Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo mendapat suntikan vaksinasi Covid-19 perdana, Rabu (13/1/2021). Sumber: BSTV

Presiden Joko Widodo mendapat suntikan vaksinasi Covid-19 perdana, Rabu (13/1/2021). Sumber: BSTV

Vaksin Cegah Penyakit Serang Kondisi Tubuh

Kamis, 14 Januari 2021 | 05:44 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Vaksinasi merupakan suatu cara untuk mencegah suatu penyakit menyerang tubuh. Sebab, vaksinasi akan membuat tubuh menghasilkan antibodi yang berfungsi mencegah apabila ada virus yang masuk sehingga tubuh menjadi tidak sakit.

Apabila vaksinasi dilaksanakan terhadap banyak orang, penyakit tersebut diharapkan akan punah. Kondisi seperti ini yang terjadi pada masa lalu, yaitu banyak kasus penyakit yang telah punah karena hadirnya vaksin.

“Contohnya saja, penyakit cacar, bukan cacar air. Penyakit ini sudah tidak dijumpai lagi saat ini dan hanya ada dalam text book saja. Untuk itu, kita berharap dengan cara ini juga bisa mengatasi masalah yang tengah di hadapi seluruh dunia, yaitu Covid-19,” ungkap dokter spesialis penyakit dalam Siloam Hospitals Lippo Village Dr dr Benyamin Lukito SpPD di sela sesi live instagram Siloam Hospitals Group yang dipandu oleh Patient Experience Group Head Siloam Hospitals, Amelia Hendra, Rabu (13/1).

Sesi live instagram Siloam Hospitals Group yang dipandu oleh Patient Experience Group Head Siloam Hospitals Amelia Hendra, Rabu (13/1).
Sesi live instagram Siloam Hospitals Group yang dipandu oleh Patient Experience Group Head Siloam Hospitals Amelia Hendra, Rabu (13/1).

Dokter yang akrab disapa dr Ben ini menjelaskan, orang membuat vaksin dengan berbagai macam cara, dan terdapat teknik yang baku dan sudah lama terjadi, yaitu dengan mematikan virus tersebut.

Ketika virus itu mati, kemudian partikel-partikel dari virus tersebut, terutama adalah dari protein- protein yang hancur. Kemudian, menurut dr Ben, salah satu protein S atau Spike yang gambarnya ada tonjolan ini akan menjadi dopping ke dalam dan membajak sel tubuh dengan memanfaatkan materi di dalam sel tersebut merusak ke tubuh.

Dengan menyuntikan protein yang sudah mati ke virusnya itu, tubuh akan membentuk antibodi. “Antobodi ini yang penting akan membuat kita kebal, kekebalan ini dibutuhkan untuk mengatasi jangan sampai ada virus yang hidup masuk dalam tubuh dan langsung diserang oleh antbodi, sehingga batal sakit dan tetap sehat,” papar dr Ben.

Pada prinsipnya, kata dr Ben, vaksinasi bisa diberikan kepada semua orang. Hanya ada satu kontra indikasi sehingga menyebabkan tidak boleh diberikan, ya itu apabila orang tersebut aler gi pada bahan pembuatan vaksin.

Namun, pada saat ini memang tidak semua orang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin. Bahkan, kebijakan ini di setiap negara akan sangat berbeda-beda, baik pendekatan dan rekomendasinya.

Hal tersebut sangat tergantung pada jenis vaksin yang tersedia, serta penilaian dari penilaian dari para ahli di bidang masing-masing, seperti ahli penyakit dalam, anak, kebidananm ahli imunologi, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut dr Ben menyebutkan bagi yang sudah terinfeksi Covid-19, orang tersebut tidak termasuk dalam penerima vaksin. Ini karena jumlah vaksin yang masih belum mencukupi sehingga mereka tidak masuk dalam prioritas mendapatkan vaksin.

Vaksin tersebut lebih direkomendasikan kepada orang yang belum mempunyai kekebalan tubuh akan virus tersebut. Sedangkan bagi yang sudah per nah terinfeksi diketahui tu buh nya sudah mempunyai an ti bodi terhadap virus tersebut.

Sedangkan soal batasan usia, dia memaparkan usia 18 tahun ke bawah dan 60 tahun ke atas masih belum direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin.

“Mengingat penelitian dari vaksin yang tersedia saat ini, masih belum ada penelitian yang melibatkan dua kelompok usia tersebut,” kata dr Ben.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN