Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Pemerintah untuk Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers, Kamis, 6 Mei 2021.

Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Pemerintah untuk Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers, Kamis, 6 Mei 2021.

Varian Baru Covid-19 Bisa Turunkan Efektivitas Vaksin dan Akurasi PCR

Jumat, 7 Mei 2021 | 08:00 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id  - Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Pemerintah untuk Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, mengatakan Covid-19 terus mengalami perkembangan sehingga muncul mutasi virus di berbagai negara. WIku menyebut varian baru bisa menurunkan efektivitas vaksin karena umumnya vaksin dikembangkan dengan jenis virus yang spesifik.

Selain itu, varian baru juga berpotensi menurunkan akurasi pemeriksaan PCR karena lokasi/hotspot berbeda-beda.

“Dengan adanya karakteristik virus Covid-19, kita tidak bisa berserah diri dan tidak melakukan apa-apa. Apabila mutasi virus dibiarkan, maka semakin banyak varian Covid-19 yang muncul dan berpotensi berdampak buruk terhadap upaya pengendalian Covid-19,” kata Wiku dalam keterangan pers di kantor presiden, Kamis (6/5/2021).

Wiku menjelaskan mutasi Covid-19 bisa disebabkan berbagai hal termasuk penyebab internal seperti kesalahan saat perbanyakan materi genetik atau kondisi eksternal seperti lingkungan, pemanasan global, cahaya, paparan, bahan kimia, dan lainnya.

“Pada prinsipnya virus Covid-19 adalah salah satu bentuk virus RNA yang secara alamiah jumlah kejadian mutasi lebih banyak daripada virus DNA sehingga sangat wajar kemunculan Covid-19 berkembang sangat cepat saat ini,” kata Wiku.

Wiku mengatakan WHO telah mengklasifikasikan jenis mutasi virus berdasarkan karakteristik yang ditimbulkan akibat mutasi tersebut. Tiga mutasi ditetapkan sebagai variant of concern yaitu B117 (Inggris), B1351 (Afrika Selatan), dan B11281 atau P1 (Brasil).

Selain variant of concern, ada pula yang disebut variant of interest salah satunya adalah varian dari India B1617, yaitu virus yang mengalami mutasi genetik namun perubahan karakteristiknya masih belum bisa dipastikan.

Menurut Wiku, pemerintah juga semakin mewaspadai kasus penularan Covid-19 lintas negara. Dilihat dari kewarganegaraannya, lima sumber kasus positif warga negara asing (WNA) terbanyak adalah India, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Jepang, dan Turki.

“Virus tidak mengenal batas teritorial dan setiap negara saling terhubung. Oleh karena itu, salah satu upaya mengendalikan virus khususnya virus yang sudah pasti meningkatkan kemampuan infeksi adalah mengatur mobilitas pendatang luar negeri,” ujarnya.

Berdasarkan data terbaru dari kantor kesehatan pelabuhan Kementerian Kesehatan, tercatat 10 negara asal kedangan dengan kasus positif terbanyak dalam periode 28 Desember 2020-3 Mei 2021. Ke-10 negara itu adalah Arab Saudi, UEA, Turki, Malaysia, Qatar, Mesir, Jepang, Singapura, Kongo, dan Lebanon.

Wiku mengatakan salah satu distribusi varian B1617 asal India telah menyentuh seluruh benua di dunia. Hal itu menjadi dasar perlunya adaptasi terhadap berbagai kebijakan mobilitas termasuk perjalanan luar negeri.

“Jika mobilitas pelaku perjalanan tidak dikendalikan maka akan menyebabkan kenaikan kasus Covid-19 yang mengandung varian-varian tersebut," katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN