara, Jumat (13/9/2019), yang disiarkan langsung di TV nasional.

“Kita tahu, Undang-Undang KPK telah berusia 17 tahun. Perlu adanya penyempurnaan secara terbatas sehingga pemberantasan korupsi bisa makin efektif. Sekali lagi, kita jaga agar KPK tetap lebih kuat dibandingkan lembaga lain dalam pemberantasan korupsi,” katanya.

Presiden menjelaskan bahwa RUU KPK yang sudah dibahas di DPR ini adalah RUU usul inisiatif DPR. Pemerintah, kata Presiden, telah mempelajari dan mengikuti secara serius seluruh masukan-masukan yang diberikan dari masyarakat, dari para pegiat antikorupsi, para dosen, dan para mahasiswa, dan juga masukan dari para tokoh-tokoh bangsa.

Karena itu, jelas Presiden, ketika ada inisiatif DPR untuk mengajukan RUU KPK, maka tugas pemerintah adalah meresponsnya, menyiapkan DIM (Daftar Isian Masalah), dan menugaskan menteri untuk mewakili Presiden dalam pembahasan dengan DPR.

Presiden menyatakan dirinya telah memberikan arahan kepada Menteri Hukum dan HAM dan Menpan RB agar menyampaikan sikap dan pandangan pemerintah terkait substansi-substansi di revisi Undang-Undang KPK yang diinisiatifi oleh DPR.

Intinya, tandas Presiden, KPK harus tetap memegang peran sentral dalam pemberantasan korupsi. Karena itu KPK harus didukung dengan kewenangan dan kekuatan yang memadai dan harus lebih kuat dibandingkan dengan lembaga-lembaga lain dalam pemberantasan korupsi.

Selanjutnya Presiden menyampaikan beberapa poin ketidaksetujuan pemerintah terhadap beberapa substansi RUU inisiatif DPR ini yang berpotensi mengurangi efektivitas tugas KPK.

Yang pertama, katanya, Pemerintah tidak setuju jika KPK harus memperoleh izin dari pihak eksternal untuk melakukan penyadapan. Misalnya harus izin ke pengadilan, tidak. KPK cukup memperoleh izin internal dari Dewan Pengawas untuk menjaga kerahasiaan.

Yang kedua, lanjut Presiden, pemerintah juga tidak setuju penyelidik dan penyidik KPK hanya berasal dari kepolisian dan kejaksaan saja. Penyelidik dan penyidik KPK bisa juga berasal dari unsur ASN (Aparatur Sipil Negara) yang diangkat dari pegawai KPK maupun instansi pemerintah lainnya. Tentu saja harus melalui prosedur rekrutmen yang benar.

Yang ketiga, masih kata Presiden, pemerintah juga tidak setuju bahwa KPK wajib berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung dalam penuntutan. Karena sistem penuntutan yang berjalan saat ini sudah baik sehingga tidak perlu diubah lagi.

Yang keempat, pemerintah juga tidak setuju perihal pengelolaan LHKPN yang dikeluarkan dari KPK diberikan kepada kementerian atau lembaga lain.

“Tidak, saya tidak setuju. Saya minta LHKPN tetap diurus oleh KPK sebagaimana yang telah berjalan selama ini,” tandasnya.

Terhadap beberapa isu lain, Presiden Joko Widodo, juga memberikan catatan dan mempunyai pandangan yang berbeda dengan substansi yang diusulkan oleh DPR.

Perihal keberadaan Dewan Pengawas misalnya, pemerintah menilai hal ini memang perlu karena semua lembaga negara: Presiden, MA, DPR bekerja dalam prinsip checks and balances, saling mengawasi.

Hal ini dibutuhkan untuk meminimalisir potensi penyalahgunaan kewenangan. “Jadi misalnya kayak Presiden, Presiden saja diawasi. Diperiksa BPK dan juga diawasi oleh DPR. Jadi kalau ada Dewan Pengawas saya kira itu sesuatu yang juga wajar dalam proses tata kelola yang baik,” katanya.

Oleh karena itu, tegas Jokowi, di internal KPK pun diperlukan adanya Dewan Pengawas, Tapi, anggota Dewan Pengawas ini diambil dari tokoh masyarakat, dari akademisi, ataupun pegiat antikorupsi. Bukan dari politisi, bukan dari birokrat, maupun dari aparat penegak hukum aktif.

Kepala Negara menambahkan, pengangkatan anggota Dewan Pengawas ini dilakukan oleh Presiden dan dijaring melalui panitia seleksi. Ia ingin memastikan tersedia waktu transisi yang memadai untuk menjamin KPK tetap dapat menjalankan kewenangannya sebelum terbentuknya Dewan Pengawas.

Gedung KPK. Foto ilustrasi: pemilu-news.com
Gedung KPK. Foto ilustrasi: pemilu-news.com

Tak ada kompromi terhadap korupsi

Lebih lanjut Presiden Jokowi menyoroti beberapa hal penting lainnya. Yakni, pertama terhadap keberadaan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Pemerintah berpandangan SP3 juga diperlukan sebab penegakan hukum juga harus tetap menjamin prinsip-prins perlindungan HAM (Hak Asasi Manusia) dan juga untuk memberikan kepastian hukum.

“Jika RUU inisiatif DPR memberikan batas waktu maksimal 1 tahun dalam pemberian SP3, kami meminta ditingkatkan menjadi 2 tahun supaya memberi waktu yang memadai bagi KPK. Yang penting ada kewenangan KPK untuk memberikan SP3 yang bisa digunakan ataupun tidak digunakan,” ujarnya.

Kemudian, terkait pegawai KPK. Presiden menegaskan bahwa pegawai KPK adalah aparatur sipil negara, yaitu PNS atau P3K. Hal ini juga terjadi di lembaga-lembaga lainnya yang mandiri seperti MA, MK, dan juga lembaga-lembaga independen lainnya seperti KPU, Bawaslu.

“Tapi saya menekankan agar implementasinya perlu masa transisi yang memadai dan dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Penyelidik dan penyidik KPK yang ada saat ini masih tetap menjabat dan tentunya mengikuti proses transisi menjadi ASN,” katanya.

Sebagai penutup, Presiden berharap semua pihak bisa membicarakan isu-isu ini dengan jernih, dengan objektif, tanpa prasangka-prasangka yang berlebihan.

“Saya tidak ada kompromi dalam pemberantasan korupsi karena korupsi memang musuh kita bersama. Dan saya ingin KPK mempunyai peran sentral dalam pemberantasan korupsi di negara kita yang mempunyai kewenangan lebih kuat dibandingkan lembaga-lembaga lain dalam pemberantasan korupsi,” demikian Presiden Joko Widodo.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA